BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #33

Chapter #33

Seluruh orang yang tadi berdiri di pekarangan telah duduk mengelilingi meja jati pendopo. Balai pendopo rumah joglo Aki Warso terasa lebih dingin daripada udara pagi di luar.

Matahari pagi bersinar terang di luar pagar, namun di bawah naungan atap sirap pendopo, suasana hening dan membeku. Uwa Sukarna duduk di kursi kepala meja didampingi dua sesepuh Dusun Giriharja. Paman Darman duduk di sisi kanan meja dengan jemari bertaut tenang di atas permukaan kayu, memasang sikap seorang paman yang hendak mendudukkan perkara secara berimbang.

Di sisi kiri, Reza dan Valine duduk berdampingan. Kedua tangan Valine di atas meja terkepal erat hingga buku jemarinya memutih, matanya menatap lurus ke arah perempuan muda yang duduk di seberang meja di samping Darman: Diana Maharani.

Uwa Sukarna berdeham pelan, memegang tongkat berujung peraknya seraya menatap perempuan berbusana putih di hadapannya.

"Sampurasun, Mbak Diana," buka Uwa Sukarna dengan suara serak yang berwibawa. "Hatur nuhun sudah jauh-jauh datang dari Jakarta. Di sini ada Darman, Reza, dan Neng Valine. Mangga, jelaskan sejujurnya apa yang terjadi tiga tahun lalu di Wisma Melati."

Paman Darman mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tenang dan teratur. "Mohon jelaskan hubungan Anda dengan Reza pada waktu itu, termasuk alasan kalian berdua ditemukan di Wisma itu dan kemudian dijatuhi sanksi kampus."

Valine menahan napasnya. Di sampingnya, Reza duduk kaku menatap permukaan meja dengan rahang terkatup rapat dan bibir pucat pasi.

Valine merasakan dadanya berdenyut perih menanti kata-kata apa yang akan keluar dari mulut Diana. Tiga tahun ia mengunci rasa sakit itu di dalam dadanya, dan kini ia dipaksa mendengarkannya di hadapan para tetua Ciamis.

Diana Maharani meletakkan tas selempangnya di atas meja kayu jati. Diana menegakkan punggungnya, menatap Uwa Sukarna, lalu menatap Paman Darman dengan pandangan yang sangat tenang dan tidak gentar. Diana perlahan bangkit berdiri di sisi meja.

"Saya memang datang ke sini untuk memberikan kejujuran," ujar Diana tenang.

Diana menarik napas panjang, lalu mengedarkan pandangannya ke arah para sesepuh yang duduk mengelilingi meja. Suara Diana terdengar lantang, jernih, dan bergaung kuat menembus keheningan balai pendopo.

"Teruntuk seluruh keluarga yang hadir... saya ingin meluruskan satu hal paling mendasar yang selama tiga tahun ini telah diputarbalikkan oleh rumor kampus dan artikel pers mahasiswa."

Diana menatap lurus ke arah Uwa Sukarna.

Lihat selengkapnya