BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #31

Chapter #31

Valine berdiri di atas batu cadas seraya mengangkat ponsel pintarnya ke udara, mencari bilah sinyal seluler 4G yang stabil. Layar ponselnya berdenting pelan, menampilkan ikon surel masuk berlogo resmi Bank Mandiri Kantor Wilayah Jakarta.

Valine menekan layar sentuhnya dengan jemari yang dingin. Surat elektronik resmi dari Bagian Penyelamatan Kredit Konsumer terbuka di hadapannya:

("DENGAN INI KAMI KONFIRMASIKAN PENERIMAAN DANA SETORAN TUNGGAKAN MINIMUM SEBESAR RP 32.000.000,- (TIGA PULUH DUA JUTA RUPIAH) ATAS FASILITAS KREDIT NOMOR REKENING 132-00-XXXXX-9 AN. NY. RATNA MAHESWARI (ALMARHUMAH).")

Mata Valine bergerak cepat membaca dua paragraf berikutnya:

("Berdasarkan pemenuhan komitmen pembayaran minimum tersebut, proses pendaftaran berkas eksekusi hak tanggungan (lelang) ke Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) resmi DITANGGUHKAN. Berkas permohonan restrukturisasi perpanjangan tenor utang pokok sebesar Rp 420.000.000,- selama jangka waktu 36 bulan saat ini telah masuk dalam tahap verifikasi komite kredit.")

Napas Valine yang tertahan seketika terlepas dalam satu hembusan panjang yang gemetar.

Valine menyandarkan punggungnya ke batang pohon aren nomor 12, memejamkan mata seraya mendekapkan ponselnya ke dada.

Lelang ditangguhkan. Rumah ibunya aman.

Uang tabungan pribadi tiga puluh dua juta rupiah milik Reza telah bekerja tepat pada fungsinya: membeli waktu dan membuka pintu restrukturisasi resmi. Rumah itu memang belum lunas total, dan utang pokok ratusan juta masih menantinya. Namun untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir, Valine tidak lagi dikejar-kejar oleh ancaman palu sita pengadilan.

Valine tersenyum tipis menatap pemandangan cerobong pabrik di bawah sana. Di dalam tas selempangnya, berkas perjanjian pinjaman jembatan yang ditandatanganinya bersama Reza tersimpan rapi. Ia berutang kepada Reza, dan ia akan melunasi utang itu dengan keringatnya sendiri.

Pukul setengah satu siang, cahaya matahari mulai terasa terik di lereng bukit.

Denting dering ponsel yang keras dan berulang tiba-tiba memecah keheningan lereng Bukit Kiara. Di layar ponsel Valine, nama kontak yang selama tiga tahun menjadi simbol ketergantungannya berkedip-kedip: Rio Bandung.

Valine menatap layar ponsel itu selama empat ketukan dering. Ia tidak menghindar, tidak gemetar, dan tidak mencari alasan untuk lari. Valine menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinganya.

"Halo, Rio."

Suara Rio di seberang sana terdengar sangat tenang, datar, dan sarat dengan kalkulasi bisnis yang dingin. "Lama sekali angkat telepon, Val. Aku dengar dari kenalanku di kantor bank Jakarta, tunggakan minimum rumah ibumu baru saja dibayar lunas dua hari lalu. Lelangnya ditunda."

Lihat selengkapnya