Belum lima menit sejak Diana meninggalkan pendopo, Valine sudah berlari menaiki jalan setapak di kaki Bukit Kiara pada pukul sembilan kurang seperempat pagi.
Sinar matahari pagi menembus kanopi pohon-pohon aren dan rumpun bambu hutan, menciptakan berkas-berkas cahaya yang menyilaukan. Udara lereng bukit terasa lembap, berbau tanah basah dan daun membusuk.
Valine memacu langkahnya dengan napas memburu tersengal-sengal. Ujung rok katunnya terkena cipratan lumpur tanah liat, namun Valine terus melangkah menaiki tanjakan tanpa memedulikan rasa perih di betisnya.
Napas Valine terasa terbakar di tenggorokan. Tangannya sesekali mencengkeram batang-batang bambu di tepi jalan setapak untuk menjaga keseimbangan agar tidak tergelincir.
Di dalam kepalanya, kalimat-kalimat Diana di balai pendopo tadi terus bergema tanpa henti:
"Reza Mahendra dan saya tidak pernah berhubungan intim..."
"Cerita perselingkuhan yang beredar saat itu adalah narasi darurat yang kami biarkan hidup untuk melindungi pihak ketiga..."
"Fakta bahwa Reza tidak berselingkuh dengan saya tidak berarti cara dia memilih diam selama tiga tahun menjadi benar..."
Setiap kata terasa laksana pukulan godam yang meremukkan seluruh peta hidup yang ia susun selama tiga tahun.
Tiga tahun ia mengira dirinya adalah korban perselingkuhan murahan. Tiga tahun ia meyakinkan dirinya bahwa Reza adalah pria pengkhianat yang mencampakkannya demi perempuan lain.
Dan sekarang, pilar kebencian itu mendadak roboh begitu saja di depan matanya.
Namun robohnya kebencian itu tidak membawa kedamaian. Di balik runtuhan itu, sebuah jurang menganga yang jauh lebih mengerikan menantinya: jika Reza tidak berselingkuh, kenapa dia menerima skorsing itu? Kenapa setelah peristiwa malam itu dia tidak pernah kembali menyelesaikan kuliahnya dan memilih mengasingkan diri ke desa? Dan siapa orang ketiga itu? Kenapa Reza membiarkan seluruh akibat malam itu jatuh ke atas dirinya sendiri?
Valine menengadahkan kepalanya. Di kelokan jalan setapak di depan sana, di bawah naungan pohon aren nomor 10, punggung perempuan berkemeja putih yang menenteng tas dokumen kulit hitam tampak melangkah cepat menapaki tanjakan.