Baiti Jannati

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Kesalah-pahaman besar

Matahari sore baru saja merosot di ufuk barat, menyisakan bias jingga yang memantul di kaca jendela ruang tamu yang mulai berdebu. Udara di dalam rumah terasa pengap, seolah menyimpan tekanan tersembunyi yang siap meledak kapan saja. Di luar, suara rintik hujan mulai turun rintik-rintik, mengetuk genteng seng dengan irama monoton yang justru memperkeruh ketegangan di dalam ruangan. Tidak ada gelak tawa seperti malam-malam sebelumnya; yang tertinggal hanyalah keheningan kaku yang diisi oleh detak jam dinding tua di sudut ruangan.

Pemicu dari keretakan ini bermula dari sebuah amplop cokelat tegal yang tergeletak begitu saja di atas meja makan. Amplop itu memuat dokumen penting terkait pinjaman bank yang diajukan secara diam-diam oleh Budi demi merenovasi bengkelnya yang nyaris roboh. Budi mengira langkah itu adalah bentuk tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga untuk mengamankan sumber pencahayaan dapur mereka. Namun, di mata Rini, tindakan mengambil keputusan besar tanpa berdiskusi terlebih dahulu adalah sebuah bentuk pengkhianatan kecil terhadap fondasi kepercayaan yang telah mereka bangun bertahun-tahun lamanya di atas fondasi kemiskinan dan kesederhanaan.

❖ ❖ ❖

Rini berdiri kaku di dekat meja dapur, tangannya gemetar memegang selembar kertas bermaterai yang baru saja ia temukan di dalam tas kerja suaminya saat hendak merapikan pakaian kotor. Napasnya memburu, sementara matanya menatap tajam ke arah Budi yang baru saja melangkah masuk lewat pintu belakang dengan wajah lelah dan peluh yang masih membasahi keningnya.

"Apa maksud dari semua ini, Yah?" suara Rini bergetar hebat, nyaris tertahan di kerongkongannya, namun cukup tajam untuk menghentikan langkah Budi seketika.

Budi mengerutkan kening, meletakkan kunci inggris yang dibawanya ke atas meja dengan bunyi dentingan logam yang nyaring. "Maksud apa, Bu? Jangan membuatku bingung setelah seharian penuh menghadapi mesin pelanggan yang rewel."

"Jangan pura-pura tidak tahu!" Rini membanting kertas bermaterai itu ke atas meja. Suaranya pecah, menyisakan kemarahan yang selama ini dipendam di balik senyum sabarnya. "Pinjaman bank sebesar tiga puluh juta rupiah? Tanpa bicara padaku? Tanpa mengajakku berdiskusi sedikit pun? Sejak kapan kamu memutuskan hal sebesar ini sendirian, Budi?"

Budi tertegun sejenak, sorot matanya berubah dari rasa lelah menjadi defensif. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam emosinya yang ikut terpancing. "Aku melakukan ini untuk kita semua, Rini! Bengkel itu sudah hampir ambruk, atapnya bocor di mana-mana. Kalau aku tidak segera memperbaikinya, bagaimana kita bisa makan bulan depan? Aku tidak ingin kamu dan anak-anak hidup dalam kecemasan."

"Tapi bukan dengan cara berutang secara sembunyi-sembunyi!" teriak Rini, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi. "Kamu pikir aku tidak memikirkan masa depan keluarga kita? Selama ini kita selalu susah bersama, senang bersama. Kenapa sekarang kamu merasa bisa menanggung semuanya sendirian seolah aku ini orang lain di rumah ini?"

❖ ❖ ❖

Titik Jepit 1 semakin menekan ketika pertengkaran itu tidak lagi bisa dibendung di antara sekat-sekat dinding rumah yang tipis. Suara tinggi Rini dan nada keras Budi memecah ketenangan sore, memaksa anggota keluarga lainnya yang berada di ruangan berbeda untuk turun tangan. Pak Parmin dan Bu Endah bergegas keluar dari kamar belakang, wajah mereka menyiratkan kekhawatiran yang mendalam melihat pemandangan di ruang tengah.

"Ada apa ini? Kenapa kalian berteriak-teriak menjelang magrib?" suara Pak Parmin bergetar tegas, meski usianya sudah senja, kharisma seorang ayah masih terpancar dari sorot matanya yang tajam menatap Budi dan Rini bergantian.

Bu Endah segera mendekati putrinya, merangkul pundak Rini yang masih terisak hebat di samping meja makan. "Tenang, Nduk. Tarik napas dulu. Jangan emosi, ceritakan pelan-pelan pada Bapak dan Ibu apa yang sebenarnya terjadi."

Budi mengusap wajahnya dengan kasar, frustrasi karena merasa disudutkan oleh semua pihak di rumah itu. Ia menatap mertuanya dengan pandangan memohon sekaligus kesal. "Bapak dan Ibu tidak mengerti. Rini terlalu membesar-besarkan masalah. Ini soal kelangsungan hidup bengkel, sumber pencaharian kita satu-satunya. Kalau aku tidak ambil pinjaman itu sekarang, modal usaha kita akan habis total digerus musim hujan."

Lihat selengkapnya