Baiti Jannati

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Puncak kebahagiaan

Mentari pagi merangsek masuk melalui celah-celah tirai linen putih, melukis garis-garis emas di atas lantai kayu ruang tamu yang baru dipelnis. Aroma kopi arabika yang baru diseduh menguar lembut dari dapur, berpadu sempurna dengan wangi roti panggang dan tawa kecil yang lolos dari bibir seorang wanita muda.

Maya berdiri di dekat pulau dapur, mengenakan apron katun biru muda sambil membalik lembaran roti dengan spatula kayu. Di seberangnya, Arya—suaminya—tengah menuangkan susu hangat ke dalam cangkir keramik bergambar kucing. Rumah mungil berukuran tipe 60 di sudut kota ini tidak terlalu besar, tetapi setiap jengkal ruangnya menyimpan napas perjuangan dan peluh yang mereka bayar lunas selama tiga tahun pernikahan.

"Sayang, jangan lupa dokumen presentasi untuk klien pukul sepuluh nanti," kata Maya lembut, menyodorkan cangkir kopi kepada Arya.

Arya menerima cangkir itu, lalu mengecup puncak kepala istrinya sekilas. "Sudah kubereskan semalam, May. Tenang saja." Arya tersenyum, senyum yang selalu berhasil meredakan badai kekhawatiran di dada Maya. "Bagaimana desain interior untuk ruang kerja kecil di lantai atas? Sudah ada bayangan?"

"Sudah! Aku ingin nuansa kayu hangat dipadu tanaman hias indoor. Biar kalau bosan, rasanya seperti berada di kafe estetik," jawab Maya antusias, matanya berbinar-binar.

Bagi mereka, rumah ini adalah benteng pertahanan terakhir dari kerasnya dunia luar. Setelah bertahun-tahun hidup mengontrak berpindah-pindah, menghadapi tuan rumah yang rewel, serta cicilan demi cicilan yang menguras energi, akhirnya tempat ini resmi menjadi hak milik mereka sepenuhnya minggu lalu. Sertifikat tanah itu tersimpan rapi di dalam brankas mini di kamar utama—sebuah simbol kemenangan kecil atas kerasnya ibu kota.

Namun, kedamaian pagi itu mendadak terusik oleh suara ketukan pintu yang terlampau keras. Bukan ketukan santai seorang tetangga yang ingin meminjam gula, melainkan ketukan tegas dan bertalu-talu yang menyiratkan urgensi.

Arya dan Maya saling berpandangan. Senyum di wajah mereka memudar seketika, digantikan oleh kerutan di dahi.

"Siapa pagi-pagi begini?" bisik Maya, meletakkan pisaunya perlahan.

"Biar aku lihat," ujar Arya, melangkah menuju pintu depan dengan langkah hati-hati.

Begitu pintu terbuka, sosok lelaki paruh baya berjas rapi berdiri di ambang pintu, didampingi dua orang pria berbadan tegap berseragam gelap. Wajah lelaki itu dingin, tanpa senyum, memegang map cokelat tebal di tangan kanannya.

"Selamat pagi, apa benar ini kediaman Bapak Arya Danendra?" tanya lelaki itu dengan suara bariton yang menusuk.

Arya mengerjap, tubuhnya sedikit meneggang. "Benar. Saya sendiri. Ada keperluan apa ya?"

Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia membuka map, mengeluarkan selembar kertas bermeterai, lalu menunjukkannya tepat di depan wajah Arya. "Saya dari tim juru sita pengadilan. Berdasarkan keputusan inkrah atas sengketa lahan blok C perumahan ini, tanah dan bangunan yang Anda tinggali dinyatakan sebagai objek sita jaminan atas kasus hukum yang melibatkan PT Graha Mandiri, pengembang perumahan ini."

Dunia di sekitar Arya terasa berhenti berputar. Udara di paru-parunya mendadak lenyap. "Sita... sita jaminan? Anda salah alamat! Saya membeli rumah ini secara legal dengan akta jual beli sah dari notaris!"

"Notaris Anda sedang dalam investigasi karena menerbitkan sertifikat ganda," tukas lelaki itu dingin. "Rumah ini bukan milik Anda lagi."

