Baiti Jannati

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Rutinitas Parmin di kebun

Matahari belum sepenuhnya mengoyak kabut tebal yang menyelimuti perbukitan lereng Gunung Tanggamus, tetapi Parmin sudah melangkah keluar dari pintu rumah kayunya. Udara pagi yang dingin menusuk tulang, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam dan wangi khas daun kopi yang mulai matang di dahan-dahan. Bagi lelaki berusia paruh baya itu, fajar bukanlah penanda untuk tidur kembali, melainkan panggilan alam yang tak pernah ingkar janji.

Di pekarangan depan, suara sapu lidi yang bergesekan dengan permukaan tanah berpasir menciptakan irama monoton yang menenangkan. Parmin menarik napas dalam-dalam, membiarkan paru-parunya terisi penuh oleh oksigen murni yang menyegarkan. Tangannya yang kasar dan penuhurat memegang erat gagang sapu, membersihkan guguran daun mahoni yang berserakan. Rutinitas ini telah dilakoninya selama lebih dari tiga dekade, sebuah siklus hidup yang berputar di antara rimbunnya pepohonan, deru angin gunung, dan derit ranting yang patah dihempas unggas hutan.

Tidak lama berselang, suara pintu derit berderit pelan dari arah dapur. Ana, anak perempuannya yang beranjak remaja, muncul dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi hitam mengepul dan sepiring ubi rebus hangat. Wajah Ana masih menyiratkan sisa-sisa kantuk, tetapi senyum tipis menghiasi bibirnya saat melihat sang ayah sudah sibuk sejak pagi.

"Pagi, Bpk. Tadi malam hujan deras sekali, tanaman di kebun aman tidak ya?" tanya Ana sambil meletakkan nampan di atas meja kayu reyot di teras rumah.

Parmin menghentikan kegiatannya, menyandarkan sapu lidi ke dinding papan, lalu berjalan mendekati meja. Ia mengambil cangkir kopi, meniup permukaannya yang masih panas perlahan-lahan sebelum menyeruputnya sedikit. Rasa pahit yang pekat langsung menghangatkan kerongkongannya.

"Aman, Na. Tanaman kopi kita akarnya sudah kuat mencengkeram tanah. Justru air hujan semalam itu bagus buat kesuburan tanah, membuat buahnya makin cepat bernas," jawab Parmin dengan suara baritonnya yang tenang, menenangkan kekhawatiran putrinya.

Ana duduk di kursi kayu, mengambil sepotong ubi rebus lalu menggigitnya pelan. "Adi mana, Pak? Tadi kulihat kamunya masih tidur pulas."

"Biar saja, bocah itu semalam habis membantu bapak mengangkut pupuk organik sampai larut malam. Biar dia istirahat sebentar lagi," sahut Parmin sambil mengarahkan pandangannya ke arah kebun kopi di belakang rumah. Hamparan hijau itu tampak berkilau diterpa sinar matahari pagi yang mulai menembus celah-celah dedaunan.

Bagi Parmin, kebun bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan perpustakaan kehidupan tempat ia membaca tanda-tanda alam. Di sanalah ia menghabiskan sebagian besar waktunya, merawat setiap pohon bagaikan merawat anak-anaknya sendiri. Setiap helai daun yang menguning atau bunga yang gugur sebelum waktunya selalu membawa pesan tersendiri yang harus ia pahami.

❖ ❖ ❖

Matahari kian beranjak tinggi, memancarkan kehangatan yang mulai mengusir sisa dingin pegunungan. Parmin dan Adi, anak laki-lakinya yang berusia belasan tahun, berjalan berdampingan menapaki jalan setapak berlumpur menuju petak kebun bagian atas. Langkah kaki mereka mantap, terbiasa menyusuri kontur tanah yang curam dan berbukit. Adi membawa serta parang panjang yang diselipkan di pinggangnya, sementara Parmin menenteng keranjang bambu kosong tempat mereka nanti memetik buah kopi yang sudah berwarna merah ranum.

Setibanya di kebun, kesunyian pagi langsung digantikan oleh suara serangga hutan dan burung-burung kecil yang bersahutan. Namun, suasana damai itu seketika terusik ketika pandangan Parmin jatuh pada sudut barat kebun, dekat aliran sungai kecil yang membatasi lahan mereka dengan kawasan hutan lindung.

Beberapa batang pohon kopi tampak miring, batangnya terkelupas seolah-olah baru saja dihantam oleh benda tumpul yang sangat besar. Tanah di sekitarnya tampak amblas, meninggalkan jejak-jejak tapak kaki yang sangat besar dan asing. Jejak itu bukan milik manusia, pun bukan milik hewan ternak warga sekitar seperti kambing atau sapi.

Parmin menghentikan langkahnya secara mendadak. Ia berlutut di samping salah satu pohon yang rusak, meraba permukaan tanah yang tercabik-cabik dengan jari-jarinya. Kerutan di keningnya semakin dalam.

"Adi, kemarilah. Coba lihat ini," panggil Parmin dengan suara tertahan namun sarat ketegangan.

Adi yang tadinya berjalan di depan langsung berbalik dan menghampiri ayahnya. Begitu melihat kondisi tanaman dan jejak tapak di tanah, mata pemuda itu membelalak kaget.

"Wah, jejak apa ini, Pak? Besar sekali! Seperti tapak kaki binatang buas," seru Adi dengan nada cemas, tangannya reflek memegang gagang parang di pinggangnya.

Parmin tidak langsung menjawab. Ia mengamati bentuk jejak tersebut dengan teliti. Ukurannya hampir sebesar dua telapak tangan orang dewasa, dengan ckram-cengkraman kuku yang dalam menancap di tanah liat. Ingatannya langsung melayang pada cerita-cerita para sesepuh desa tentang harimau Sumatra atau babi hutan raksasa penunggu hutan lereng gunung, namun bentuk jejak ini terasa berbeda, lebih menyerupai sesuatu yang asing dan tidak biasa berkeliaran di dekat permukiman.

"Jangan gegabah, Di. Tetap waspada," pesan Parmin tegas sambil bangkit berdiri. "Kerusakan ini bukan karena angin or longsor biasa. Ada sesuatu yang merangsek masuk ke kebun kita tadi malam."

Kecemasan mulai merayap di dada Parmin. Kebun itu adalah sumber penghidupan satu-satunya bagi keluarganya. Jika ada gangguan besar dari hewan liar atau pihak-pihak tak bertanggung jawab yang merusak ekosistem sekitar, kelangsungan panen tahun ini terancam gagal total.

Lihat selengkapnya