Langit di atas kota Jakarta siang itu tampak kelabu, menggantung rendah seolah menahan beban berat yang siap tumpah kapan saja. Begitu pula dengan apa yang dirasakan oleh Budi di dalam ruang kerjanya yang ber-AC dingin. Di balik layar monitor komputer jinjingnya yang menyala terang, jemarinya terdiam kaku di atas papan ketik. Matanya memang menatap lembar kerja Excel penuh angka-angka proyek, tetapi pikirannya sama sekali tidak ada di sana. Bayangan wajah ketakutan Ana dan Adi saat pertengkaran kecil pecah di meja makan semalam terus berputar-putar di kepalanya bagaikan rekaman rusak yang tak bisa dihentikan.
Lebih menyayat hati lagi adalah kenangan akan mata sembab Rini. Istri tercintanya itu tidak meneriakkan kemarahan atau melontarkan kata-kata tajam; Rini hanya diam menatap lantai dengan air mata yang meleleh tanpa suara. Pandangan bisu itu jauh lebih menghujam ulu hati Budi ketimbang bentakan apa pun di dunia ini. Setiap kali ia mencoba fokus pada tugas dari atasannya, bayangan itu kembali muncul, meremukkan sisa-sisa konsentrasi yang coba ia kumpulkan sejak pagi buta.
"Budi, laporan keuangan kuartal ketiga untuk divisi pemasaran sudah bisa kamu kirimkan ke meja Pak Hartono sekarang?" tanya Hendra, rekan sekantor sekaligus sahabat terdekatnya, yang mendadak muncul di samping kubikel sambil membawa map biru tebal.
Budi terlonjak kecil dari lamunannya. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menarik kembali kesadarannya ke dunia nyata. "Eh, oh... iya, Hen. Sebentar lagi selesai, tinggal merapikan format grafik penjualannya saja," jawab Budi dengan suara yang terdengar serak dan lelah.
Hendra menyipitkan mata, mengamati garis-garis kelelahan yang begitu kentara di wajah sahabatnya itu. Ia menarik kursi kosong di sebelah kubikel Budi lalu duduk tanpa diundang. "Hei, kamu kelihatan pucat sekali sejak jam sembilan tadi. Ada masalah besar di rumah? Kalau butuh teman ngobrol atau pinjaman sementara untuk urusan mendesak, bilang saja ya. Jangan dipendam sendiri, muka kamu sudah seperti mayat hidup."
Budi menggeleng pelan sambil tersenyum kecut. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan sebelah tangan. "Bukan urusan uang, Hen. Cuma masalah keluarga kecil di rumah. Aku merasa jadi kepala keluarga yang gagal akhir-akhir ini. Terlalu sibuk mengejar target kantor sampai-sampai waktu untuk anak dan istri tergerus habis, dan puncaknya kemarin malam... aku meledak karena hal sepele."
"Namanya juga hidup di kota besar, Bud. Tekanan kerjaan memang kadang bikin kita kehilangan kendali atas emosi sendiri. Yang penting kamu sadar dan mau perbaiki," hibur Hendra sambil menepuk-nepuk pundak Budi sekilas sebelum beranjak pergi kembali ke ruangannya.
Namun, kata-kata penenang itu tidak serta-merta mencairkan es yang membeku di dada Budi. Jam dinding berdetak lambat, menyeret waktu perlahan hingga akhirnya jarum pendek menunjuk angka lima sore. Suara bel tanda jam kerja usai berdering serentak, membuat para pegawai berhamburan merapikan meja dan berlomba-lomba menuju lift. Bagi Budi, bunyi bel itu justru terasa seperti lonceng eksekusi. Langkah kakinya terasa sangat berat ketika ia mengambil tas kerjanya, berjalan keluar gedung, dan bergabung dengan lautan manusia di stasiun kereta komuter yang padat sesak.
Selama perjalanan di dalam gerbong kereta yang berdesak-desakan, Budi merasa seolah ia sedang memikul beban berton-ton di kedua pundaknya. Setiap kilometer kereta mendekati stasiun tujuannya, detak jantungnya berdegup semakin kencang. Rasa bersalah, takut disalahkan, dan kebingungan bercampur aduk menjadi satu gumpalan rasa sesak di tenggorokan. Ia tidak tahu wajah seperti apa yang harus ia pasang saat membuka pintu rumah nanti. Apakah ia akan disambut oleh keheningan yang dingin atau isak tangis yang tertahan?
❖ ❖ ❖
Kereta akhirnya berhenti di stasiun kecil dekat perumahan mereka. Budi turun bersama arus penumpang lainnya, melangkahkan kaki gontai menyusuri jalan aspal sempit yang mulai diterangi lampu-lampu penerangan jalan umum berwarna kuning remang. Udara sore berhembus membawa aroma basah sisa gerimis siang tadi, namun kesegaran itu sama sekali tidak mampu mendinginkan kepalanya yang terasa panas oleh berbagai pikiran kusut.
Ketika ia tiba di depan rumahnya, Budi sengaja tidak langsung mendorong pintu pagar besi bercat hijau tua yang sudah mulai mengelupas di beberapa bagian. Ia berdiri mematung di luar gerbang, menatap jendela ruang tamu yang tertutup rapat tirai kain bermotif bunga. Rumah itu tampak sunyi, seolah menyembunyikan badai emosi yang belum sepenuhnya reda di dalam sana.
