Bahtera yang Hampir Karam

Baretta
Chapter #1

Pertengkaran Lagi

"Apa itu ?"

Sebastian hanya melirik, tidak berminat menyentuh lembaran yang diletakkan Hana di atas meja kerjanya.

"Surat teguran dari sekolah. Anak-anak harus segera melunasi uang sekolah sebelum ujian akhir semester. Jadwalnya lima hari lagi dan tadi siang aku sudah menemui kepala sekolah."

Bukan cuma tidak menjawab, tatapan Sebastian tetap fokus ke layar laptop dan sesekali jemarinya bergerak mengetik di antara deretan keyboard, seakan-akan penjelasan Hana hanya suara penyiar radio yang sedang siaran.

Hana kembali menghela nafas menahan kesal. Bukan pertama kali Sebastian acuh kalau diajak bicara soal masalah anak dan rumah tangga mereka.

"Jadi solusinya gimana Bas ?"

"Kok tanya sama aku ? Bukannya tadi kamu bilang sudah bertemu dengan kepala sekolah ? Masalahnya dimana ?"

"Bu Ratih minta uang sekolah anak-anak segera dilunasi. Tiga-tiganya sudah menunggak selama 6 bulan Bas dan sebentar lagi kenaikan kelas."

"Tidak bisa ! Uangnya sudah aku pakai untuk membayar cicilan mobil papa."

"Kenapa kamu jadi yang bayar cicilan mobil papa ?"

Suara Hana yang meninggi dan pertanyaannya membuat Sebastian akhirnya menoleh. Dengan kedua alis menaut, raut wajah Sebastian menunjukkan rasa tidak suka tapi Hana tidak menyesal dengan ucapannya bahkan dengan berani ia membalas tatapan suaminya dengan sikap menantang

"Tadi bu Ratih sempat bilang kalau dia percaya kita sanggup melunasinya karena biaya uang sekolah tiga anak tidak semahal gaji sopir tiap bulannya."


BRAK !


Hana terlonjak tapi karena kaget. Kelakuan Sebastian tidak membuat hatinya ciut sedikit pun malah ia melotot sambil bertolak pinggang.

"Besok aku yang menemui bu Ratih."

"Buat apa ?"

"Dia kepala sekolah bukan konsultan perkawinan. Untuk apa dia mencampuri urusan pribadi rumah tangga orang. Mau pakai sopir atau tidak itu urusan kita !"

"Tapi apa yang dikatakan bu Ratih ada betulnya lagipula kenapa kamu malah yang bayar cicilan mobil papa. Bukannya awal tahun ini sudah kita lunasi ? Diagunkan lagi ? Kamu tahu Bas ?'

"Mau diagunkan lagi atau tidak, itu hak papa !" sahut Sebastian dengan nada membentak.

"Aku tahu itu mobil papa tapi yang melunasi cicilannya selama 2 tahun ya kamu. Paling tidak papa bilang dulu kalau mau diagunkan lagi."

"Jadi kamu mulai perhitungan dengan orangtuaku ?"

Lihat selengkapnya