Tidak ada aroma seduhan kopi tubruk gula aren di dapur, tidak ada suara denting sendok di cangkir kaleng, dan tidak ada gemerisik langkah di kamar mandi.
Reza terbangun tersentak di atas tikar pandan ruang tengah. Ia menarik napas panjang seraya menyibak sarung tenunnya.
"Val...?"
Hanya suara desau angin di luar yang menyahuti panggilannya.
Langkah kaki Reza membawanya melangkah cepat menuju kamar pengantin utama yang pintunya terbuka setengah.
Reza mendorong pintu kamar.
Tempat tidur kayu jati telah tertata rapi. Selimut telah terlipat di ujung kasur. Pintu lemari pakaian terbuka; gantungan baju kawat tergantung kosong, dan koper kain abu-abu milik Valine sudah tidak ada di sudut kamar.
Jantung Reza berdegup kencang menghantam tulang rusuknya.
Reza melangkah mendekati meja rias kayu jati.
Di atas meja rias, dua map dan sebuah jam tangan tergeletak rapi:
Map hitam pertama berisi lembar kerja akuntansi, nomor kontak pembeli jaringan kafe Bandung, proyeksi arus kas operasional, SOP kontrol dokumen pos timbang, dan kompilasi sementara anomali vendor yang belum selesai direkonsiliasi.
Map putih kedua memuat dokumen bertajuk Draf Pernyataan Niat Cerai Pasca-Hari ke-90.
Di atas tumpukan berkas itu, jam tangan Rolex antik bertali kulit cokelat milik Hendrawan diletakkan tepat menindih selembar kertas memo kecil.
Tangan Reza gemetar hebat saat mengangkat kertas memo tersebut. Tulisan tangan Valine yang rapi dan tegas terpampang di hadapannya, ia membaca surat memo itu.
Kertas memo itu bergetar di jemari Reza.
Seluruh darah di tubuh Reza mendidih dalam kepanikan liar. Valine pergi. Istrinya telah melangkah keluar dari rumah ini menuju Bandung.
Naluri lama di dalam dada Reza seketika meledak liar: ia harus menyusulnya, ia harus membawanya pulang sekarang juga.
Reza menjatuhkan memo itu ke atas meja rias, lalu berlari keluar dari kamar. Tanpa mengenakan alas kaki, Reza menerobos pintu samping joglo dan berlari melintasi hamparan kerikil pekarangan menuju jalan desa.
***