Sebelum ia memutuskan untuk melangkah masuk dan menghadapi kenyataan pahit di dalam rumah, suara gemerisik lembut dari arah halaman belakang menarik perhatiannya. Budi menoleh ke samping. Melalui jalan setapak selebar satu meter di sisi bangunan rumah, ia melihat sosok yang sudah sangat ia kenal sedang beraktivitas di tengah rerimbunan tanaman.
Pak Parmin, tukang kebun paruh baya yang telah bekerja dengan keluarga mereka selama bertahun-tahun, tampak tengah berjongkok di dekat petak-petak tanaman cabai rawit. Mengenakan kaus oblong abu-abu pudar dan celana bahan longgar yang digulung hingga betis, pria tua itu dengan telaten menyemprotkan air dari selang kecil ke pot-pot bunga melati dan lidah buaya yang tersusun rapi di rak kayu. Gerakannya tenang, tidak terburu-buru, seolah waktu di sudut halaman belakang itu berjalan dengan kecepatan yang berbeda dari dunia luar yang kejam dan bising.
Budi merasa butuh pelarian sesaat sebelum ia harus menghadapi Rini dan anak-anaknya. Ia memutar tubuhnya, melangkah pelan melalui jalan setapak samping rumah, lalu mendekati sang tukang kebun tua tanpa bersuara.
"Sore, Mang Parmin," sapa Budi pelan begitu ia berdiri tepat di belakang punggung pria paruh baya tersebut.
Pak Parmin menghentikan kegiatannya menyiram tanaman. Ia mematikan keran air kecil di dekatnya, lalu perlahan bangkit berdiri sambil meluruskan pinggangnya yang sedikit kaku karena terlalu lama berjongkok. Pria tua itu menoleh, dan alih-alih menunjukkan ekspresi kaget, ia justru menyambut kedatangan Budi dengan seulas senyuman ramah yang menenangkan garis-garis keriput di wajahnya yang tirus.
"Eh, Mas Budi. Sudah pulang dari kantor rupanya," ucap Pak Parmin dengan nada suara berat nan lembut yang selalu membawa keteduhan. "Tadi saya kira siapa, kok jalannya pelan sekali tidak terdengar."
Budi tersenyum tipis, lalu mendudukkan diri di atas bangku kayu panjang yang biasa dipakai Pak Parmin untuk beristirahat di dekat pohon mangga. Ia meletakkan tas kerjanya di atas tanah, lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Iya, Pak. Capek sekali rasanya hari ini. Kepala pusing, badan pegal-pegal, pikiran juga kusut tidak karuan."
Mendengar pengakuan jujur itu, Pak Parmin tidak langsung memberikan nasihat klise atau pertanyaan mendesak. Pria tua itu melangkah menuju teras belakang, mengambil sebuah teko tanah liat kecil dan dua buah cangkir keramik sederhana yang sudah disiapkan di atas nampan kayu. Tanpa harus bertanya secara langsung tentang apa yang terjadi pada majikannya, Pak Parmin yang sudah puluhan tahun hidup dan berpengalaman membaca gerak-gerik manusia mulai memahami bahwa Budi sedang membawa beban psikologis yang sangat berat.
"Minum dulu teh poci hangat ini, Mas. Masih agak panas, tapi lumayan buat meredakan tenggorokan yang kering karena udara luar," tutur Pak Parmin ramah sambil menyodorkan secangkir teh poci beraroma melati harum ke hadapan Budi.
Budi menerima cangkir keramik itu dengan kedua tangannya. Kehangatan dari permukaan cangkir segera menjalar ke jemarinya, memberikan sensasi nyaman yang kontras dengan dinginnya AC kantor tempat ia bekerja seharian penuh. Ia meniup permukaan teh yang masih mengepulkan uap tipis, lalu menyesapnya perlahan. Rasa manis gula batu yang berpadu dengan kepekatan teh lokal buatan tangan itu langsung menghangatkan dada dan merilekskan otot-otot lehernya yang sejak tadi tegang.
❖ ❖ ❖
Suasana di halaman belakang rumah itu mendadak terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk kota besar di luar pagar. Hanya ada suara angin sore yang berdesir pelan melalui dedaunan pohon mangga, sesekali diselingi oleh kicauan burung gereja yang bersiap kembali ke sarang mereka. Budi termenung menatap cairan cokelat pekat di dalam cangkirnya, sementara Pak Parmin kembali melanjutkan pekerjaannya merapikan tanah di sekitar tanaman cabai menggunakan sekop kecil berukuran tangan.
Tanpa disuruh, Pak Parmin mulai membuka percakapan, bukan dengan introgasi atau teguran, melainkan melalui sebuah perenungan filosofis yang bersumber langsung dari alam di sekeliling mereka.
"Mas Budi perhatikan tidak, tanaman cabai di petak ini kemarin sempat hampir mati waktu musim panas panjang bulan lalu?" tanya Pak Parmin memulai percakapan, matanya menatap lurus ke arah deretan tanaman hijau di depannya.