Pekarangan depan rumah satu lantai peninggalan almarhumah ibunya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, tampak lengang pada pukul sembilan pagi.
Valine sengaja menempuh perjalanan pagi dari Bandung demi melihat langsung rumah yang selama tiga tahun terakhir menjadi pusat kecemasan hidupnya. Sinar matahari menyinari dinding tembok putih yang catnya mulai mengelupas kecokelatan. Pagar besi hitam berkarat ditumbuhi tanaman liar di sela-sela engselnya. Valine berdiri di balik pagar, memegang map berkas bank di tangannya seraya menatap jendela kaca depan yang berdebu.
Suara gemerisik daun pohon mangga tua di sudut pekarangan menyambut kedatangannya dalam kesunyian.
Valine mendorong pintu pagar besi yang berderit nyaring. Ia melangkah menyusuri jalan setapak semen yang retak, lalu berdiri di teras depan rumah tempat ia tumbuh dewasa.
Di teras inilah, almarhumah ibunya dulu selalu duduk menyulam kain seraya menunggunya pulang kuliah. Dan di rumah inilah kehidupan keluarganya perlahan runtuh tiga tahun lalu, jauh sebelum Valine mengetahui kebenaran yang sebenarnya terjadi, meninggalkan keluarga yang retak sementara beban utang rumah terus membebani hari-hari terakhir ibunya.
Valine membuka map berkas bank di tangannya.
Setoran komitmen awal enam puluh lima juta rupiah—tiga puluh dua juta di antaranya berasal dari pinjaman talangan pribadi Reza—telah berhasil menunda pendaftaran lelang eksekusi. Namun sisa kewajiban pokok dan bunga masih berada di kisaran ratusan juta rupiah.
Valine menarik pulpen dari tas selempangnya. Di balik lembar rekening koran, ia membuat kalkulasi realistis berdasarkan tenor restrukturisasi tiga tahun yang sedang diajukan ke komite bank. Angkanya berat, menuntutnya bekerja keras tanpa henti dan menuntut disiplin kerja selama bertahun-tahun dengan mengambil beberapa proyek pembukuan serta konsultasi akuntansi independen secara konsisten.
Namun untuk pertama kalinya, Valine melihat angka-angka itu tanpa mencari nama seorang laki-laki di sampingnya untuk menyelamatkannya.
Berat. Tapi bukan mustahil.
Rumah ini tidak membutuhkan keajaiban uang warisan pabrik gula aren Ciamis. Rumah ini tidak membutuhkan pria kaya seperti Rio yang menukar uang dan fasilitas dengan perhatian serta kehadirannya. Rumah ini hanya menuntut seorang Valine Maheswari yang bekerja dengan kedua tangannya sendiri secara jujur dan bermartabat.
"Rumah ini bakal tetap berdiri, Bu," bisik Valine pelan menatap daun pintu kayu rumah ibunya. "Valine yang akan lunasi sendiri sampai selesai."
Pukul sepuluh lewat lima belas pagi, Valine duduk di undakan semen teras yang sejuk, menyandarkan sikunya di atas lutut.