BAGI DUA

Kantin Cerita
Chapter #43

Chapter #43


Balai pendopo rumah joglo Aki Warso dipadati oleh puluhan pasang mata pada pukul sembilan kurang seperempat pagi.

Sinar matahari pagi menyinari deretan tiang kayu jati berukir. Suasana di pendopo sangat padat namun sunyi membeku. Uwa Sukarna duduk di kursi kepala meja kayu jati panjang mengenakan kemeja batik sogan dan peci hitam. Di sekeliling meja, para sesepuh Dusun Giriharja, Bibi Endang, dan kerabat Mahendra duduk memenuhi kursi kayu.

Di pelataran luar pendopo, puluhan pekerja pabrik dan penderes nira bersarung tenun berdiri berdesakan dengan raut wajah tegang menatap ke arah meja pemeriksaan.

Notaris R. Soedirja duduk di sisi tengah meja, membuka tas kulit hitamnya dan mengeluarkan tumpukan map akta notarial berkop resmi.

Di sisi kiri meja, Reza Mahendra duduk mengenakan kemeja katun hitam polos. Di sebelah kiri Reza, sebuah kursi kayu jati tampak kosong melompong.

Jarum panjang jam dinding kayu kuno di tiang pendopo berdetak menunjuk angka dua belas tepat pada pukul sembilan pagi.

Suara dentang jam sembilan kali bergema memecah keheningan ruangan.

Notaris R. Soedirja merapikan kacamatanya, lalu berdeham pelan seraya mengetukkan jarinya ke atas tumpukan dokumen.

"Sampurasun. Selamat pagi Uwa Sukarna, para sesepuh keluarga Mahendra, Reza, dan Pak Darman," buka Notaris Soedirja dengan suara berwibawa. "Hari ini tepat hari kesembilan puluh sejak Saudara Reza Mahendra dan Saudari Valine Maheswari melangsungkan perkawinan sah dan memulai masa domisili bersama sebagaimana disyaratkan dalam Wasiat Pertama."

Notaris Soedirja meletakkan selembar dokumen tebal di tengah meja. "Sesuai ketentuan dalam akta induk peninggalan almarhum Bapak Warso Mahendra, hari ini adalah batas akhir masa penetapan pengelolaan operasional sementara. Agenda pertemuan pagi ini adalah memeriksa pemenuhan syarat Wasiat Pertama, yakni pelaksanaan perkawinan yang sah dan mempertahankan domisili rumah tangga bersama di Kawung Sari selama minimal sembilan puluh hari."

Notaris Soedirja mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut meja, lalu berhenti pada kursi kosong di samping Reza. "Sebelum kita memulai pemeriksaan berkas... saya mencatat bahwa Saudari Valine Maheswari belum hadir di meja pemeriksaan pagi ini."

Bisik-bisik tertahan terdengar dari arah kerumunan kerabat dan penderes di luar pendopo.

Reza menatap kursi kosong di sampingnya. Tidak ada getaran panik di jemari Reza. Reza menarik napas pelan, menatap Notaris Soedirja dengan anggukan tenang.

"Valine sedang berada di Bandung sejak sepuluh hari lalu, Pak Soedirja."

Lihat selengkapnya