❖ ❖ ❖

Maya yang menyusul ke depan pintu seketika jatuh lemas. Cangkir kopi yang sempat ia bawa terlepas dari genggamannya, pecah berkeping-keping di atas lantai teras. Cairan cokelat pekat itu menciprat ke ujung celana Arya.

"Tidak... Ini tidak mungkin!" teriak Maya histeris, mencoba mendekati pria berjas tersebut. "Kami menabung setiap sen dari keringat kami sendiri! Kami bekerja belasan jam sehari demi melunasi rumah ini! Kenapa tiba-tiba dirampas?!"

"Ibu, silakan tenang. Kami hanya menjalankan tugas hukum," jawab salah satu pria berbadan tegap dengan nada datar, bersiap menghalangi langkah Maya.

Arya langsung merengkuh bahu istrinya, menarik Maya ke dalam dekapan dadanya yang bergemuruh hebat. Napas Arya memburu, keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. Pikirannya melayang pada tumpukan dokumen legalitas yang dulu ia urus mati-matian. Semuanya tampak sempurna di mata hukum saat itu. Tidak ada celah, tidak ada kecurigaan. Bagaimana mungkin sebuah pengembang perumahan besar bisa menipu ratusan kepala keluarga sekaligus?

"Beri kami waktu. Setidaknya tunjukkan surat putusan pengadilannya secara lengkap. Kami berhak tahu!" seru Arya dengan suara bergetar namun tegas.

"Waktu Anda habis sejak putusan dibacakan minggu lalu. Pengadilan memberikan batas waktu tiga hari bagi penghuni untuk mengosongkan tempat ini," jawab juru sita itu tanpa ampun. Ia menyematkan selembar stiker merah besar berlogo pengadilan di kusen pintu utama rumah mereka. OBJEK DALAM PENGAWASAN HUKUM DAN SITA JAMINAN.

Stiker merah itu mencolok mata, bagaikan noda darah di atas dinding putih bersih yang baru mereka cat dua hari lalu.

Siang itu, suasana rumah berubah drastis menjadi medan perang batin. Tidak ada lagi tawa atau aroma kopi. Yang terdengar hanya isak tangis tertahan Maya yang duduk bersimpuh di ruang tamu, menatap sekeliling ruangan yang kini terasa asing.

"Arya... bagaimana ini? Di mana kita akan tinggal besok? Barang-barang kita sebanyak ini..." rintih Maya, air matanya membasahi pipi, mencoreng sisa riasan paginya.

Arya berlutut di hadapan istrinya, menggenggam jemari Maya yang terasa dingin membeku. Ia menatap mata wanita yang sangat dicintainya itu dengan hati yang tercabik-cabik. Sebagai kepala rumah tangga, ia merasa gagal total.

"Maafkan aku, May. Aku lalai. Seharusnya aku lebih teliti memeriksa latar belakang pengembang itu," ucap Arya lirih, suaranya serak hampir tak terdengar.

"Bukan salahmu, Arya! Kita semua tertipu. Pengembang itu penjahat berdasi!" Maya menggeleng cepat, mencengkeram lengan suaminya erat-erat. "Tapi kita tidak boleh menyerah begitu saja, kan? Kita harus melawan!"

"Kita akan melawan," kata Arya, meski di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu peluang mereka sangat kecil. Melawan korporasi besar berbekal modal pas-pasan bagaikan menepuk air di dulang.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti mimpi buruk yang berjalan lambat. Telepon genggam Arya tidak pernah berhenti berdering—bukan dari klien kantor, melainkan dari grup WhatsApp warga perumahan yang panik. Semua mengalami nasib serupa. Rumah impian yang dibeli dengan jerih payah mendadak disita negara akibat sengketa tanah fiktif antara pengembang lama dan mafia tanah.

Tekanan psikologis mulai menggerogoti kesehatan mental mereka. Malam-malam panjang diisi dengan tatapan kosong ke langit-langit kamar, membayangkan betapa rapuhnya rasa aman yang selama ini mereka banggakan.

Lihat selengkapnya