Baiti Jannati

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Kehangatan masakan Bi Endah

Suara ketukan pisau di atas talenan kayu selalu menjadi penanda waktu yang paling akurat di rumah tua itu. Tok, tok, tok. Bagi Aris, irama itu lebih menenangkan daripada deru kendaraan di jalan raya luar sana. Ia berdiri di ambang pintu dapur, menatap punggung seorang perempuan paruh baya yang sibuk mengaduk kuah gulai di atas kompor tanah liat.

"Bi, aroma bumbunya sudah tercium sampai ke teras depan," kata Aris sambil melangkah masuk, menyandarkan bahunya ke kusen pintu yang catnya mulai mengelupas.

Bi Endah menoleh sekilas, tersenyum hingga garis-garis di sekitar matanya melintang lembut. "Bumbu rahasia keluarga, Den. Kalau tidak sabar menumisnya sampai pecah minyak, rasanya pasti hambar. Duduklah dulu, air teh hangatnya baru saja diseduh."

Dapur itu bukan sekadar tempat memasak. Di rumah peninggalan kakek mereka ini, dapur adalah jantung kehidupan. Dindingnya yang berwarna putih gading telah berubah kekuningan karena puluhan tahun terpapar asap kayu bakar dan uap masakan. Di sudut ruangan, bertumpuk wadah-wadah tanah liat tua, toples kaca berisi rempah-rempah kering, dan deretan bawang yang digantung di langit-langit. Bi Endah, dengan daster batik kesayangannya yang bermotif liris, bergerak lincah di antara perabotan itu seolah ia sedang menarikan sebuah tarian kuno yang diwariskan turun-temurun.

"Bibi sudah belanja ke pasar sejak subuh tadi?" tanya Aris, menarik kursi kayu berkaki pendek dan duduk di dekat meja kerja Bi Endah.

"Tentu saja. Kalau kesiangan, daging sapi yang segar sudah habis diborong orang lain," jawab Bi Endah sambil mematikan kompor. Ia menuangkan teh hangat beruap ke dalam cangkir seng antik bermotif lurik hijau. "Hidup itu harus dimulai pagi-pagi, Den Aris. Biar kita tidak tertinggal oleh rezeki yang bertebaran di bumi."

Aris menerima cangkir itu, merasakan kehangatannya menjalar ke telapak tangannya. Ia menghembuskan napas pelan, mencoba meredakan kegelisahan yang sejak semalam mencengkeram dadanya. Di luar, hujan gerimis mulai turun, mengetuk genteng tanah dengan suara gemerisik yang konstan.

"Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Den Aris, ya? Wajah Bibi sudah hafal. Kalau alis itu sudah bertaut, pasti ada urusan kantor atau kota besar yang membuat pusing," ujar Bi Endah tajam, seolah bisa membaca isi kepala Aris tanpa perlu kata-kata yang rumit.

Aris tersenyum pahit. "Pekerjaan selalu sama, Bi. Deadline, target, rapat yang tidak ada ujungnya. Kadang aku bertanya-tanya, untuk apa aku mengejar semua itu di Jakarta kalau pada akhirnya aku merasa asing di rumah sendiri."

Bi Endah meletakkan sendok pengaduknya, lalu berjalan mendekat. Ia meletakkan tangannya yang hangat di atas tangan Aris yang mencengkeram cangkir. "Kota besar itu keras, Den. Seperti batu kali. Tapi manusia itu ibarat air. Kalau kita terus melawan batu, kita yang akan hancur. Masakan Bibi ini... sederhana. Tapi kenapa banyak yang rindu? Karena di dalamnya ada sabar, ada api yang dijaga pelan-pelan, bukan api besar yang membakar segalanya."

Kata-kata itu sederhana, namun menohok tepat di tengah dada Aris. Ia menatap mata Bi Endah yang teduh, menemukan ketenangan yang selama ini hilang di tengah belantara beton ibu kota. Di tempat ini, di dapur yang dipenuhi aroma lengkuas, serai, dan kuah santan yang mendidih pelan, Aris merasa dirinya utuh kembali. Namun, ketenangan itu tidak akan bertahan lama, sebab sebuah bayangan masa lalu dan keputusan besar telah menunggu di ambang pintu.

❖ ❖ ❖

Sore menjelang malam, suasana dapur berubah menjadi arena sibuk yang teratur. Bi Endah menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam keluarga besar—sebuah tradisi tahunan yang hampir punah semenjak paman dan bibi Aris sibuk dengan urusan masing-masing di luar negeri. Namun, tahun ini, semua berjanji akan berkumpul.

"Den, tolong ambilkan daun jeruk purut di rak atas," pinta Bi Endah tanpa mengalihkan pandangannya dari wajan besar.

