Malam merayap lambat di luar jendela kaca rumah petak sederhana itu, membawa serta angin dingin sisa hujan sore yang membasahi aspal kompleks perumahan. Di dalam ruang kerja kecilnya yang berukuran tidak lebih dari tiga kali tiga meter, Budi duduk terpaku di kursi putar berbalut kain usang. Cahaya dari lampu meja bercorak hijau tua menyorot tajam ke arah tumpukan berkas kantor, map-map laporan keuangan kuartal ketiga yang belum tersentuh, serta sebuah laptop yang layarnya menyala redup menampilkan dokumen pekerjaan yang terbuka separuh.
Udara di dalam ruangan terasa begitu padat, dipenuhi aroma kertas tua, debu halus, dan kepenatan yang mengendap lama. Di atas meja kerja itu, di antara lautan lembaran angka dan pensil mekanik yang berserakan, terletak sebuah benda kecil yang tampak kontras: selembar kertas gambar berukuran A4 milik Ana, anak bungsunya. Gambar itu diletakkan oleh Rini di sebelah papan tik laptop beberapa jam yang lalu, sebelum rumah kembali sunyi.
Budi menatap gambar tersebut dengan tatapan kosong yang perlahan-lahan berubah menjadi sarat makna. Ana menggambar sebuah rumah dengan atap segitiga merah, cat dinding kuning terang, dan empat figur manusia di depannya. Ada sosok ibu berambut panjang, dua anak kecil yang sedang berpegangan tangan, dan satu figur ayah bertubuh tinggi. Namun, yang membuat tenggorokan Budi mendadak tercekat adalah cara Ana menggambar figur sang ayah: berdiri jauh di pojok kertas, terpisah oleh garis hitam tebal, tanpa garis mulut, dan dikelilingi coretan hitam pekat yang merepresentasikan awan badai.
"Ayah jarang senyum lagi, Yah. Kata Kakak, Ayah kesambut angin malam terus," bisikan kecil Ana siang tadi terngiang kembali di telinga Budi, menusuk-nusuk relung hatinya yang paling dalam.
Budi menarik napas panjang, namun tarikan napas itu terasa berat dan menyakitkan di dadanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian bulan tenggelam dalam rutinitas tanpa henti, ia mengangkat kedua tangannya, melepas kacamata kerjanya secara perlahan, lalu memijit pangkal hidungnya yang terasa ngilu dan berdenyut. Matanya terasa panas dan perih. Bukan sekadar karena paparan radiasi layar monitor yang berlebihan sepanjang hari, melainkan karena kesadaran getir yang perlahan-lahan merasuk ke dalam kepalanya.
Selama ini, ia mengira dirinya adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagi keluarga kecilnya. Ia berangkat pagi-pagi sebelum anak-anak bangun, berdesakan di dalam gerbong kereta commuter line yang penuh sesak hingga nyaris meremukkan tulang, menghadapi kemarahan klien dan tekanan atasan yang tidak masuk akal, lalu pulang larut malam ketika rumah sudah gelap gulita. Semua itu ia lakukan dengan satu dalih utama: demi mencari nafkah, demi memastikan dapur tetap mengepul, demi mencicil atap rumah dan biaya pendidikan anak-anak agar mereka tidak merasakan hidup susah seperti masa lalunya.
Namun, di hadapan selembar gambar krayon anak berusia enam tahun itu, Budi dihadapkan pada cerminan telanjang dari kenyataan yang selama ini ia hindari. Ia merasa telah menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab secara materi, tetapi gagal secara total dalam hal batin. Ia hadir secara fisik di dalam rumah, tetapi jiwanya melayang jauh di awan-awan kantor, memikirkan target penjualan, ancaman teguran manajer, dan angka-angka inflasi yang kian mencekik.
