Belum genap sepuluh detik sejak suara decit rem mobil travel memecah pekarangan, pintu masuk pendopo terbuka lebar.
Sinar matahari pagi menyinari sosok perempuan muda yang berdiri di ambang pintu masuk. Valine mengenakan kemeja katun hitam berlapis jaket kanvas sederhana yang berdebu tipis di bagian bahunya. Celana bahan kelabunya tampak kusut setelah berjam-jam duduk di kabin travel malam melintasi jalur pegunungan. Rambut hitamnya terikat rapi ke belakang dengan beberapa helai anak rambut terlepas membingkai pelipisnya. Di pundak kanannya, sebuah tas selempang dokumen tebal tampak berat menampung tumpukan berkas.
Valine melangkah melewati ambang pintu kayu jati. Langkah sepatunya menjejak lantai papan pendopo dengan bunyi mantap dan tenang.
Seluruh pasang mata di ruangan itu mematung menatapnya.
Reza yang duduk di sisi kiri meja seketika bangkit berdiri. Napas Reza tertahan di tenggorokan. Kedua tangannya bertumpu di tepi meja, menatap perempuan yang melangkah masuk ke pendopo dengan tatapan tak percaya.
Darman menoleh kaku dengan raut wajah yang membeku.
Valine tidak berhenti melangkah. Ia melangkah lurus menuju meja pemeriksaan utama. Jarum panjang jam dinding kayu kuno di tiang pendopo masih berada beberapa detik sebelum angka enam tepat.
Notaris Soedirja menatap jam dinding, lalu menatap Valine dengan pena emas yang masih melayang di atas lembar berita acara. Batas waktu pemeriksaan belum ditutup.
Valine menatap Uwa Sukarna dan Notaris Soedirja, lalu mengangguk takzim. "Sampurasun, Uwa Sukarna, Bapak Notaris. Saya, hadir di meja pemeriksaan ini dalam keadaan sadar dan sehat dan tanpa paksaan sama sekali."
Uwa Sukarna mengembuskan napas panjang, tersenyum lega seraya menyandarkan tongkat peraknya. "Rampes, Neng Valine. Mangga duduk di tempat yang menurut kamu nyaman." Uwa Sukarna menyambutnya dengan hangat, mempersilakan Valine duduk di samping suaminya.
Valine melangkah mendekati kursi kayu jati kosong di samping Reza.
Saat ia berdiri di samping Reza, pandangan mata mereka berdua bertemu. Tidak ada amarah. Tidak ada kepalsuan. Keduanya menatap satu sama lain dengan kejernihan batin yang baru.
"Val..." bisik Reza sangat pelan, tercekat di tenggorokan.
Valine tidak langsung duduk. Ia menatap Notaris Soedirja dengan suara yang jernih dan tegas. "Sebelum pemeriksaan ditutup, saya ingin memberikan keterangan langsung untuk berita acara, Pak Soedirja. Kepergian saya ke Bandung adalah kepergian sementara untuk menyelesaikan urusan pekerjaan dan menata kembali pikiran saya. Saya tidak pernah mengajukan gugatan cerai, tidak pernah menyatakan memindahkan domisili secara permanen, dan saya kembali hari ini ke Kawung Sari atas keputusan bebas saya sendiri."
Notaris Soedirja mengangguk tertib, mencatat keterangan itu di lembar notulennya. "Keterangan Saudari Valine dicatat resmi dalam berita acara pemeriksaan."
Darman merapatkan bibirnya. Keterangan langsung Valine membuat klaim sepihaknya bahwa domisili itu telah berakhir permanen tidak lagi berdiri tanpa bantahan.