Hari ke-90 masa domisili. Jam dinding kayu di tiang balai pendopo menunjuk tepat pukul sembilan lewat tiga puluh menit.
Beberapa detik setelah Valine menatap mata suaminya dan mengangguk, keheningan yang rapat menyelimuti balai pendopo rumah joglo Aki Warso.
Reza menarik napas panjang. Udara pegunungan terasa dingin saat ia mengisi rongga dadanya. Perlahan, Reza bangkit berdiri dari kursi kayu jatinya. Di sampingnya, Valine ikut berdiri tegak. Jemari tangan kiri Reza bertaut rapat dengan jemari tangan kanan Valine di atas permukaan meja, saling mengunci tanpa ragu.
Reza menatap lurus ke arah Notaris Soedirja, Uwa Sukarna, dan deretan kerabat keluarga besar yang duduk mengelilingi meja panjang. Suara Reza terdengar tenang, berat, dan bergema jernih ke setiap sudut pendopo.
"Uwa Sukarna, Bapak Notaris Soedirja, dan seluruh keluarga besar Mahendra... apa yang dikatakan Paman Darman barusan adalah kebenaran yang tidak akan kami bantah."
Suasana pendopo seketika berdesir. Bibi Endang terkesiap dan menutup mulutnya. Para sesepuh Giriharja saling bertukar pandang dengan kening berkerut.
Reza tidak mengalihkan pandangannya dari Uwa Sukarna. "Pernikahan saya dan Valine memang diawali sebagai pernikahan kontrak bisnis sembilan puluh hari demi memenuhi Wasiat Pertama almarhum Aki Warso. Saya yang mendatangi Valine ke Bandung dan menawarkan perjanjian bagi dua lima puluh persen manfaat ekonomi pribadi saya agar Valine bersedia datang ke desa ini."
Valine melangkah setengah jengkal ke depan, menyambung kalimat suaminya dengan nada bicara yang tegas dan jernih. "Dan saya menerima tawaran itu murni karena motif uang. Saya membutuhkan dana untuk menunda lelang rumah almarhumah ibu saya di bank. Kami berdua memulai rumah tangga ini sebagai rekanan bisnis di atas kertas bermeterai."
Valine menatap Paman Darman sekilas, lalu kembali menatap Notaris Soedirja. "Di Hari ke-45, ketika Instruksi Kedua dibuka dan memuat syarat keturunan langsung demi hak kepemilikan tanah, kami berdua sepakat menolak klausul tersebut. Kami menolak menjadikan anak sebagai alat memperoleh kepemilikan tanah."
Reza melanjutkan kalimat istrinya tanpa jeda, menatap para tetua dengan ketulusan yang telanjang. "Selama masa sembilan puluh hari ini, kami membenahi pabrik bersama para penderes, dan menemukan serta mendokumentasikan penyimpangan pembukuan lama. Namun kami menolak mempertahankan hak kelola kami hari ini dengan kebohongan sandiwara baru."
Reza mengeratkan genggamannya pada jemari Valine. "Kalau kejujuran ini membuat saya tidak memiliki hak lanjutan apa pun atas Kawung Sari, saya ikhlas menerimanya. Kami hanya tidak ingin memimpin tempat ini di atas kebohongan lagi."
Keheningan yang pekat kembali merayap di balai pendopo. Tidak ada bisikan kerabat, tidak ada suara lembaran kertas yang bergeser.
Uwa Sukarna menatap Reza dan Valine dengan tatapan yang sangat dalam. Sorot mata pria tua itu bergetar, dadanya turun naik menahan gelombang rasa yang berkecamuk.
"Kalian... kalian membuat kekacauan yang sangat besar disini," bisik Uwa Sukarna dengan suara serak. Pria tua itu terdiam beberapa detik, lalu menghela napas panjang seraya menyeka sudut matanya. "Tapi setidaknya... akhirnya kalian berdua punya keberanian untuk bicara jujur di hadapan Gusti Allah dan keluarga."
Notaris Soedirja menarik selembar berita acara resmi berkop lambang Garuda. Pena bertinta hitam digoreskan di atas kertas tebal itu, mencatat pengakuan lisan kedua pihak secara rinci.