BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #29

Chapter #29

Pintu depan tidak terkunci rapat. Ruang tengah gelap tanpa lampu gantung yang menyala. Cangkir teh melati di meja sudut sudah dingin. Tidak ada suara langkah di lantai papan, tidak ada kertas faktur yang sedang ditata, dan tidak tercium wangi sabun yang biasanya menandai bahwa Valine sudah selesai mandi sebelum magrib.

"Val?" panggil Reza seraya melangkah masuk.

Hanya hening yang menyahut.

Reza mendorong pintu kamar tidur utama yang sedikit terbuka. Pandangannya langsung tertuju ke sudut dekat lemari.

Sudut itu kosong.

Koper kain hitam beroda milik Valine sudah tidak ada di sana. Pintu lemari pakaian terbuka miring, memperlihatkan deretan gantungan kayu yang melompong. Mantel katun tebal dan tas jinjing dokumennya raib.

Dada Reza berdesir dingin.

Ia melangkah cepat ke meja rias. Kotak kayu tempat menyimpan token perbankan giro operasional UD Kawung Sari terbuka miring. Benda plastik kecil berwarna biru tua itu tidak berada di tempatnya.

Di keranjang sampah rotan di samping meja, Reza melihat gumpalan kertas putih yang diremas kasar.

Reza memungutnya, lalu meratakannya di atas meja.

Itu surat peringatan terakhir dari bank BUMN di Jakarta yang tiba siang tadi: 

Pemberitahuan Terakhir Pemenuhan Sisa Komitmen Awal Restrukturisasi Kredit Agunan Rumah Tinggal Tebet, Jakarta Selatan.

Sisa Kewajiban: Rp 32.000.000,00.

Tenggat Waktu: paling lambat Senin pukul 12.00 WIB.

Keterangan: Apabila kewajiban tidak dipenuhi pada batas waktu yang ditentukan, persetujuan restrukturisasi dibatalkan demi hukum, dan agunan rumah tinggal senilai Rp 420.000.000,00 akan segera dilimpahkan ke balai lelang negara untuk pelaksanaan eksekusi sita jaminan.

Tidak ada kertas lain. Hanya surat bank dan kotak token yang kosong.

Napas Reza tertahan. Kepalanya seketika menyusun kepingan yang tertinggal. Valine terdesak oleh tenggat lelang rumah ibunya. Perempuan itu pergi membawa koper dan token kas pabrik.

Jika Valine menekan tombol transfer dari kas operasional, urusannya bukan lagi sekadar angka. Darman tidak perlu memelintir fakta apa pun; mutasi rekening perusahaan sudah cukup untuk menjatuhkan audit dan menyeret Valine ke urusan hukum.

Reza melipat surat itu, menjejali saku celananya, lalu berbalik keluar menuju sepeda motornya.

Gerimis tipis menyambutnya di jalan raya provinsi saat Reza memacu motor menuruni lereng menuju kota Ciamis. Aspal basah memantulkan pendar lampu jalan. Angin malam menembus kaus abu-abunya yang lembap, namun pikirannya hanya tertuju pada tempat-tempat keberangkatan menuju barat.

Tujuan pertamanya adalah kantor agen travel antarkota di jalan protokol. Reza mendorong pintu kaca kantor yang sepi itu dengan napas tersengal.

"Ada penumpang atas nama Valine Maheswari? Berangkat ke Bandung atau Jakarta malam ini?"

Petugas loket menatap layar monitornya beberapa saat, lalu menggeleng. "Tidak ada, Mas. Travel terakhir ke Bandung jalan jam lima tadi. Untuk tujuan Jakarta tidak ada jadwal malam."

Reza tidak membuang waktu. Ia memacu motornya ke terminal bus antarkota di timur kota. Di pelataran terminal yang becek oleh genangan air hujan, Reza berjalan menyusuri deretan bus malam, menatap kaca-kaca jendela yang berembun, dan menanyai kondektur bus jurusan Jakarta.

Tidak ada yang melihat perempuan dengan koper hitam.

Reza berdiri di tepi jalur pemberangkatan bus di tengah deru knalpot dan bau solar, memeriksa jam di ponselnya. Pukul delapan lewat empat puluh lima menit.

Satu-satunya jalur darat yang masih melintas ke barat larut malam adalah kereta api.

Stasiun Ciamis.

Reza memutar motornya dan memacu gas kembali menembus jalanan kota.

Pelataran parkir Stasiun Ciamis tampak temaram saat Reza tiba pukul sembilan lewat lima belas menit.

Dari arah dalam peron, terdengar raungan rendah mesin lokomotif diesel, disusul desis rem udara yang panjang.

"Kereta ke Jakarta masih ada?" tanya Reza buru-buru kepada petugas berseragam di depan pintu boarding.

Lihat selengkapnya