BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #30

Chapter #30

Kebun bambu di lereng belakang bangsal pengolahan UD Kawung Sari terasa terik pada pukul satu siang Sabtu.

Sinar matahari menembus celah-celah daun bambu yang bergesekan ditiup angin lembah, menciptakan bayangan belang-belang di tanah berbatu. Suara gemercik air parit dan dengung serangga hutan mendominasi keheningan lereng bukit.

Darman berdiri menyandar di sebatang bambu tua, menatap layar ponsel pintarnya dengan dahi berkerut.

Di layar ponselnya, dua tab peramban terbuka: profil profesional LinkedIn dan laman portofolio media sosial atas nama Diana Maharani, S.Ars.—Junior Interior Designer & Project Coordinator di sebuah studio perancangan interior di Gandaria, Jakarta Selatan. Di bagian bawah profilnya, tertera tautan portofolio dan nomor WhatsApp Business yang dicantumkan untuk konsultasi proyek.

Berbekal nama lengkap Diana Maharani dan almamater arsitektur yang ia temukan dari arsip buletin pers mahasiswa kemarin, Darman hanya butuh waktu singkat untuk melacak kontak perempuan itu. Di era sekarang, para praktisi desain muda memajang kontak publik secara terbuka di internet demi menjaring klien dan proyek renovasi.

Namun Darman bukan orang yang gegabah. Dua belas tahun mengelola manusia di Kawung Sari mengajarinya bahwa pendekatan yang kasar atau manipulatif akan langsung terbaca oleh orang luar yang berpendidikan. Mengajak seorang perempuan muda dari Jakarta datang ke desa dengan cerita yang berbelit-belit hanya akan membuatnya menutup telepon seketika.

Darman harus menyentuh sisi paling rasional dan terhormat: mencari kejelasan yang adil bagi semua pihak.

Notaris Soedirja telah mengirim surat resmi bahwa tim pemeriksa independen dari Tasikmalaya akan mulai mengaudit berkas pembukuan minggu depan. Darman tahu manipulasi faktur nira dan selisih kayu bakarnya selama bertahun-tahun tidak akan bisa disembunyikan lagi di hadapan akuntan profesional.

Darman perlu memindahkan perhatian keluarga besar dari angka-angka pembukuan ke pertanyaan yang jauh lebih mendasar: siapa sebenarnya Reza Mahendra, dan apakah pemuda itu pantas memimpin mereka?

Darman menyentuh nomor kontak di layar ponselnya, lalu menempelkan benda itu ke telinganya.

Nada sambung berdering tiga kali sebelum terdengar suara perempuan menjawab di seberang sana—suara yang terdengar sigap dan formal, khas profesional muda yang mengira panggilan tersebut berasal dari calon klien proyek renovasi.

"Halo, selamat siang. Studio Diana di sini, ada yang bisa dibantu?"

Darman langsung memasang nada bicara yang sangat santun, tenang, dan kebapakan. "Selamat siang. Mbak Diana Maharani?"

"Iya, betul. Dengan siapa ya, Pak?"

"Perkenalkan, saya Darman. Paman dari Reza Mahendra di Ciamis."

Keheningan seketika jatuh di seberang sambungan. Nada suara perempuan itu berubah waspada dan dingin.

"Maaf, Pak. Saya sudah tidak ada urusan apa pun dengan Reza sejak tiga tahun lalu. Kalau bukan urusan pekerjaan, saya rasa Anda salah sambung."

"Saya mengerti, Mbak. Saya tidak bermaksud lancang mengganggu pekerjaan Mbak Diana," sahut Darman dengan intonasi rendah yang penuh kesabaran. "Hanya saja... keluarga kami di Ciamis baru-baru ini membaca artikel pers kampus soal kejadian tiga tahun lalu itu."

Diana tidak menyahut, namun helaan napasnya terdengar menegang di seberang telepon.

"Orang tua di sini tidak mau langsung percaya pada berita sepihak," lanjut Darman, suaranya terdengar sangat bijak dan tulus. "Keluarga kami tidak percaya Reza orang yang seperti itu tanpa mendengar sendiri dari orang yang ada di sana. Masalahnya, sekarang istrinya, Valine Maheswari, tinggal bersama kami di Ciamis. Valine membaca artikel itu, dan suasananya jadi serba tidak tenang karena watak Reza yang dari dulu selalu tertutup dan cuma bisa diam."

Tarikan napas tertahan terdengar dari seberang sambungan saat nama Valine disebut.

"Keluarga kami ingin mendudukkan masalah ini secara adil dengan kepala dingin," ujar Darman perlahan. "Kami lebih percaya kalau mendengar dua sisi langsung dari orang yang bersangkutan, bukan cuma selembar tulisan di internet. Kalau Mbak Diana bersedia hadir, kami sangat berharap Mbak Diana bisa membantu meluruskan apa yang sebenarnya terjadi. Apakah benar Reza orang seperti itu, agar Valine bisa tenang dan nama Mbak Diana juga bersih di mata keluarga kami."

Lihat selengkapnya