BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #35

Chapter #35

Valine berdiri terpaku dua meter di depannya, bersandar pada tiang bambu utama dengan kedua tangan mengepal kaku di sisi tubuhnya.

Diana mengeluarkan sebuah kantong beludru hitam kecil dari saku dalam tasnya. Diana menengadah, menatap lurus mata Valine.

"Orang ketiga yang saya maksud di pendopo tadi adalah Drs. Hendrawan."

Diana memberi jeda satu detik, menatap Valine tanpa berkedip.

"Papamu sendiri, Val."

Udara di dalam paru-paru Valine mendadak lenyap. Seluruh persendian tubuhnya serasa dilumpuhkan seketika.

Valine mundur setengah langkah, menatap Diana dengan tawa hambar yang bergetar tertahan. "Kamu gila, Diana... kamu benar-benar gila. Papaku memang dosenmu. Reza juga kuliah di kampus yang sama. Tapi kalau kamu sekarang bilang laki-laki di kamar itu papaku sendiri, itu keterlaluan. Papaku orang yang terhormat! Kamu tidak punya hak mengarang fitnah menjijikkan seperti itu untuk menutupi apa yang kamu lakukan dengan Reza!"

Diana tidak membalas dengan kemarahan. Diana membuka tali serut kantong beludru hitamnya, lalu meletakkan isinya di atas amben bambu di hadapan Valine.

Sebuah jam tangan Rolex antik bertali kulit cokelat peninggalan keluarga tergeletak di atas bilah bambu.

Mata Valine membelalak lebar. Kakinya terhuyung lemas ke depan. Tangan Valine yang gemetar hebat terangkat menyentuh permukaan jam tangan itu.

Itu jam tangan yang selalu dibanggakan papanya ke mana pun ia pergi.

Valine membalik tali kulit cokelat arloji itu dengan jemari yang basah oleh keringat dingin. Di sisi dalam tali, dekat pengait logamnya, masih tertera grafir kecil yang sangat ia kenal: H.S. — Hendrawan Sudrajatmiko.

Diana menyodorkan ponsel pintarnya. Di layar sentuh itu, terbuka arsip percakapan teks tahun dua ribu dua puluh tiga: pesan-pesan bimbingan tugas akhir yang bergeser menjadi janji temu rahasia di kamar penginapan pinggiran Jakarta, dikirimkan dari nomor kontak pribadi papanya lengkap dengan kebiasaan khas yang selalu diminta pria itu—teh melati hangat tanpa gula.

Dada Valine berdenyut begitu menyakitkan hingga ia harus mencengkeram kemejanya sendiri agar bisa bernapas. Lutut Valine lemas, membuatnya jatuh terduduk di atas lantai bilah bambu di depan amben.

"Tidak... ini tidak mungkin... Papa..." bisik Valine tercekat.

"Jam tangan itu tertinggal di tempat tidur saat papamu keluar lewat jendela belakang malam itu, Valine," tutur Diana pelan. "Tiga tahun saya menyimpannya karena saya tidak tahu harus mengembalikannya kepada siapa."

Di luar gubuk, semilir angin pegunungan perlahan berhembus lebih kencang, menggoyangkan dedaunan aren hingga berdesir panjang. Awan gelap mulai berarak menutup punggung Gunung Sawal, dan guntur samar berdentum di kejauhan langit.

Diana menunduk menatap bilah bambu seraya menghela napas panjang.

Lihat selengkapnya