Baiti Jannati

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Bayang-Bayang di Balik Pintu

Pagi hari seharusnya menjadi waktu yang paling menyenangkan bagi Ana. Di usia tujuh tahun, dunia baginya adalah sebuah kanvas besar yang penuh warna, di mana setiap sudut rumah sederhana mereka menyimpan cerita-cerita kecil yang menghangatkan hati. Namun, dalam beberapa hari terakhir, warna-warna cerah itu perlahan memudar, menyisakan sapuan abu-abu yang membuat dada kecilnya terasa sesak tanpa ia tahu persis alasannya.

Ana duduk di kursi kayu meja makan, kedua kakinya menggantung bebas karena belum bisa mencapai lantai. Di hadapannya, semangkuk bubur ayam buatan ibunya masih mengepulkan uap tipis. Biasanya, waktu sarapan selalu diiringi oleh suara riuh rendah yang menyenangkan. Ayahnya, Budi, akan bercanda tentang kopi hitamnya yang kurang manis, sementara ibunya, Rini, akan tersenyum lembut sambil menyuapi adik kecilnya di kursi bayi. Gelak tawa kecil dan sapaan hangat selalu menjadi menu pembuka yang menyambut matahari pagi.

Namun, pagi ini, suasana meja makan terasa begitu kaku. Keheningan yang pekat menyelimuti ruangan sempit itu, seolah udara mendadak membeku dan sulit untuk dihirup.

Ana melirik ke arah ibunya. Rini berdiri di dekat meja dapur, tangannya sibuk membereskan piring-piring kotor, namun gerakannya tampak lamban dan penuh kelelahan. Sesekali, ibunya menarik napas panjang—sebuah desahan pelan yang terdengar sangat berat, seolah menanggung beban tak kasat mata di pundaknya. Rini tidak bernyanyi kecil seperti biasanya. Wajahnya pucat, dan garis-garis senyum di sekitar matanya tampak tenggelam oleh bayang-bayang kecemasan yang mendalam.

Ana beralih menatap ayahnya. Budi duduk di kursi seberang, mengenakan kemeja kerja yang agak kusut. Di tangan kanannya, ponsel tua berdering pelan, menampilkan layar yang menyala terang. Kening Budi berkerut dalam, garis-garis ketegangan tampak jelas di antara kedua alisnya. Pandangan pria itu terpaku sepenuhnya pada layar ponsel, mengabaikan makanan di piringnya yang bahkan belum tersentuh sama sekali. Pikirannya tampak melayang jauh, tertinggal di tempat lain, jauh melampaui dinding-dinding rumah mereka.

"Ibu..." panggil Ana pelan, suaranya nyaris berbisik karena takut memecah kesunyian yang mencekam itu. "Bubur Ana kurang asin sedikit, tapi tetap enak kok."

Rini menoleh sekilas dari tempat cucian piring. Ia mencoba menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman, namun senyuman itu terasa hambar dan kosong. "Oh... iya, Nak. Makan yang habis ya," jawab Rini singkat, lalu kembali memalingkan wajahnya, meneruskan cucian yang sebenarnya sudah bersih.

Ana mengerjap-ngerjapkan matanya. Respons itu terasa begitu asing. Biasanya, ibunya akan menanggapi dengan antusias, memuji gambarnya, atau bahkan mencubit pipinya gemas.

Merasa diabaikan, Ana mencoba mencari perhatian ayahnya. Ia mengangkat selembar kertas gambar dari buku sekolahnya, memperlihatkan hasil karya mewarnai yang baru saja ia selesaikan kemarin sore. Di atas kertas itu, ada gambar sebuah keluarga kecil di bawah pohon besar dengan matahari kuning cerah.

"Ayah, lihat deh. Kemarin Ana dapat nilai bagus lho di sekolah untuk gambar ini. Kata Bu Guru, warna rumahnya paling rapi," ucap Ana dengan nada riang yang dipaksakan, mencoba menghidupkan kembali suasana hangat yang dulu biasa ia rasakan.