Aris bangkit dan meraih wadah kecil di rak kayu. Saat tangannya menyentuh dasar wadah, jemarinya tidak sengaja menyenggol sebuah kotak logam berkarat yang terselip di balik tumpukan resep-resep lama. Kotak itu jatuh berdenting ke lantai keramik dapur.

"Eh, pelan-pelan, Den," tegur Bi Endah.

Aris berjongkok, memungut kotak tersebut. Penutupnya terbuka sedikit, menampakkan beberapa lembar foto polaroid yang sudah menguning dan selembar surat dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal—tulisan tangan ibunya yang telah tiada sepuluh tahun lalu.

"Apa ini, Bi?" tanya Aris lirih, memegang selembar foto seorang wanita muda yang tersenyum lebar di depan dapur ini, memegang sepiring masakan.

Bi Endah menghentikan gerakannya. Ia mematikan api kompor, lalu mengusap kedua tangannya ke kain lap. Wajah perempuan tua itu mendadak berubah muram, menyembunyikan raut sendu yang jarang sekali diperlihatkannya.

"Itu... kenangan lama, Den. Seharusnya kotak itu tetap di atas sana," jawab Bi Endah dengan suara tertahan.

"Kenapa ibuku tampak begitu bahagia di sini, tapi di akhir hidupnya di kota, beliau selalu terlihat sedih?" Aris mendesak, rasa penasarannya berbenturan dengan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. "Dan surat ini... ada cap pos dari luar negeri. Dari siapa?"

Bi Endah menarik napas panjang, lalu duduk di kursi kayu di hadapan Aris. Ia menatap lurus ke dalam mata Aris, seolah menimbang apakah waktu yang tepat telah tiba untuk membuka rahasia yang selama ini terkubur rapat di bawah lantai dapur tua ini.

"Ibumu tidak pernah benar-benar ingin pergi ke kota, Den," ucap Bi Endah memulai kisah yang membuat udara di dalam dapur terasa menipis. "Rumah ini, dapur ini... adalah warisan sah dari kakekmu. Tapi ada perjanjian keluarga yang dilanggar saat ibumu memilih menikah dengan ayahmu dan membawanya pindah ke Jakarta demi ambisi karier."

"Ambisi?" Aris mengernyitkan dahi. "Ayah hanya seorang insinyur biasa."

"Bukan soal pekerjaan, Den. Tapi soal resep rahasia dan hak pengelolaan rumah makan keluarga kita yang dulu sempat terkenal sebelum terbakar misterius. Resep itu ada di dalam kotak hitam yang terkunci di ruang bawah tanah rumah ini." Bi Endah menunjuk lantai dapur yang tertutup karpet usang. "Dan kunci itu... ada di tangan pamanmu yang malam ini akan datang."

Pernyataan itu menghantam Aris seperti hantaman palu. Selama ini ia mengira kepulangan kerabatnya malam ini murni ajang silaturahim keluarga. Ternyata, ada perebutan warisan tak kasat mata yang tersembunyi di balik senyum ramah mereka.

❖ ❖ ❖

Suara deru mobil mewah memecah keheningan malam di halaman depan. Lampu sorot mobil menyinari jendela kaca dapur yang beruap. Pintu depan terbuka dengan bunyi derit yang khas, disusul oleh suara sepatu pantofel melangkah di atas lantai kayu ruang tamu.

"Bi Endah! Aris! Wah, kalian sudah sibuk rupanya!" teriak Paman Hendra dari ruang tengah, suaranya yang berat dan menggelegar memenuhi rumah tua tersebut.

Aris berdiri, meletakkan kotak logam itu kembali ke atas meja. Ia merapikan kemejanya, lalu melangkah keluar dari dapur menuju ruang tamu, didampingi oleh Bi Endah yang berjalan tenang membawa nampan berisi air minum.

Paman Hendra berdiri di dekat sofa tua berbalud kain bludru merah, mengenakan jas rapi meski penampilannya tampak lelah setelah perjalanan jauh. Di belakangnya berdiri istrinya, Tante Maya, yang sibuk mengibaskan debu dari mantel bulunya.

"Luar biasa, rumah ini tidak pernah berubah dari dulu. Bau asap kayu bakarnya masih saja menempel di dinding," komentar Tante Maya sambil menebar pandangan jijik ke sudut ruangan.

"Dapur ini adalah jiwa rumah ini, Tante," balas Aris dingin, menatap mata pamannya penuh selidik.

Paman Hendra tertawa renyah, meski matanya tidak ikut tersenyum. Ia menepuk bahu Aris kuat-kuat. "Wah, keponakan paman sudah besar dan kelihatan kritis sekarang. Baguslah. Karena malam ini, kita memang harus membicarakan masa depan rumah ini secara serius."

Lihat selengkapnya