Baiti Jannati

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Bayangan Kotak Mainan yang Sepi

Hari-hari yang merayap lambat setelah malam kelam penyitaan itu menyisakan kesunyian yang teramat pekat di dalam rumah kontrakan kecil bercat kusam di pinggiran kota. Di mata seorang anak berusia tujuh tahun bernama Ana, dunia yang tadinya dipenuhi warna-warni cerah mendadak berubah menjadi abu-abu. Tidak ada lagi suara derap langkah terburu-buru yang riang di pagi hari, tidak ada lagi tawa renyah ibunya saat menggoreng sarapan, dan yang paling penting, tidak ada lagi kehangatan yang biasa ia rasakan di balik selimut kamarnya yang dulu.

Ana duduk bersila di atas lantai semen dingin, menatap kosong ke arah kotak mainan kayu tempat ia dan adiknya—Adi—biasa menghabiskan waktu berjam-jam bermain balok susun dan mobil-mobilan. Adi, yang baru berusia empat tahun, tampak duduk bergeming di sudut ruangan dekat lemari pakaian. Bocah kecil itu memegang sebuah mobil-mobilan plastik merah yang roda depannya sudah patah, menatap ke luar jendela dengan pandangan hampa yang sama sekali tidak mencerminkan anak seumurannya.

"Adi, mau main balok lagi?" tanya Ana pelan, mencoba memecah keheningan yang terasa mencekam.

Adi menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca jendela yang berdebu. "Tidak, Kak. Mobilnya rusak. Nanti kalau dimarahi Ibu bagaimana?" cicit Adi lirih, suaranya terdengar begitu rapuh dan kebas.

Ana menggigit bibir bawahnya. Hati kecilnya yang masih sangat bersih merasakan ada sesuatu yang sangat salah dengan rumah ini. Orang dewasa di sekitarnya telah berubah menjadi patung-patung bernyawa yang sibuk dengan beban pikiran masing-masing. Di mata anak-anak, rumah yang dulu menjadi tempat paling aman di dunia kini mendadak terasa seperti tempat asing yang menakutkan, tempat di mana dinding-dindingnya seolah ikut menanggung kesedihan yang tak bertepi.

Dari arah dapur, Ana melihat ibunya—Rini—berdiri termenung di dekat jendela kecil. Wanita itu menggenggam sebuah cangkir keramik berisi teh hangat yang sudah dibiarkan mendingin begitu saja. Uap air yang tadinya mengepul kini sudah lama lenyap, menyisakan cairan keruh yang tidak tersentuh. Tatapan Rini kosong menerawang menembus kaca, melintasi halaman sempit tempat beberapa helai pakaian basah tergantung lesu di bawah langit sore yang mendung.

"Ibu..." panggil Ana ragu-ragu, melangkah kecil mendekati ibunya.

Rini tidak bergeming. Ia seolah terperangkap di dalam dimensi dunianya sendiri, tenggelam dalam lautan rasa bersalah dan kecemasan masa depan yang tidak berujung. Setiap hari, Rini merasa gagal sebagai seorang ibu. Ia melihat anak-anaknya kehilangan keceriaan, kehilangan mainan kesayangan mereka, dan kini, kehilangan rasa aman yang seharusnya menjadi hak setiap anak kecil.

Tidak lama kemudian, pintu depan berderit terbuka pelan. Ayah mereka—Arya—masuk ke dalam rumah dengan langkah tertatih. Bahu pria itu terlihat semakin merosot ke bawah, seolah menanggung beban tonase baja di pundaknya. Arya meletakkan tas kerjanya di atas kursi plastik dengan gerakan lesu, lalu mengusap wajahnya yang kasar dengan kedua telapak tangan.

"Sudah pulang, Yah?" sapa Rini dengan suara parau, berusaha memaksakan seulas senyum tipis yang justru terlihat sangat menyayat hati.

"Ya, Rin," jawab Arya singkat, suaranya berat dan serak. Ia menatap sekilas ke arah Ana dan Adi yang duduk terpaku di sudut ruangan. Tidak ada pelukan hangat seperti biasa, tidak ada canda tawa pengantar tidur. Yang ada hanyalah atmosfer berat yang menekan dada siapa saja yang menghirup udara di dalam rumah itu.

❖ ❖ ❖

Ana memperhatikan interaksi kaku antara kedua orang tuanya dari balik lemari ruang tengah. Ada ketakutan besar yang mulai merayap dan bersemayam di dalam dada kecilnya—sebuah ketakutan paling mengerikan yang bisa dirasakan oleh seorang anak seumurannya: ketakutan bahwa Ayah dan Ibu akan pergi meninggalkan mereka, atau ketakutan bahwa kedua orang tuanya tidak lagi saling mencintai karena rumah megah mereka dirampas orang jahat.

