Dua cangkir kaleng enamel berisi seduhan kopi tubruk gula aren mengepulkan uap hangat di atas meja kayu kecil di samping tiang teras rumah joglo.
Reza dan Valine duduk berdampingan di undakan kayu teras dengan kaki menjuntai ke arah pekarangan kerikil yang bersih.
Reza mengenakan kaus katun abu-abu sederhana dan celana panjang kerja, sementara Valine mengenakan blus katun putih longgar dengan rambut terurai santai di pundaknya. Garis letih masih tersisa samar di bawah kelopak mata Valine setelah perjalanan malam dari Bandung dan ketegangan panjang kemarin, tetapi sorot matanya tidak lagi setegang beberapa hari sebelumnya.
Reza menaruh cangkir kopinya di atas meja kecil. Ia merogoh map putih tipis yang diletakkannya di samping kakinya—map yang sepuluh hari lalu ditinggalkan Valine di atas meja rias kamar pengantin sebelum perempuan itu berangkat ke Bandung.
Perlahan, Reza meletakkan map putih tersebut di atas pangkuan rok Valine.
Valine menunduk menatap map itu. Di atas lembaran draf niat permohonan cerai yang dulu ia tinggalkan, kini terselip satu lembar baru yang telah ditandatangani Reza di atas meterai pagi tadi: surat pernyataan bahwa ia tidak akan menghalangi jika Valine tetap memilih mengajukan perceraian.
Reza menatap lurus ke depan, ke arah hamparan pohon kemuning di pekarangan. Suara Reza terdengar sangat lembut dan tulus.
"Kemarin pagi, Notaris Soedirja telah mencatat penutupan masa sembilan puluh hari secara resmi. Sengketa pabrik telah tuntas, dan kedaulatan para penderes sudah terlindungi dalam PT Kawung Sari Bersama."
Reza menoleh menatap manik mata Valine.
"Dan sesuai janjiku di hari pertama kamu menginjakkan kaki di desa ini... aku tidak akan pernah menahanmu di sini jika kamu merasa tempat ini bukan rumahmu. Kalau kamu tetap ingin mengajukan cerai, aku tidak akan menghalangi. Pilihan sepenuhnya ada di tanganmu, Val."
Reza menarik napas pelan seraya tersenyum teduh. "Aku mencintaimu, Val. Dan karena aku mencintaimu, pilihan hidupmu seutuhnya ada di tanganmu sendiri."
Valine menatap tanda tangan suaminya dengan tinta hitam basah di atas meterai sepuluh ribu rupiah pada lembar persetujuan itu.
Lalu, perlahan-lahan, dengan gerakan yang sangat mantap dan tenang, Valine mengambil lembar tersebut, melipatnya menjadi dua bagian, lalu melipatnya lagi menjadi empat bagian kecil.
Reza tertegun menatap gerakan jemari Valine. "Val...?"