BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #39

Chapter #39

Dinding kaca besar restoran elegan di kawasan Dago Atas menampilkan panorama gemerlap jutaan lampu kota Bandung pada pukul setengah delapan malam.

Musik jazz instrumental mengalun pelan dari pengeras suara tersembunyi di sudut plafon kayu, bercampur denting lembut gelas kristal dan sendok perak para pengunjung. Di atas meja sudut bertaplak putih bersih, Valine duduk mengenakan kemeja rajut hitam berkerah tinggi dan celana bahan kelabu. Penampilannya bersahaja dan praktis, sangat kontras dengan gaun-gaun malam sutra dan setelan mahal para pengunjung lain di sekeliling mereka.

Di seberang meja, Rio duduk bersandar santai. Pria itu mengenakan kemeja linen abu-abu gelap dengan jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya. Rambutnya disisir rapi tanpa cela, dan senyum tipis yang biasa ia gunakan dalam negosiasi bisnis tersungging di sudut bibirnya.

Pelayan restoran baru saja meletakkan dua cangkir porselen berisi kopi hitam panas di atas meja, lalu membungkuk sopan dan undur diri tanpa suara.

Rio menyesap kopinya perlahan, menatap Valine dengan tatapan menyelidik yang percaya diri. "Empat hari lalu kamu memblokir nomor teleponku dari Ciamis. Tadi sore sekretarisku bilang kamu menghubungi kantor dan minta bertemu di Dago untuk mengembalikan barang. Jadi... apa kamu sudah lelah main sandiwara nikah di desa terpencil itu, Val?"

Valine tidak menyentuh cangkir kopi di hadapannya. Jemarinya bertaut tenang di atas pangkuan.

Valine membuka tas selempang kecilnya, lalu mengeluarkan tiga benda secara bergantian dan meletakkannya tepat di tengah taplak meja putih di hadapan Rio.

Sebuah kunci mobil sedan hitam milik Rio beserta gantungan kuncinya.

Dua kartu kredit tambahan berlogo bank swasta ternama dengan batas transaksi ratusan juta yang tercetak atas nama Valine.

Dan sebuah kartu akses elektronik apartemen mewah di kawasan Dago Atas yang selama tiga tahun menjadi simbol kemewahan sekaligus tempat perlindungannya dari kejaran juru sita.

Rio menatap ketiga benda itu di atas meja. Alis kirinya terangkat perlahan, namun senyum percaya dirinya belum surut. "Apa maksudnya semua ini, Val?"

Valine menatap lurus ke dalam manik mata pria di depannya. Suara Valine terdengar tenang, jernih, dan tidak mengandung keraguan sedikit pun. "Mobilmu kuparkir di lobi bawah, kunci dan karcis parkirnya ada di situ. Kartu kredit dan kunci apartemen ini belum pernah kusentuh lagi sejak aku berangkat ke Ciamis. Aku mengembalikan semuanya malam ini, Rio."

Rio tertawa hambar, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit. "Kamu bercanda? Kamu kembali ke Bandung malam-malam cuma untuk membuang semua fasilitas ini?"

"Aku tidak sedang bercanda," jawab Valine lugas. "Aku datang untuk mengembalikan semua yang bukan milikku. Dan untuk memastikan kita berdua tidak punya urusan apa pun lagi mulai malam ini."

Rio mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua sikunya bertumpu di tepi meja, menatap Valine dengan tatapan dingin yang tajam dan menusuk. "Kamu pikir kamu perempuan hebat setelah meletakkan kunci itu di depanku, Val?"

Rio mendengus sinis, suaranya terdengar rendah dan beracun. "Jangan bersikap seolah-olah kamu korban suci yang baru saja melarikan diri dari pria jahat. Mari kita bicara jujur untuk sekali ini."

Lihat selengkapnya