Pekarangan depan rumah joglo Aki Warso masih diselimuti sisa kabut tipis lereng Gunung Sawal pada pukul delapan pagi.
Sinar matahari mulai menembus dedaunan kemuning di tepi teras, menguapkan aroma manis nira masak yang terbawa angin dari arah bangsal pengolahan. Reza melangkah keluar dari pintu samping bangsal, memegang cangkir kaleng berisi kopi tubruk panas dengan jemari yang masih berlumur abu tungku.
Regol bambu di pekarangan depan berderit saat didorong terbuka.
Seorang perempuan muda berbusana rapi melangkah masuk menenteng koper jinjing abu-abu kecil dan tas dokumen kulit hitam di pundaknya.
Reza menghentikan langkah kakinya di atas hamparan kerikil pekarangan. Cangkir kaleng di tangannya mendadak miring, meneteskan kopi hitam panas ke ujung sepatu bot kerjanya tanpa ia sadari.
Di bawah naungan pohon kemuning, Diana Maharani melangkah mantap menyusuri jalan setapak pekarangan.
Rambut hitam sebahu Diana terikat rapi ke belakang. Kemeja katun putih lengan panjangnya tergulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana bahan hitam yang praktis. Penampilannya tampak bersih, mandiri, dan tegas khas profesional muda studio perancangan ibu kota. Garis rahangnya yang kokoh dan tatapan matanya yang tenang itu tidak berubah sedikit pun.
Dada Reza berdegup kencang seperti hendak meledak. Darahnya terasa surut dari seluruh tubuhnya.
Tiga tahun lalu, di bawah cahaya putih sebuah lorong yang dingin, Diana pernah menatapnya dengan mata sembap dan bertanya getir: Kenapa kamu diam saja, Za?
Dan hari ini, Diana berdiri nyata di pekarangan rumah kakeknya di Ciamis.
Reza meletakkan cangkir kalengnya di atas undakan batu dengan tangan gemetar, lalu melangkah setengah berlari menyongsong langkah Diana di tengah pekarangan. Napas Reza tersengal saat ia berdiri menghadang langkah perempuan itu.
"Diana..."
Diana menghentikan langkahnya tiga langkah di depan Reza. Ia menurunkan kopernya ke atas kerikil, lalu menatap pria di depannya dengan sorot mata yang tenang dan tidak berkedip. "Pagi, Reza."
Reza merendahkan suaranya, memohon dengan nada berbisik yang sarat kepanikan. "Kenapa kamu datang ke sini, Diana? Kenapa kamu terima telepon itu?!"
"Karena kalau aku tidak datang ke sini, kita berdua tidak akan pernah selesai dengan apa yang terjadi tiga tahun lalu," jawab Diana lugas.
"Diana, tolong dengarkan aku," bujuk Reza tegang seraya melirik cemas ke arah teras joglo. "Asal kamu tahu, pamanku cuma memanfaatkanmu. Dia sengaja membawamu ke sini untuk mencari alasan supaya keluarga berhenti mempercayaiku sebelum Hari ke-90. Kalau dukungan keluarga runtuh, dia akan mengambil alih Kawung Sari. Kamu tidak tahu apa yang sedang terjadi di keluarga ini!"