Rumah yang tadinya terasa begitu luas kini menyempit oleh sesak yang tak kasat mata. Sejak berminggu-minggu lalu, dinding-dinding putih itu seakan kehilangan daya serapnya terhadap suara tawa, menyisakan gema langkah kaki yang berat dan helaan napas panjang yang dihela di sepertiga malam. Budi merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah, namun matanya sama sekali tak mau terpejam. Langit-langit rumah tampak begitu pekat, menangkap bayang-bayang kegagalan kecil yang menumpuk hari demi hari hingga menjelma menjadi tembok pemisah yang kokoh di antara dirinya dan Rini.
Di kamar utama, Rini pun mengalami hal yang serupa. Ia berbaring miring, menatap lurus ke arah pintu kamar yang terbuka celah selebar dua jari. Tidak ada lagi sapaan hangat di pagi hari, tidak ada lagi candaan ringan di meja makan. Yang tersisa hanyalah rutinitas kaku—berangkat kerja dalam diam, pulang dengan kelelahan yang akut, lalu mengunci diri di balik sekat-sekat pikiran masing-masing. Mereka hidup seatap, namun terasing di dunia yang diciptakan oleh ego dan kesibukan luar biasa.
Budi mengusap wajahnya yang kasar. Pori-pori kulitnya terasa terbakar oleh rasa bersalah yang kian menggunung. Sebagai seorang kepala keluarga, ia selalu menganggap bahwa mencukupi kebutuhan materi adalah wujud tertinggi dari cinta dan tanggung jawab. Ia membanting tulang dari pagi hingga larut malam, meyakinkan dirinya bahwa peluh dan lelah yang ia bawa pulang adalah demi masa depan istri dan anak mereka, Ana. Namun, malam ini, di saat sunyi mencekam menyergap seisi rumah, ia baru menyadari betapa kelirunya cara pandang itu. Rumah tangga bukanlah perusahaan yang bisa diukur dari lembar laporan keuangan atau pencapaian target bulanan. Rumah tangga adalah tempat bersemayamnya jiwa, tempat dua manusia saling menautkan hati untuk berteduh dari kejamnya dunia luar.
Ia bangkit perlahan dari sofa, menghindari bunyi derit per perabot yang berlebihan. Langkah kakinya yang tanpa alas membawanya ke sudut ruang keluarga, tempat di mana kotak mainan kayu milik Ana tersimpan rapi. Di dalam kotak itu, terselip sebuah kenangan masa lalu—sebuah gambar sederhana yang dibuat oleh Ana beberapa bulan yang lalu, ketika gelak tawa masih menjadi penghuni tetap rumah ini.
Budi berlutut di lantai keramik yang dingin. Tangannya yang kasar meraih selembar kertas HVS bergambar crayon warna-warni. Di sana, Ana menggambar sosok ayah, ibu, dan dirinya sendiri sedang bergandengan tangan di bawah matahari kuning yang besar. Ada tulisan tangan anak-anak yang terpampang di bagian bawah kertas: “Keluarga bahagia di istana kita.”
Melihat coretan polos itu, pertahanan mental Budi yang selama ini terkenal kokoh mendadak runtuh tanpa aba-aba. Tenggorokannya terasa mencekat, dan sebuah isakan tertahan meluncur begitu saja dari bibirnya yang gemetar. Ia memeluk gambar itu erat-erat ke dadanya, membiarkan air mata penyesalan yang selama ini ia tahan mati-matian akhirnya tumpah membasahi punggung kertas tersebut.
❖ ❖ ❖
Suara isakan tertahan itu merambat tipis menembus daun pintu kamar utama yang tidak tertutup rapat. Rini, yang sedari tadi terjaga dalam gelisah panjang, menangkap suara asing tersebut. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Selama berminggu-minggu, perang dingin menjadi atmosfer utama di rumah mereka, membuat setiap suara sekecil apapun selalu direspons dengan kewaspadaan tinggi.
Rini bangkit dari pembaringannya. Ia mengenakan selimut tipis untuk menutupi pundaknya yang menggigil, lalu melangkah pelan keluar kamar menuju ruang tengah. Cahaya lampu tidur berwatt kecil dari sudut ruangan memancarkan temaram kekuningan, menciptakan bayangan panjang di sepanjang koridor rumah.
