Suasana di dalam rumah berukuran sedang itu terasa berbeda sejak pergantian musim panas lalu. Pintu depan yang biasanya terbuka lebar menyambut angin sore, kini lebih sering tertutup rapat. Cahaya matahari yang biasanya leluasa menerobos jendela ruang tamu, terhalang oleh tirai linen tebal yang sengaja ditutup untuk meredam bising jalanan.
Di ruang keluarga, keheningan merayap pelan, menggantikan suara gelak tawa dan obrolan ringan yang dulu sering menghidupkan sudut-sudut ruangan. Meja makan yang dulunya menjadi saksi bisu perbincangan hangat tentang rencana akhir pekan atau cerita hari-hari di kantor, kini lebih sering dihiasi oleh dering ponsel dan kesunyian yang canggung.
Aris meletakkan tas kerjanya di atas sofa dengan gerakan lesu. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir penat yang menggelayut di pundaknya sejak jam sembilan pagi tadi. Di seberang ruangan, Maya—istrinya—tampak sibuk menatap layar laptop yang menyala terang. Jari-jarinya menari di atas papan ketik dengan cepat, menciptakan suara ketukan monoton yang mengisi kekosongan udara.
"Kamu sudah makan, May?" tanya Aris memecah sunyi, suaranya terdengar datar.
Maya tidak langsung menoleh. Matanya masih terpaku pada layar monitor sebelum akhirnya mendengus pelan dan mengalihkan pandangan sejenak. "Belum. Di dapur ada sisa sup kemarin. Kalau lapar, panaskan saja sendiri ya, Ris. Laporan ini harus selesai sebelum jam delapan malam, dikirim ke klien utama."
Aris mengangguk kecil, meski Maya tidak lagi melihatnya karena wanita itu sudah kembali fokus pada pekerjaannya. "Baiklah," gumam Aris pelan.
Komunikasi di antara mereka memang telah banyak berkurang dalam beberapa bulan terakhir. Kesibukan masing-masing seolah menjadi dinding tak kasat mata yang memisahkan dua orang yang dulunya, merasa tidak bisa hidup sehari tanpa bertukar cerita. Aris dengan target proyek kantornya yang semakin menumpuk, dan Maya dengan kesibukan bisnis digitalnya yang sedang meroket, sama-sama terjebak dalam pusaran rutinitas tanpa ujung.
Waktu seakan berjalan lebih cepat, namun di sisi lain, terasa begitu lambat ketika mereka berdua berada di bawah atap yang sama tanpa ada hal berarti yang dibicarakan.
"Nanti malam aku tidur di ruang kerja ya, banyak dokumen yang harus aku periksa untuk rapat besok pagi," kata Maya tanpa mengalihkan pandangan.
"Terserah kamu saja," jawab Aris singkat.
Tidak ada perdebatan, tidak ada nada protes. Hanya ada kepasrahan yang kian menebal dari hari ke hari. Hubungan mereka tidak lagi diwarnai pertengkaran hebat seperti pasangan muda pada umumnya, melainkan oleh jarak emosional yang tercipta secara perlahan tanpa disadari. Rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan dan kehangatan, kini perlahan berubah fungsi menjadi sekadar tempat singgah sementara bagi dua orang asing yang kebetulan tinggal di alamat yang sama.
Aris berjalan menuju dapur, membuka tudung saji, dan menemukan mangkuk berisi sup yang sudah dingin. Ia tidak berniat memanaskannya. Nafsu makannya mendadak hilang, digantikan oleh rasa sesak yang sulit dijelaskan. Ia menuang segelas air putih, meneguknya perlahan, lalu duduk sendirian di meja makan yang lengang.
❖ ❖ ❖
Hari-hari berikutnya berlalu dengan pola yang semakin kaku. Jadwal harian mereka telah terprogram dengan sangat rapi, namun kehilangan esensi kebersamaan. Pagi hari dimulai dengan dering alarm yang bersahut-sahutan. Aris bangun lebih awal untuk menghindari antrean kamar mandi, sementara Maya masih terlelap dalam kelelahan setelah bekerja hingga larut malam.
Ketika Aris bersiap mengenakan jas kerjanya di dekat pintu depan, Maya biasanya baru berjalan menuju dapur dengan mata setengah terbuka untuk menyeduh kopi hitam.
"Aku berangkat duluan, kunci cadangan ada di tempat biasa," pamit Aris sambil mengenakan sepatu pantofelnya.
"Iya, hati-hati di jalan. Jangan lupa nanti malam beli buah di supermarket dekat stasiun kalau pulang tidak terlalu malam," balas Maya singkat, tangannya sibuk memegang cangkir kopi panas yang mengepulkan uap tipis.
"Lihat nanti ya, sepertinya aku akan lembur lagi."
"Terserah," jawab Maya dingin.
Tekanan di tempat kerja Aris semakin menjadi-jadi. Atasan barunya menuntut laporan analisis pasar yang sangat detail dalam waktu singkat. Setiap hari, Aris harus menghadapi rapat panjang yang menguras energi mentalnya. Di rumah, ia berharap bisa menemukan sedikit ketenangan, namun yang didapatnya justru suasana dingin yang kian mencekam.
Maya di sisi lain sedang menghadapi masa-masa krusial bagi kelangsungan usahanya. Klien besar yang selama ini menjadi penyokong utama bisnisnya tiba-tiba meminta revisi total terhadap konsep kerja sama yang telah disepakati. Hal ini membuat Maya harus bekerja dua kali lipat lebih keras, menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer hingga mengabaikan kesehatan fisik maupun mentalnya.
Ketegangan kecil mulai muncul akibat hal-hal sepele. Suatu malam, Aris tanpa sengaja menaruh tumpukan surat penting di atas meja kerja Maya, menutupi catatan tangan yang sangat dibutuhkan wanita itu.
"Aris! Kenapa sih kamu selalu ceroboh?!" seru Maya dengan nada tinggi, matanya menatap tajam ke arah suaminya. "Ini catatan penting untuk presentasi besok pagi! Kenapa harus ditaruh di sini sembarangan?!"
Aris yang baru saja merebahkan diri di sofa langsung terperanjat kaget. Rasa lelah yang menumpuk membuat emosinya ikut terpancing. "Aku cuma meletakkannya sebentar! Bukan sengaja merusak catatanmu! Kamu pikir aku tidak capek seharian di kantor menghadapi tekanan atasan?!"
"Oh, jadi sekarang kamu mau membandingkan lelah kita?!" suara Maya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena kemarahan yang sudah lama tertahan. "Kamu pikir aku di rumah cuma duduk berpangku tangan?! Aku juga kerja keras, Aris!"
"Bukan begitu maksudku, May! Tapi bisakah kamu bicara dengan nada yang lebih pelan tanpa harus membentak?!"
"Kalau kamu tidak menaruh barang sembarangan, aku tidak akan berteriak!"
Pertengkaran itu terhenti begitu saja bukan karena masalahnya selesai, melainkan karena keduanya kehabisan tenaga. Tidak ada kata maaf yang terucap setelahnya. Mereka kembali memilih diam, duduk di sisi ruangan yang berlawanan, membiarkan keheningan malam menyerap sisa-sisa amarah yang sempat membakar udara.
❖ ❖ ❖