Pagi hari di kawasan pinggiran kota selalu membawa ritmenya sendiri. Suara deru mesin angkutan umum yang beradu dengan suara gesekan sapu lidi di atas aspal kering menciptakan melodi rutinitas yang monoton namun menenangkan. Di sebuah rumah sederhana berukuran enam kali sembilan meter, dengan dinding setengah bata yang catnya sudah mengelupas di sana-sini, aroma kopi tubruk bercampur uap air mendidih mengepul dari sebuah dapur kecil.
Budi duduk di kursi kayu yang salah satu kakinya diganjal potongan triplek agar tidak goyah. Di hadapannya, secangkir kopi hitam mengepulkan asap tipis. Matanya menatap kosong ke luar jendela yang kacanya retak di sudut kanan atas. Di luar, matahari baru saja merangkak naik, menyinari halaman sempit yang dipenuhi pot-pot plastik bekas cat berisi tanaman lidah buaya.
"Mas, kopinya keburu dingin," suara lembut Rini membuyarkan lamunan Budi.
Rini melangkah mendekat, membawa piring kecil berisi beberapa potong singkong rebus yang masih mengepul. Ia mengenakan daster katun pudar yang sudah bertahun-tahun setia menemaninya melakukan pekerjaan rumah tangga. Wajahnya menyiratkan kelelahan, namun garis-garis senyum di ujung matanya selalu berhasil memancarkan keteduhan, bahkan di tengah himpitan hidup yang kian hari kian menyesakkan dada.
"Ah, iya, Rin," ucap Budi seraya menarik cangkirnya mendekat. Ia tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan gundah yang sejak semalam bergemuruh di kepalanya. "Kamu sudah sarapan?"
"Sudah, sedikit tadi sama teh hangat. Mas ini, kalau punya pikiran jangan cuma disimpan sendiri. Dari semalam aku dengar Mas bolak-balik terus di ruang tengah. Kasur jadi saksi kalau tidur Mas tidak nyenyak," balas Rini sambil duduk di kursi seberang Budi, menatap suaminya lekat-lekat dengan pandangan penuh pengertian.
Budi menghela napas panjang. Udara pagi yang sejuk seolah gagal menembus beban di dadanya. Ada rahasia besar yang selama ini ia pendam rapat-rapat. Sebuah prinsip hidup yang selalu ia pegang teguh sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota besar ini—sebuah filosofi warisan almarhum ayahnya yang dikenal sebagai filosofi "simpan di dada".
"Bukannya aku tidak mau cerita, Rin. Tapi ada hal-hal yang kalau diucapkan, rasanya malah jadi beban ganda buat kita berdua. Kamu tahu sendiri, hidup kita ini ibarat berjalan di atas selembar kertas tipis. Salah melangkah sedikit saja, robek," ucap Budi pelan, suaranya hampir berbisik tersapu suara angin pagi.
"Simpan di dada itu bukan berarti memikul semuanya sendirian, Mas," jawab Rini lembut, jemputannya yang kasar akibat terlalu sering terkena deterjen menyentuh punggung tangan Budi yang berurat. "Kalau dada Mas itu penuh sama duri, lama-lama kan Mas sendiri yang terluka. Ceritakanlah, biar aku bisa jadi sandaran, atau setidaknya, jadi tempat berbagi rasa sakit."
Budi menatap mata istrinya. Ada ketulusan yang luar biasa di sana. Rini bukan perempuan penuntut. Selama sepuluh tahun pernikahan mereka, dalam susah maupun senang, Rini tidak pernah sekalipun mengeluh tentang fasilitas hidup yang minim. Mereka hidup pas-pasan, terkadang bahkan kurang, namun kehangatan rumah tangga kecil itu selalu berhasil meredam badai di luar sana.
Namun, beban yang dibawa Budi kali ini berbeda. Ini bukan sekadar urusan dapur yang bolong atau cicilan warung tetangga yang menumpuk. Ini menyangkut masa depan, sebuah keputusan moral yang mempertaruhkan harga diri mereka sebagai manusia.
"Kemarin mandor proyek memanggilku," mulai Budi, suaranya tercekat di tenggorokan. "Ada tawaran... bukan tawaran sebenarnya, lebih ke sebuah keharusan yang menyulitkan."
❖ ❖ ❖
"Keharusan bagaimana maksudnya, Mas?" tanya Rini, alisnya bertaut. Ketegangan tiba-tiba menyeruak di antara cangkir kopi dan piring singkong rebus.