Prinsip hidup yang selama ini ia pegang teguh—bahwa seorang lelaki sejati harus menelan semua kepedihan seorang diri, tidak boleh mengeluh, dan cukup menyimpan beban di dalam dada agar istri dan anak-anak tidak ikut pusing—ternyata telah berubah menjadi sebuah benteng beton yang dingin. Benteng itu tidak hanya melindunginya, tetapi justru mengisolasi dirinya dari orang-orang yang paling ia cintai di dunia ini.
❖ ❖ ❖
Budi memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan kegelapan di balik kelopak matanya diisi oleh serpihan-serpihan memori masa lalu yang selama ini ia abaikan begitu saja. Ia teringat kembali kejadian-kejadian kecil dalam beberapa bulan terakhir yang menunjukkan betapa jauh ia telah terlempar dari lingkaran kehangatan keluarganya sendiri.
Minggu lalu, ketika Rini berusaha menceritakan kekhawatirannya tentang kenaikan biaya sekolah Raka dan masalah kesehatan ibunya di kampung, Budi menanggapinya dengan nada setengah mendengarkan sambil terus mengetik laporan kantor di ponsel pintar miliknya. "Nanti ya, Ma, Ayah masih harus selesaikan surel penting untuk bos," ucapnya saat itu tanpa menoleh sedikit pun kepada istrinya. Rini hanya terdiam, mengangguk kecil, lalu berbalik meninggalkan ruang keluarga dengan bahu yang terkulai lemas. Saat itu, Budi menganggap sikap Rini sebagai bentuk pengertian. Sekarang, ia menyadari bahwa itu bukanlah pengertian, melainkan keputusasaan yang sunyi.
Lalu ia teringat pada Adi, anak sulungnya yang duduk di bangku sekolah menengah pertama. Beberapa hari yang lalu, Adi datang ke ruang kerjanya dengan membawa selembar kertas hasil ujian matematika dengan nilai yang memuaskan, berniat menunjukkan kebanggaannya kepada sang ayah. Namun, apa yang Budi lakukan? Alih-alih merangkul dan memuji anaknya, Budi justru mengerutkan kening dan berkata dengan nada datar, "Nilai delapan puluh lima ini masih bisa ditingkatkan kalau kamu lebih fokus belajar, jangan kebanyakan main gim di ponsel."
Mata Adi yang tadinya bersinar penuh harap langsung meredup seketika. Anak itu meletakkan kertas ulangannya di sudut meja tanpa suara, lalu keluar kamar sambil menutup pintu secara perlahan. Budi ingat betul bagaimana punggung kecil putranya terlihat begitu kaku malam itu.
"Aku telah menjadi ayah yang dingin," gumam Budi pelan di dalam kamar kerjanya yang sunyi, suaranya tercekat di tenggorokan yang terasa kering. "Aku menggunakan lelahku sebagai perisai untuk bersikap egois, dan menggunakan pekerjaan sebagai alasan untuk mengabaikan kewajiban terbesarku sebagai seorang manusia."
Beban psikologis itu semakin menghimpit dadanya. Budi membuka matanya kembali, menatap bayangan wajahnya sendiri yang terpantul samar di permukaan kaca jendela yang gelap di luar sana. Wajah itu tampak jauh lebih tua dari usia aslinya. Rambutnya mulai diselimuti uban di bagian pelipis, kulit wajahnya kusam akibat kurang tidur menahun, dan sorot matanya menyiratkan kelelahan jiwa yang amat sangat.
Ia menyadari bahwa obsesinya pada pekerjaan bukanlah bentuk cinta kepada keluarga, melainkan ketakutan bawah sadar akan kegagalan finansial yang telah merusak kewarasannya. Ia takut jatuh miskin, takut direndahkan oleh lingkungan sosial, dan takut kehilangan status. Namun dalam ketakutannya mengejar lembar demi lembar uang kertas rupiah, ia justru kehilangan hal yang jauh lebih berharga dan tidak bisa dibeli dengan kekayaan apa pun di dunia ini: senyum tulus istri dan tawa riang anak-anaknya.