Kipas angin dinding berputar pelan meniup udara malam yang sejuk. Di atas meja belajar kayu lapis, laptop Valine menyala menampilkan lembar kerja pembukuan dengan ratusan baris data transaksi keuangan. Di samping laptop, map jepit tebal bertuliskan KERTAS KERJA REKONSILIASI FAKTUR & BUKTI OPERASIONAL UD KAWUNG SARI — PERIODE PENGELOLAAN LAMA tersusun rapi dengan tab-tab pemisah berwarna merah dan kuning.
Valine duduk mengenakan kaus katun abu-abu dan kacamata berbingkai tipis, menatap layar dengan ketelitian seorang akuntan profesional.
Jemari Valine bergerak lincah di atas papan ketik. Angka-angka terakhir pada tabel susut nira dan kuitansi vendor lama selesai direkonsiliasi.
Valine menekan perintah cetak ke printer portabel di samping mejanya. Mesin printer mencetak lembar kesimpulan eksekutif yang memisahkan temuan audit dan proposal pembenahan sistemik secara cermat.
Temuan Utama Audit:
1. Selisih Volume Nira: Pola ketidaksesuaian berulang antara volume pembelian nira tercatat dan volume fisik yang dapat direkonsiliasi pada buku timbang gudang.
2. Faktur Vendor Berulang: Sejumlah kuitansi pengadaan kayu bakar dan perlengkapan dengan nominal identik yang dicairkan lebih dari satu kali tanpa bukti penerimaan barang yang sepadan.
3. Anomali Pengeluaran Kas: Beban operasional tanpa otorisasi bertingkat yang terus membebani kas harian pabrik selama bertahun-tahun.
Lampiran Rekomendasi Tata Kelola:
Draf pembentukan koperasi penderes nira berbadan hukum untuk memutus rantai tengkulak dan mengembalikan kendali pasokan kepada para petani aren.
Valine mengambil lembaran cetakan yang masih hangat, menandatangani lembar kertas kerja di bagian akhir sebagai penyusun: Valine Maheswari, S.Ak.
Valine merapikan seluruh berkas itu ke dalam map jepit hitam, lalu memasukkannya ke dalam tas ransel kerjanya. Kertas kerja ini bukan senjata balas dendam pribadi kepada Paman Darman, melainkan instrumen nyata untuk melindungi puluhan keluarga penderes yang menggantungkan hidup pada Kawung Sari.
Pekerjaannya malam ini telah tuntas, namun rongga dada Valine terasa hampa.
Valine meraih cangkir kertas tipis berisi kopi hitam yang tadi sore ia beli dari warung tenda di seberang gang kos. Dinding cangkir kertas itu sudah dingin dan sedikit penyok saat dipegang, meninggalkan jejak noda lingkaran manis kecokelatan di atas permukaan meja belajar.
Valine menyesapnya perlahan.
Rasa manis gula pasir tebu terasa tajam, datar, dan menusuk hambar di tenggorokannya.
Indera perasa Valine seketika memberontak menolak rasa kota itu. Di dalam kepalanya, ingatan fisiknya justru melayang jauh ke dapur rumah joglo di lereng Gunung Sawal: aroma uap nira yang mengepul dari ketel hitam tua, dan secangkir kopi tubruk panas dalam cangkir seng loreng hijau tebal yang diseduh dengan irisan gula aren Kawung Sari yang legit beraroma karamel. Cangkir seng itu selalu menahan panas lebih lama, menghangatkan kedua telapak tangannya yang kaku sehabis berjam-jam menghitung kuitansi di udara pegunungan yang menusuk tulang.
Kamar kos ini terlalu steril dan sunyi. Hanya ada dengung pelan baling-baling kipas angin di dinding.
Di joglo Aki Warso, setiap kali Valine begadang menekuni tumpukan kuitansi di meja makan, suasana tidak pernah sehening ini. Selalu ada dengung rendah dari televisi tabung empat belas inci di sudut ruang tengah. Layar cembung tua peninggalan kakek yang gambarnya sedikit bergaris itu biasanya menyiarkan warta berita malam atau pertandingan bulu tangkis dengan volume yang dikecilkan Reza hingga nyaris tak terdengar.
Reza selalu duduk bersila di atas tikar pandan, menyandarkan punggungnya ke tiang kayu jati, berpura-pura tekun menatap layar kaca bersemut itu semata-mata agar tidak mengusik ruang kerja Valine. Pria itu menjaga jarak yang sangat sopan, tidak banyak bicara, namun selalu berada di sana—memastikan Valine tidak merasa sendirian di tengah dinginnya malam lereng gunung.
Di kamar kos Bandung ini, tidak ada dengung televisi tabung tua itu. Tidak ada pria pendiam bertangan kasar yang meletakkan cangkir seng hangat di tepi mejanya tanpa bersuara.
Valine menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar.
Otak akuntannya yang selalu dingin mencoba membela diri: ia meyakinkan dirinya bahwa perasaan kehilangan ini hanyalah nostalgia biasa. Ia mengira dirinya hanya merindukan ketenangan lereng Sawal, sejuknya kabut pagi, gemericik air balong, dan keramahan warga desa setelah bertahun-tahun hidup dalam kepura-puraan Jakarta dan kejaran utang di Bandung.
Ia membujuk hatinya bahwa yang ia rindukan hanyalah suasana tempat itu, bukan orangnya.
Valine menunduk menatap ponsel pintarnya yang tergeletak di samping map audit.
Ada dorongan kuat di benaknya untuk mengetahui kabar Kawung Sari. Valine tidak bisa menelepon Reza secara langsung. Bukan hanya karena harga dirinya sebagai perempuan yang meminta ruang untuk memilih, melainkan karena ia tahu Reza terlalu lihai menyembunyikan penderitaannya demi menenangkan orang lain. Jika Valine bertanya, Reza pasti akan memasang topeng bahwa segalanya baik-baik saja.