Budi menyesap kopinya yang sudah mulai menghangat. Rasa pahit cairan itu kini sejalan dengan kepahitan di lidahnya. "Mandor Joko meminta kita untuk menyerahkan sertifikat tanah warisan orang tuamu di kampung sebagai jaminan tambahan atas proyek pembangunan gudang logistik yang sedang aku tangani. Katanya, ada penarikan dana mendadak dari pusat, dan posisi keuanganku di kantor sedang dalam sorotan."
Mata Rini melebar seketika. Jantungnya berdegup kencang. Tanah di kampung itu adalah satu-satunya aset berharga peninggalan almarhum ayahnya—sebidang tanah kecil tempat masa kecilnya dihabiskan, tempat kenangan terakhir bersemi sebelum ia merantau ke kota.
"Tanah bapak? Tapi kan tanah itu atas nama aku, Mas, dan itu bukan hak kita buat dijadikan jaminan sembarangan tanpa rembuk keluarga besar," suara Rini sedikit meninggi, kendati ia tetap berusaha menjaga nada suaranya agar tidak membangunkan tetangga sebelah.
"Aku tahu, Rin! Aku tahu persis!" Budi mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang kasar. "Makanya aku bilang tadi, hal seperti ini berat kalau diucapkan. Mandor Joko mengancam. Kalau dalam waktu tiga hari aku tidak bisa membawa surat itu, posisiku sebagai pengawas lapangan akan digantikan, dan gajiku tiga bulan terakhir yang belum dibayar akan hangus begitu saja."
Suasana di ruang tamu mendadak sunyi. Yang terdengar hanya deru kendaraan bermotor dari kejauhan dan suara jam dinding plastik yang berdetak lambat. Tiga bulan gaji bukanlah jumlah yang sedikit bagi mereka. Itu adalah napas hidup mereka untuk membayar sewa kontrakan, biaya sekolah anak-anak tetangga yang sering dibantu Budi, dan kebutuhan sehari-hari.
"Kenapa bisa sampai begini, Mas? Bukannya laporan keuangan proyek selalu lancar?" tanya Rini lirih, suaranya bergetar menahan kecewa bukan pada Budi, melainkan pada keadaan yang begitu tidak adil.
"Ada permainan di atas, Rin. Aku hanya dijadikan kambing hitam untuk menutupi selisih anggaran yang hilang. Mandor Joko tahu aku orang lurus, makanya aku yang ditekan karena dia tahu aku tidak punyabackingkuat di kantor,"jelas Budi getir.
Rini bangkit dari kursinya, berjalan pelan menuju jendela, menatap keluar tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya berkecamuk. Di satu sisi, ia sangat menghormati prinsip Budi yang selalu menjunjung tinggi kejujuran. Namun di sisi lain, ancaman kehilangan sumber penghidupan utama adalah bencana besar bagi keluarga kecil mereka.
"Prinsip 'simpan di dada' yang bapak ajarkan dulu... apakah artinya kita harus diam saja saat diperas seperti ini?" tanya Rini pelan, matanya berkaca-kaca menatap pantulan dirinya sendiri di kaca jendela yang berdebu.
"Bukan diam, Rin," Budi ikut berdiri, menyusul istrinya dan berdiri tepat di belakangnya. Ia merentangkan tangan, hendak merangkul pundak Rini yang tampak rapuh. "Simpan di dada itu artinya kita menelan ludah kepahitan ini tanpa harus merusak tatanan hidup orang lain dengan kemarahan yang sia-sia. Kita cari jalan lain. Masih ada waktu dua hari sebelum tenggat waktu dari Mandor Joko."
"Jalan apa lagi, Mas? Tabungan kita sudah habis tersedot waktu anak-anak sakit bulan lalu. Emas kawin? Sudah lama pindah ke laci toko emas di pasar demi bayar kontrakan tahun lalu," tukas Rini, air matanya akhirnya tumpah juga, membasahi pipinya yang mulai menampakkan kerutan halus.
Budi terdiam. Kalimat Rini adalah kenyataan yang telanjang. Tidak ada lagi barang berharga yang bisa dijual. Tidak ada lagi tempat meminjam uang karena semua kerabat mereka di kota mengalami nasib serupa—hidup pas-pasan di pinggiran roda ekonomi metropolitan.
❖ ❖ ❖
Hari bergulir cepat, membawa Budi dan Rini ke dalam pusaran dilema yang semakin menghimpit. Matahari siang membakar terik di atas kepala Budi yang tengah berdiri di bawah tenda proyek konstruksi. Debu jalanan berterbangan setiap kali truk bermuatan material melintas di sampingnya.