Budi sama sekali tidak bergeming. Ponsel di tangannya masih menyala, jempolnya bergerak cepat mengetik balasan pesan yang tampak begitu mendesak. Tidak ada lirikan, tidak ada anggukan, bahkan tidak ada jeda napas yang menunjukkan bahwa ayahnya mendengar suaranya. Budi seolah berada di dunia yang berbeda, terisolasi di balik benteng tak kasat mata yang dibangun oleh masalah kantor yang tidak diketahui Ana.

Ana menurunkan kertas gambarnya perlahan. Dadanya terasa nyeri, sebuah sensasi perih yang asing dan menakutkan. Rasa cemas mulai merayap naik, merambat pelan di dada kecilnya, menciptakan dingin yang menusuk tulang di tengah pagi yang hangat.

❖ ❖ ❖

Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang semakin membingungkan bagi Ana. Di sekolah, ia berusaha tetap ceria bersama teman-teman sekelasnya, berlari di halaman dan bernyanyi bersama saat jam istirahat. Namun, begitu bel kepulangan berbunyi dan ia melangkah mendekati rumah, ada rasa berat yang tiba-tiba menggelayuti langkah kakinya. Rumah yang dulunya ia bayangkan sebagai tempat paling aman dan penuh warna, kini perlahan berubah wujud menjadi tempat yang asing.

Sore itu, Ana duduk bersila di atas karpet tipis ruang tengah. Di depannya, kotak pensil warna dan buku tulis berserakan. Ia sedang mencoba menggambar lagi, berharap dengan menciptakan gambar baru, keajaiban kecil akan terjadi dan mengembalikan senyum kedua orang tuanya. Namun, pensil di tangannya terasa berat. Setiap kali ia mendongak dan melihat sudut-sudut ruangan, ia merasa ada sesuatu yang retak di udara.

Pintu kamar orang tuanya tertutup rapat sejak siang. Dari balik pintu kayu itu, Ana terkadang mendengar suara percikan air dari kamar mandi atau suara gesekan kursi, namun tidak pernah ada lagi suara tawa atau perbincangan ringan seperti dulu.

"Ana, jangan melamun terus, Nak. Ayo rapikan mainannya, sebentar lagi malam," tegur Rini yang tiba-tiba muncul dari arah dapur, membawa segelas air putih. Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi.

"Ibu, nanti malam kita jadi belajar kelompok sama Rani di rumah?" tanya Ana penuh harap, mendongak menatap wajah ibunya.

Rini menghentikan langkahnya sejenak. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab, "Bibi Rani tidak bisa datang, Ana. Lain kali saja ya. Ibu sedang tidak enak badan."

Ana menunduk. Ia tahu ibunya tidak sedang sakit fisik. Ia melihat bagaimana ibunya sering duduk sendiri di tepi tempat tidur sambil memandangi jendela kosong ketika malam mulai datang. Ada kesedihan yang amat dalam yang disembunyikan Rini di balik daster pudar dan senyuman-senyuman terpaksa itu.

Malam pun tiba dengan cepat, membawa serta kegelapan yang pekat di luar jendela kaca rumah mereka. Di kamar tidurnya, Ana berbaring di atas kasur busa yang sudah agak tipis. Lampu tidur berbentuk bintang di sudut kamar memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, namun tidak mampu mengusir rasa sepi yang menggelayut di hatinya.

Ana menarik selimut tipis hingga sebatas dada. Matanya masih terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang dihiasi stiker bintang fosfor yang menyala dalam gelap. Di luar kamar, suasana rumah terasa sangat sunyi, diselingi suara angin malam yang berdesir pelan menembus celah ventilasi.

Tiba-tiba, sebuah suara decitan pintu membuyarkan keheningan malam. Suara langkah kaki yang berat dan lambat terdengar jelas melintasi lantai semen ruang tengah. Ana menahan napasnya. Rasa penasaran bercampur takut bergolak di dalam dadanya yang kecil.

Dengan gerakan sangat pelan, agar tidak menimbulkan suara decitan dari tempat tidurnya, Ana merangkak turun ke lantai. Kakinya yang beralaskan kaus kaki berjalan mengendap-endap menuju pintu kamar yang memang sengaja dibiarkan sedikit terbuka selebar telapak tangan olehnya sejak tadi.

Melalui celah sempit itu, Ana mengintip ke arah ruang tamu. Pemandangan yang ia saksikan membuat napasnya seolah tertahan di tenggorokan.

Lihat selengkapnya