Belum lama setelah Valine meninggalkan gubuk di kaki Bukit Kiara, hujan yang sejak tadi turun rintik berubah menjadi deras, mengguyur lereng Gunung Sawal dengan intensitas yang kian lebat.
Air hujan turun seperti tirai putih tebal yang membatasi jarak pandang, menggenangi tanah liat pekarangan depan rumah joglo Aki Warso hingga menjadi kubangan lumpur cokelat. Di kejauhan, kilat menyambar membelah langit kelabu, disusul gemuruh guruh yang menggetarkan tiang-tiang rumah.
Reza berdiri mematung di tengah pekarangan terbuka tanpa payung, basah kuyup dari ujung rambut hingga sepatu botnya.
Di regol bambu pekarangan, sosok Valine muncul menerobos tirai hujan dengan langkah cepat dan kemeja basah melekat di tubuhnya.
Air hujan yang deras menyapu wajah Valine, namun bayangan sosok Reza di tengah pekarangan tampak begitu jelas di hadapannya. Valine mempercepat langkahnya, menerobos kubangan air hingga cipratan lumpur mengotori ujung rok panjangnya.
Begitu mencapai jarak satu meter di depan Reza, Valine tidak berhenti.
Dengan seluruh sisa tenaga di dalam tubuhnya, Valine menghantamkan kedua telapak tangannya ke dada bidang Reza.
Tubuh Reza tersentak mundur setengah langkah, namun ia tidak menangkis atau berusaha memegang tangan Valine. Reza membiarkan kedua tangannya tergantung lemas di samping paha.
Valine kembali memukul dada suaminya, kali ini dengan kepalan tangan yang menghantam bertubi-tubi di bawah guyuran hujan lebat. Suara pukulan itu berbaur dengan deru air yang jatuh di atas tanah becek.
"Kenapa kamu lakukan itu, Reza?! Kenapa kamu lakukan itu?!" jerit Valine parau.
Napas Valine tersengal-sengal di antara isakan amarah yang meremukkan tenggorokannya. "Tiga tahun aku hidup dengan keyakinan kamu mengkhianatiku! Tiga tahun aku membawa rasa jijik dan marah itu ke mana-mana!"
Valine mencengkeram kerah kemeja basah Reza, mengguncang tubuh suaminya dengan suara yang merobek hujan. "Tiga tahun aku membuat keputusan-keputusan gila sambil membawa kebencian itu! Aku tahu pilihan-pilihanku tetap pilihanku. Rio tetap tanggung jawabku. Tapi aku membuat semua keputusan itu sambil berdiri di atas kebohongan yang kamu biarkan hidup!"
Valine menatap mata Reza yang basah oleh air hujan. "Kamu pikir karena niatmu melindungi keluargaku, kamu jadi punya hak menentukan apa yang boleh aku tahu?! Kamu merasa kamu pahlawan, kan?! Kamu tidak menyelamatkan aku, Reza. Kamu cuma membuat keputusan untukku!"
"Val..." bisik Reza dengan bibir bergetar di bawah guyuran air. "Maafkan aku, Val... maafkan aku..."