Baiti Jannati

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Mobil-Mobilan yang Kehilangan Jalan

Dunia bagi seorang anak berusia lima tahun adalah hamparan warna-warni yang membentang tanpa batas, sebuah tempat ajaib di mana imajinasi menjelma menjadi kenyataan yang paling membahagiakan. Bagi Adi, pusat dari alam semesta kecil itu berpusat pada sesosok pahlawan super tanpa jubah yang ia panggil "Ayah". Budi, sang ayah, adalah figur yang selalu memiliki waktu luang di sela-sela lelahnya mencari nafkah untuk berlutut di atas karpet ruang tengah, memegang miniatur mobil-mobilan logam berwarna merah, dan beradu cepat melintasi lintasan imajiner yang terbuat dari tumpukan buku cerita.

Sore itu, cahaya matahari kekuningan merembes masuk melalui celah Jendela kaca ruang tengah, memantulkan bias hangat di atas lantai keramik yang bersih. Suasana rumah terasa begitu tenang, hanya diisi oleh suara dengungan kipas angin tua yang berputar pelan di sudut ruangan. Adi sedang duduk bersila di atas karpet beludru, asyik menyusun tiga buah mobil-mobilan plastik kesayangannya secara berderet. Sebuah truk molen kecil, mobil pemadam kebakaran beroda besar, dan sebuah sedan balap biru yang catnya sudah mulai mengelupas di bagian tepi. Bagi Adi, mainan-mainan itu bukan sekadar benda mati; mereka adalah teman setia yang bisa berbicara, bernyanyi, dan menemaninya menjelajahi kota-kota dongeng yang ia ciptakan sendiri di dalam kepalanya.

"Brumm... brumm! Awas, mobil pemadam mau lewat! Jalanan macet!" bisik Adi kecil pada dirinya sendiri, menggerakkan mobil pemadam itu maju mundur dengan penuh semangat, sementara bibirnya menirukan suara deru mesin kendaraan.

Pintu kamar kerja di sudut ruangan terbuka pelan, memperlihatkan Budi yang melangkah keluar dengan wajah menyiratkan kelelahan yang amat sangat. Kemeja putih yang dipakainya tampak sedikit kusut di bagian lengan, dan kancing paling atasnya sudah dibuka. Di tangannya, sebuah tumpukan berkas kantor yang tebal digenggam erat. Budi berjalan menuju meja makan untuk mengambil segelas air putih, napasnya terdengar berat menandakan hari yang sangat panjang dan melelahkan di kantor.

Adi yang melihat kehadiran sang ayah langsung memancarkan senyum ceria paling lebar. Matanya berbinar-binar penuh kekaguman. Baginya, setiap kali Ayah muncul, itu berarti waktu bermain telah tiba. Tanpa membuang waktu, Adi meraih mobil sedan biru kesayangannya, bangkit dengan tergesa-gesa, lalu berlari kecil menghampiri Budi yang sedang berdiri di dekat meja makan.

"Ayah! Ayah! Lihat ini! Mobil biru Adi menang balapan tadi!" seru Adi dengan suara nyaring khas anak kecil, sambil menarik-narik ujung celana kain Budi pelan dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menyodorkan mobil-mobilan itu tepat di depan wajah sang ayah. "Ayo main sebentar saja, Ayah jadi lawannya, ya?"

Budi menunduk menatap anaknya. Seharusnya, pemandangan itu menjadi penawar lelah yang paling mujarab setelah seharian bergelut dengan angka-angka laporan keuangan di kantor yang nyaris membuat kepalanya pecah. Namun, tenggat waktu proyek yang mendesak dan teguran dari atasannya tadi siang masih bergelayut pekat di dalam pikirannya. Tumpukan berkas di tangannya terasa semakin berat, seolah menindih pundaknya tanpa ampun.

"Adi, jangan sekarang, Nak. Ayah sedang capek sekali," ucap Budi dengan nada datar, suaranya terdengar dingin dan berat tanpa intonasi hangat yang biasa ia tunjukkan.

Adi mengerjap-ngerjapkan matanya, kebingungan mulai merayapi benaknya yang masih sangat polos. Ia mendongak, mencoba mencari kehangatan yang biasanya selalu terpancar dari sepasang mata ayahnya, tetapi yang ia temukan hanyalah garis-garis ketegangan di kening Budi.

