BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #37

Chapter #37

Sehari penuh telah berlalu sejak pertengkaran mereka di bawah guyuran hujan lebat. Selama itu Reza tidak mengetuk pintu kamar, tidak meminta bicara, dan tidak mencoba memaksakan permohonan maaf apa pun. Reza memberinya ruang yang sunyi, dan di dalam keheningan itulah Valine menata kembali seluruh pecahan hatinya.

Valine berdiri melipat kemeja katunnya dengan gerakan yang sangat rapi dan tenang. Ia memasukkan pakaian lipatannya ke dalam koper, disusul sepasang sepatu kets dan perlengkapan mandi pribadinya.

Gerakan tangannya teratur dan tanpa suara.

Valine melangkah pelan menuju pintu kamar yang terbuka setengah, menatap ke arah ruang tengah yang temaram.

Di atas tikar pandan di bawah tiang kayu penyangga utama, Reza tertidur lelap beralaskan sarung tenun cokelat tua. Tubuh Reza tampak meringkuk kedinginan, namun napasnya terdengar teratur setelah berhari-hari dihantam kelelahan batin. Di bawah keremangan lampu teplok dinding, Valine bisa melihat sisa keletihan yang dalam di garis wajah suaminya.

Valine menyandarkan bahunya ke kusen pintu kamar. Dada Valine berdesir hangat bercampur rasa perih yang mendalam.

Saat berdiri di bawah guyuran hujan dua hari lalu, seluruh kemarahan dan kebencian tiga tahunnya telah tumpah tak bersisa. Valine tahu Reza mencintainya. Valine tahu Reza pernah menanggung konsekuensi besar demi martabat keluarganya. Dan di dalam lubuk hatinya yang paling jujur, Valine menyadari bahwa ia pun mencintai laki-laki yang tertidur di atas tikar itu.

Namun justru karena ia mencintai Reza, Valine tidak bisa bertahan di rumah ini satu hari lebih lama.

Valine tahu kepergiannya bisa memberi celah bagi Darman untuk menyerang keabsahan syarat masa domisili bersama. Bisa jadi Reza akan kehilangan hak kelola Kawung Sari karena keputusannya melangkah pergi pagi ini. Namun jika ia bertahan hanya demi menyelamatkan pabrik atau menjaga hak kelola Reza, ia hanya akan mengganti satu bentuk keterpaksaan dengan bentuk keterpaksaan yang lain.

Pernikahan mereka akan selamanya tercemar oleh racun yang sama: mereka bersama karena terikat wasiat kakek, mereka bersama karena Reza merasa harus menebus dosanya, dan mereka bersama karena Valine merasa berutang budi atas masa lalu.

Valine menolak hidup dalam rumah tangga yang dibangun di atas fondasi utang budi dan rasa bersalah.

Ia perlu pergi ke tempat di mana tidak ada wasiat yang mengikatnya, tidak ada kakek yang mengaturnya, dan tidak ada pabrik yang memaksanya bertahan. Ia perlu tahu apakah di luar semua itu, hatinya akan tetap memilih Reza Mahendra.

"Aku mencintaimu, Reza... dan justru karena itu aku tidak bisa tinggal di sini sekarang," bisik Valine sangat lirih.

Lihat selengkapnya