Baiti Jannati

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Riak Kecil di Balik Tirai

Mentari perlahan condong ke barat, meninggalkan semburat jingga keemasan yang menembus celah jendela kaca ruang tamu. Hari telah beranjak malam, tetapi sisa-sisa penat dari luar seolah menolak untuk tinggal di ambang pintu. Rumah kecil itu, yang biasanya dipenuhi oleh gelak tawa riang dan suara langkah kaki kecil, malam ini terasa menyimpan atmosfer yang berbeda—sebuah ketegangan senyap yang mengapung di udara, menunggu waktu untuk jatuh.

Budi mendorong pintu depan dengan gerakan lesu. Tangannya yang bebas melonggarkan ikatan dasi di leher, sementara tas kerja berukuran sedang di tangan kanannya terasa begitu berat, seolah berbobot berkilo-kilo ton besi. Langkah kakinya gontai menapaki lantai keramik ruang tamu yang bersih. Hari ini adalah salah satu hari terburuk di kantor; proyek infrastruktur yang ia pimpin menghadapi kendala fatal di lapangan, dan atasannya menuntut penjelasan yang mustahil diselesaikan dalam waktu singkat.

"Aku pulang," ucap Budi dengan suara datar, nyaris berbisik pada dinding rumahnya sendiri.

Dari arah dapur, Rini muncul dengan balutan apron sederhana yang sedikit ternoda noda tepung. Wajahnya menyiratkan kelelahan yang tidak kalah hebat. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini tampak sedikit berantakan karena seharian harus berjibaku dengan Adi, putra bungsu mereka yang sedang berada di fase aktif-aktifnya—fase di mana setiap sudut rumah adalah arena penjelajahan yang membutuhkan pengawasan ekstra ketat.

"Kamu sudah pulang, Mas," balas Rini menyambut dengan senyuman tipis, meski matanya menyembunyikan simpanan rasa lelah yang mendalam. "Air hangat sudah disiapkan di kamar mandi. Mau langsung mandi atau makan dulu?"

"Nanti saja, Rin. Aku mau duduk sebentar," jawab Budi singkat. Ia melangkah menuju sofa ruang tamu dan langsung merebahkan diri, memejamkan mata sambil memijat batang hidungnya yang terasa nyeri akibat tekanan pikiran sepanjang hari.

Rini berdiri terpaku sejenak di dekat meja makan. Ada setitik rasa kecewa yang menyelinap di dalam dadanya. Ia berharap, sekembalinya sang suami dari rutinitas luar, setidaknya ada sapaan hangat atau pertanyaan kecil tentang bagaimana hari ini berjalan, terutama mengingat betapa kacaunya tingkah Adi sejak siang tadi. Namun, yang didapatinya justru kebisuan yang kaku.

"Ya sudah, kalau begitu aku siapkan makan malamnya di meja ya. Anak-anak sudah tidur lebih awal karena kecapekan habis main di halaman," ujar Rini berusaha menetralkan suaranya, meski nada getir tertinggal di ujung kalimatnya.

❖ ❖ ❖

Meja makan kecil di sudut ruang keluarga itu diterangi oleh lampu gantung berwarna kuning hangat. Hidangan sederhana buatan Rini tersaji rapi di atas meja: semangkuk sayur bayam, tempe goreng, dan ikan asin kesukaan Budi. Namun, suasana di sekeliling meja makan terasa dingin, kontemporer dengan kehangatan cahaya lampu tersebut.

Budi duduk di kursi kayu dengan pandangan kosong menatap piring di depannya. Sendok dan garpu di tangannya bergerak lambat, memilah-milah makanan tanpa ada nafsu makan yang nyata. Pikirannya masih melayang jauh ke ruang rapat kantor, memikirkan draf laporan kerugian yang harus ia pertanggungjawabkan esok pagi.

Rini duduk di seberangnya, memerhatikan setiap gerak-gerik suaminya dalam diam. Kesabaran yang ia kumpulkan sejak pagi perlahan mulai terkikis oleh dinding kebisuan yang dibangun Budi di hadapannya.

"Makanannya tidak enak, Mas?" tanya Rini akhirnya, memecah keheningan yang menyesakkan dada. Suaranya terdengar tenang, tetapi menyimpan getar ketidaknyamanan.

Budi mengerjap, seolah tersadar dari mimpi buruk yang panjang. Ia mengangkat kepalanya dan menatap sang istri. "Eh? Tidak, Rin. Makanannya enak. Aku cuma... lagi tidak selera makan saja. Perutku rasanya penuh."

"Penuh karena makanan atau penuh karena pekerjaan kantor yang terus kamu bawa pulang?" cecar Rini, kali ini nadanya sedikit meninggi, tidak lagi bisa disembunyikan. Ia meletakkan sendoknya di atas piring dengan bunyi dentingan yang cukup nyaring.

Budi menghela napas panjang, tanda bahwa ia mulai merasa terpojok. "Rin, tolong jangan mulai sekarang. Aku baru saja sampai rumah. Aku capek."

"Kamu capek? Kamu pikir aku tidak capek, Mas?" balas Rini, api kecil di dalam dadanya mulai berkobar. "Dari pagi aku di rumah urus Adi yang gak ada diamnya, beresin mainan yang berserakan, cuci baju, masak, tanpa ada yang bantu. Giliran kamu pulang, kamu duduk diam kayak orang asing, mengabaikan aku seolah aku ini cuma perabot rumah tangga!"

"Bukannya aku mengabaikan kamu, Rin! Kamu tidak tahu apa yang sedang aku hadapi di kantor!" suara Budi ikut naik satu oktaf, mempertahankan argumennya. "Aku banting tulang seharian di luar sana bukan untuk main-main! Aku capek mikirin nasib pekerjaan aku supaya dapur rumah ini tetap ngebul!"

"Dan aku di sini mengurus rumah tangga ini bukan untuk liburan, Mas!" Rini menatap Budi tajam, matanya mulai berkaca-kaca menahan emosi yang mendesak naik ke tenggorokan.

Lihat selengkapnya