"Tapi sebentar saja, Ayah... cuma satu ronde balapan saja," bujuk Adi dengan suara yang mulai mengecil, jemarinya semakin erat menggenggam mobil mainan di tangannya seolah benda itu adalah sauh penyelamat. "Mobil birunya hebat lho, bisa melaju kencang."

"Ayah bilang tidak bisa, Adi! Pundak Ayah sakit, kepala Ayah pening. Jangan terus memaksa, sana main sendiri dulu di kamar!" bentak Budi setengah melarang, suaranya meninggi melebihi batas kesabarannya yang menipis akibat tekanan pekerjaan yang menumpuk di kepala.

❖ ❖ ❖

Bentakan kecil itu meluncur begitu saja dari mulut Budi, sebuah reaksi spontan dari seorang manusia yang telah mencapai batas kapasitas mentalnya. Namun, bagi Adi yang berusia lima tahun, suara dengan nada tinggi itu terasa bagaikan hantaman petir di siang bolong. Dunia warna-warni yang tadinya terasa begitu hangat mendadak berubah menjadi kelabu dan menakutkan dalam sepersekian detik.

Adi terdiam kaku di tempatnya berdiri. Senyum ceria yang tadinya menghiasi wajah mungilnya seketika lenyap tanpa sisa, digantikan oleh bibir yang bergetar hebat menahan tangis. Matanya yang jernih perlahan-lahan mulai berkaca-kaca, menampung bulir-bulir air mata yang siap tumpah kapan saja. Ia menatap wajah ayahnya dengan pandangan tidak percaya—sosok yang selama ini menjadi pahlawan pelindungnya tiba-tiba berubah menjadi sosok asing yang menyeramkan dan membentaknya tanpa alasan yang bisa ia pahami.

"Ayah... marah sama Adi?" cicit Adi dengan suara parau yang hampir tak terdengar, air mata pertamanya akhirnya lolos menetes membasahi pipi mulusnya.

Budi langsung tersadar dari emosinya sesaat setelah kata-kata itu terucap. Rasa bersalah yang mendadak menusuk ulu hatinya membuat ia ingin segera berlutut dan merengkuh tubuh mungil anaknya untuk meminta maaf. Namun, sebelum tangan Budi sempat terulur untuk menyentuh pundak sang anak, ego dan kelelahan yang masih mendominasi membuat tubuhnya terpaku. Ia hanya mengalihkan pandangannya, menghembuskan napas berat untuk meredam gejolak di dadanya.

"Bukannya marah, Adi... Sana ke belakang dulu, temui Ibu," kata Budi dengan nada suara yang sedikit melunak, meski nadanya tetap terdengar kaku dan kaku di telinga sang anak.

Bagi Adi, kalimat itu bukan lagi sebuah titah, melainkan sebuah pengusiran yang sangat menyakitkan. Penolakan pertama dalam hidupnya itu menghancurkan rasa aman yang selama ini ia miliki di dalam rumah tersebut. Ia tidak mengerti apa itu "pekerjaan kantor", ia tidak tahu apa artinya "tenggat waktu" atau "stres"; yang tertanam di dalam kepalanya yang kecil hanyalah sebuah kesimpulan menyedihkan bahwa Ayahnya tidak lagi menyayanginya dan menganggapnya sebagai beban yang mengganggu.

Dengan isak tangis yang mulai tertahan di tenggorokan, Adi membalikkan badannya. Ia meninggalkan mobil sedan biru kesayangannya begitu saja di lantai ruang tengah, tergeletak sendirian di dekat kaki meja makan. Kaki-mungilnya berlari sekencang mungkin meninggalkan sang ayah menuju ke arah dapur, tempat ia tahu ada kehangatan lain yang bisa melindunginya dari rasa sakit yang tiba-tiba menghantam dadanya.

Langkah kaki kecil itu berlari menelusuri lorong rumah dengan napas yang tersengal-sengal karena tangis yang semakin menjadi-jadi. Sesampainya di dapur, Bu Endah—sang ibu yang sedang sibuk memotong sayuran di atas meja dapur—terperanjat kaget melihat anak bungsunya datang berlari sambil menangis sesenggukan.

"Ya Allah, Adi? Ada apa, Sayang? Kenapa nangis begini?" tanya Bu Endah dengan nada cemas yang amat sangat. Ia langsung meletakkan pisau di tangannya, berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan sang anak, lalu merengkuh tubuh mungil Adi ke dalam pelukannya yang hangat.

Lihat selengkapnya