Balai pendopo rumah joglo kayu Aki Warso diselimuti udara dingin pegunungan pada pukul setengah empat Kamis sore.
Meja jati panjang di tengah pendopo dipenuhi cangkir teh poci dan piring penganan wajit ketan yang nyaris tak tersentuh. Uwa Sukarna duduk di kursi kepala meja mengenakan kemeja batik sogan dan peci hitam, meletakkan tongkat kayu berkepala peraknya bersandar di tepi meja.
Paman Darman duduk di sisi kanan bersama Bibi Endang, sementara Reza dan Valine duduk berdampingan di sisi kiri. Dua sesepuh kerabat Mahendra dari Dusun Giriharja duduk di ujung meja sebagai saksi musyawarah keluarga.
Valine merapikan lipatan rok kain panjangnya, menaruh map jepit hitam di atas pahanya di bawah bibir meja jati.
Uwa Sukarna berdeham pelan, membuka musyawarah dengan suara serak yang berwibawa.
"Sampurasun," buka Uwa Sukarna. "Sesuai permohonan Darman minggu kamari, dinten ieu—tepat genep puluh hiji dinten saatos amanat Akang Warso mimiti dijalankeun—urang kumpul di pendopo ieu. Darman hoyong nepikeun sababaraha hal ngeunaan kelayakan operasional sareng jenengan saé kulawarga Mahendra. Mangga, Darman, caritakeun sacara jentre, tapi ulah aya fitnah."
(Sampurasun. Sesuai permohonan Darman minggu lalu, hari ini—tepat enam puluh satu hari setelah amanat Kang Warso mulai dijalankan—kita berkumpul di pendopo ini. Darman ingin menyampaikan beberapa hal tentang kelayakan operasional dan nama baik keluarga Mahendra. Silakan, Darman, ceritakan secara jelas, tapi jangan ada fitnah.)
Paman Darman mengangguk santun, meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja. Sikap tubuhnya tenang, tanpa nada tinggi atau kemarahan yang dibuat-buat.
"Hatur nuhun, Uwa," sambut Darman halus. (Terima kasih, Uwa.) "Saya tidak berniat membuat kegaduhan di rumah peninggalan almarhum paman kita. Namun sebagai orang yang dua belas tahun mengurus Kawung Sari dari lumpur sampai seperti sekarang, saya memikul tanggung jawab moral kepada para penderes, kerabat, dan mitra dagang di luar."
Darman membuka amplop cokelat di samping cangkirnya, mengeluarkan beberapa lembar kertas fotokopi hasil cetakan digital, lalu membagikannya ke hadapan Uwa Sukarna, para sesepuh Giriharja, serta meletakkan satu salinan tepat di depan Reza dan Valine.
Mata Valine menyapu tajam kertas fotokopi tersebut.
Di bagian atas terpampang tajuk buletin pers mahasiswa independen Jakarta tertanggal 18 September 2023:
("PENGGEREBEKAN WISMA MELATI: DUA MAHASISWA TINGKAT AKHIR DIJATUHI SANKSI SKORSING SATU SEMESTER ATAS PELANGGARAN ETIK BERAT.")
Di paragraf kedua, dua nama tercetak tebal dengan jelas: Reza Mahendra dan Diana Maharani.
Dada Valine berdenyut kencang seperti dihantam benda tumpul. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis. Tiga tahun ia berusaha mengubur malam itu di Jakarta, dan kini lembar berita itu tergeletak telanjang di atas meja kayu jati di hadapan para tetua Ciamis.
Darman melanjutkan dengan intonasi yang sangat terukur dan diplomatis. "Saya tidak berniat mengadili kehidupan pribadi Reza di Jakarta tiga tahun lalu. Itu urusan masa muda. Tapi ini bukan unggahan anonim di internet, Uwa. Arsipnya jelas, tanggalnya ada, redaksi pers mahasiswanya terdaftar, dan sanksi etik kampus yang disebut di dalamnya dapat diverifikasi. Reza dijatuhi skorsing satu semester, dan setelah itu, Reza berhenti kuliah tanpa pernah menyelesaikan gelarnya."
Darman menatap lurus ke arah para tetua keluarga. "Pabrik kita sedang bersiap memperluas kerja sama dengan jaringan kafe di Bandung dan merencanakan pembiayaan peremajaan mesin. Bagaimana keluarga besar bisa memberikan surat rekomendasi dan mempercayakan perputaran modal ratusan juta kepada pengelola yang meninggalkan kampusnya karena catatan etik seperti ini? Kalau kabar ini sampai ke telinga para pembeli di kota, bukan cuma nama Reza yang dipertanyakan, tapi seluruh jerih payah para penderes Kawung Sari ikut kena getahnya."
Bibi Endang menghela napas panjang seraya menggelengkan kepala pelan, sementara dua sesepuh Giriharja saling berbisik dengan raut wajah muram.
Uwa Sukarna menoleh menatap Reza. "Reza... artikel ieu leres perkawis hidep di Jakarta tilu taun katukang?" (Reza... artikel ini benar tentang kamu di Jakarta tiga tahun lalu?)
Reza menatap huruf-huruf cetak yang mengeja namanya dan nama Diana Maharani.
Ada cara untuk membersihkan namanya dalam sepuluh detik. Reza sudah mengetahui kalimatnya selama tiga tahun. Ia juga mengetahui harga kehancuran yang harus dibayar jika kalimat itu akhirnya keluar di hadapan forum ini.
Sebagian dirinya masih ingin menyebut diam ini sebagai perlindungan. Namun Reza sudah terlalu lama hidup dengan kebohongan itu untuk tidak mengenali namanya yang sebenarnya: takut dan malu. Takut mengakui kelemahan masa lalunya, dan malu karena telah membiarkan kebisuan ini mengakar begitu lama hingga menjadi jerat yang mencekik semua orang.
Reza melirik ke samping. Valine duduk kaku di sampingnya. Jemari tangan kiri Valine meremas ujung roknya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Reza menarik napas panjang yang terasa menyayat tenggorokannya. Ia menegakkan punggung, menatap Uwa Sukarna, lalu menatap Paman Darman dengan tatapan tenang yang menyembunyikan getaran batinnya.
"Berita itu memang memuat nama saya dan peristiwa di Jakarta tiga tahun lalu, Uwa. Dan saya memang menerima sanksi skorsing tersebut dari pihak kampus."
Ruangan pendopo mendesah berat. Bibi Endang menyandarkan punggungnya seolah keraguan mereka terbukti. Darman menatap keponakannya dengan ketenangan dingin.