BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #41

Chapter #41

Ruang kerja Notaris R. Soedirja di sebuah gedung tua berpanel kayu jati di kawasan Jalan Braga, Bandung, terasa hening pada pukul satu siang.

Sinar matahari menembus jendela kaca patri bergaya art deco, memantulkan cahaya temaram ke atas meja kerja kayu jati berpelitur gelap. Aroma kertas tua, kayu ek, dan seduhan kopi hitam menguar lembut di dalam ruangan.

Valine duduk di kursi berlengan kulit di depan meja kerja. Di hadapannya, Notaris Soedirja meletakkan sebuah amplop cokelat tebal yang disegel lelehan lilin merah tua bertanda cap cincin inisial W.M. — Warso Mahendra.

Notaris Soedirja menyilangkan jemarinya di atas meja, menatap Valine dengan tatapan hangat di balik kacamata berbingkai emasnya.

"Neng Valine... beberapa minggu sebelum almarhum Bapak Warso Mahendra wafat, beliau datang ke kantor saya sendirian. Beliau meminta saya membuatkan akta wasiat yang saat ini sedang berjalan di Ciamis."

Notaris Soedirja menunjuk amplop cokelat di atas meja. "Namun sebelum pulang ke Ciamis, almarhum mengeluarkan amplop ini dari sakunya. Beliau menitipkan pesan sederhana: 'Soedirja, surat ini untuk Neng Valine. Berikan langsung ke tangannya secara pribadi menjelang akhir masa sembilan puluh hari. Jangan melalui Reza. Ini bukan dokumen hukum pabrik, ini surat dari seorang kakek untuk cucunya.'"

Dada Valine berdesir halus. Tenggorokannya terasa tercekat.

Valine mengulurkan kedua tangannya, mengangkat amplop cokelat tebal itu dari atas meja jati. Di bagian depan amplop, tertulis dengan goresan pena tinta hitam basah yang mantap dan bersahaja: Kanggo Neng Valine Maheswari—Dibuka ku nyalira. Sebuah pesan singkat dalam bahasa Sunda yang meminta agar surat itu dibuka sendiri olehnya.

Notaris Soedirja tersenyum pelan, lalu berdiri dari kursinya. "Silakan dibaca dengan tenang, Neng Valine. Saya ada di ruangan sebelah jika Anda membutuhkan sesuatu."

Notaris Soedirja melangkah keluar menutup pintu ruangan, meninggalkan Valine sendirian di dalam keheningan ruang kerja berpanel kayu tersebut.

Valine membelah segel lilin merah itu dengan pisau kertas, lalu mengeluarkan dua lembar kertas folio bergaris yang sedikit menguning di tepinya. Kertas itu beraroma samar lemari kayu jati dan tembakau pipa kering khas Aki Warso.

Goresan tulisan tangan tinta hitam yang miring ke kanan dan berkarakter kuat memenuhi lembaran tersebut.

Valine menyapu matanya membaca baris-baris pertama:

Valine, Neng Geulis...

Ketika kamu membaca surat ini, mungkin Kakek sudah tidak ada lagi di dunia. Tapi Kakek menulis ini dalam keadaan sadar dan penuh rasa sayang kepadamu.

Kakek tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian selama beberapa tahun terakhir. Reza tidak pernah banyak bercerita, dan Kakek mungkin memang tidak berhak tahu urusan anak-anak muda zaman sekarang. Kakek hanya tahu setiap kali menyebut namamu, cucu Kakek selalu berubah diam.

Lihat selengkapnya