"Ibu, kenapa Ayah jarang senyum lagi?" bisik Ana pelan kepada Rini saat malam mulai merangkak naik dan menggantikan sore yang suram.

Rini yang sedang merapikan piring-piring bekas makan malam menghentikan gerakannya sejenak. Ia menoleh ke bawah, menatap mata jernih putrinya yang memantulkan keraguan besar. Rini berlutut, menyamakan tinggi badannya dengan Ana, lalu merengkuh bahu kecil anaknya dengan tangan yang sedikit bergetar.

"Ana sayang... Ayah tidak marah sama Ana atau Adi. Ayah cuma sedang lelah bekerja di luar sana," ucap Rini lembut, mencoba menenangkan, meski ia sendiri tahu kebohongan itu tidak bisa menutupi kenyataan pahit yang ada di depan mata.

"Tapi rumah kita yang dulu hilang, kan, Bu? Tempat mainan besar Ana dan kotak boneka Ana tertinggal di sana," kata Ana dengan mata berkaca-kaca, menahan tangis agar tidak membuat ibunya semakin bersedih. "Apakah kita diusir karena kita anak nakal?"

Mendengar pertanyaan polos itu, hati Rini seperti diiris sembilu tajam. Air mata yang sudah ia tahan sejak berminggu-minggu lalu akhirnya tumpah juga membasahi pipinya. Ia mendekap tubuh mungil Ana erat-erat ke dalam dadanya.

"Bukan, sayang... Kalian anak-anak yang sangat baik. Kalian tidak pernah nakal. Ini semua salah Ibu dan Ayah yang kurang hati-hati," bisik Rini terisak tertahan, membenamkan wajahnya di rambut harum anaknya.

Di seberang ruangan, Arya berdiri di ambang pintu dapur, mendengarkan percakapan tersebut dengan dada yang sesak. Ia mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Sebagai seorang kepala keluarga, mendengar anak sulungnya merasa bersalah atas kemalangan finansial keluarga adalah pukulan telak yang jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan seluruh harta benda material di dunia. Arya merasa harga dirinya sebagai pelindung keluarga telah hancur berkeping-keping.

Hari-hari berikutnya berjalan dalam pola yang semakin mengkhawatirkan. Keheningan menjadi penguasa mutlak di dalam rumah kontrakan itu. Setiap orang bergerak bagaikan bayangan bisu yang saling menghindar, takut kata-kata yang terucap justru akan memicu ledakan emosi atau tangisan baru. Adi, sang adik, bahkan mulai berhenti berbicara sama sekali; ia lebih banyak menghabiskan waktu memeluk mobil-mobilan plastiknya yang rusak di sudut ruangan, seolah benda mati itu adalah satu-satunya teman setia di dunia yang kejam ini.

Ana merasa ia harus melakukan sesuatu. Sebagai kakak tertua, meskipun usianya baru menginjak tujuh tahun, ia mengerti betul bahwa keluarganya sedang sakit. Ia tidak mengerti apa itu sita jaminan, sengketa lahan, atau mafia perumahan; yang ia tahu pasti adalah rumah mereka kehilangan tawa, dan ia merindukan tawa itu lebih dari apa pun di dunia ini.

Suatu sore yang cerah namun dingin, saat cahaya matahari menerobos masuk lewat ventilasi pintu yang berdebu, Ana menemukan sekotak krayon sisa sekolah lamanya di dasar tas ransel usang miliknya. Krayon-krayon itu sudah patah dan kusam, tetapi kertas gambarnya masih tersisa beberapa lembar bersih.

❖ ❖ ❖

Dengan penuh konsentrasi, Ana duduk bersila di lantai ruang tengah. Ia merapikan kertas gambar putih di hadapannya, lalu mulai memilih warna-warna yang paling cerah dari kotak krayonnya. Ia tidak menggambar pemandangan rumit; ia menggambar sebuah rumah kecil beratap segitiga merah, dengan cerobong asap yang mengeluarkan bulatan-bulatan awan kecil, dan empat figur manusia berdiri di halaman depan sambil berpegangan tangan.

Figur pertama berkacamata mewakili ayahnya, figur kedua berambut panjang mewakili ibunya, sementara dua figur kecil di tengah mewakili dirinya dan Adi. Tidak lupa, di sudut kanan gambar, ia menambahkan figur seorang kakek tua tersenyum lebar di tengah kebun sayur—mengingatkan pada sosok Pak Parmin, tetangga ramah di lingkungan rumah lama mereka yang sering membagikan mangga manis kepada anak-anak.

Lihat selengkapnya