Semakin dekat ia melangkah ke ruang keluarga, semakin jelas pula suara isakan tersebut terdengar. Langkah Rini terhenti sejenak di ambang pintu. Pemandangan yang tersaji di hadapannya membuatnya terpaku seketika.
Budi, lelaki yang selama ini ia kenal sebagai sosok paling tegar, paling rasional, dan paling jarang menampakkan kelemahan di hadapannya, kini tengah bersimpuh di lantai. Pundak lelaki itu bergetar hebat di dekat kotak mainan Ana. Kedua tangan Budi mendekap erat selembar kertas gambar dengan kepala menunduk dalam-dalam mencium permukaan lantai. Tidak ada lagi kesan arogan, tidak ada lagi aura dingin dari seorang suami yang sibuk dengan urusan dunia. Yang tersisa hanyalah seorang manusia yang hancur berkeping-keping oleh penyesalan yang teramat sangat.
Rini merasakan hantaman keras di dadanya. Segala rasa marah, kecewa, dan kesal yang selama ini dipeliharanya mendadak menguap, digantikan oleh gelombang empati yang luar biasa kuat. Ia tahu persis gambar apa yang sedang didekap oleh suaminya itu. Gambar yang sama yang pernah ia lihat tergantung di lemari es sebelum kesibukan merenggut kehangatan keluarga mereka.
Tanpa memikirkan gengsi, tanpa mengingat pertengkaran-pertengkaran tajam yang sering menghiasi hari-hari mereka sebelumnya, Rini melangkah mendekat. Suara gesekan kain selimutnya membuat Budi tersadar. Lelaki itu mendongak secara perlahan, memperlihatkan wajah yang basah oleh air mata, mata yang memerah, dan bibir yang bergetar hebat.
Alih-alih melontarkan keluhan lelah atau sindiran tajam seperti biasanya, Rini justru mengambil keputusan paling berani malam itu. Ia menurunkan tubuhnya, ikut berlutut di lantai yang dingin tepat di samping suaminya. Kain selimutnya tersampai longgar di bahunya, sementara tatapannya terkunci penuh pada manik mata Budi yang sarat akan keputusasaan.
Di bawah temaram lampu ruang tengah yang hangat, pertahanan terakhir yang selama ini mereka bangun dengan susah payah akhirnya runtuh berkeping-keping. Tidak ada lagi jarak. Tidak ada lagi sekat. Yang ada hanyalah dua jiwa yang terluka, duduk bersisian di atas lantai yang sama, menyadari bahwa mereka telah hampir kehilangan hal paling berharga di dunia ini.
❖ ❖ ❖
Suasana di ruang tengah itu mendadak menjadi pusat dari seluruh semesta mereka. Hening malam seolah membungkus keduanya dalam sebuah ruang hampa yang intim, jauh dari kebisingan dunia luar dan tuntutan pekerjaan yang tiada berkesudahan.
Budi menatap Rini dengan pandangan tak percaya. Ia melihat ketulusan yang terpancar dari mata istrinya—mata yang selama ini ia hindari karena takut melihat kekecewaan di dalamnya. Tanpa ragu, Budi mengulurkan tangan kanannya yang gemetar, meraih jemari Rini yang terasa dingin, lalu menggenggamnya erat-erat seolah takut tangan itu akan lepas dan terbang terbawa angin.
Genggaman itu begitu kuat, menyalurkan segala rasa sakit dan kerinduan yang selama ini dipendam rapat-rapat di dalam dada. Rini membalas genggaman tersebut dengan sama eratnya. Air mata kelegaan meleleh perlahan di pipinya, menghapus sisa-sisa amarah yang sempat membeku berminggu-minggu lamanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Budi melunturkan prinsip lama bahwa seorang lelaki tidak boleh terlihat lemah di hadapan keluarganya. Dengan suara parau yang nyaris tak terdengar di atas detak jam dinding, ia membuka rahasia terdalam dari hatinya.
"Maafkan aku, Rini..." bisik Budi terbata-bata, suaranya pecah di tengah kalimat. "Aku hampir kehilangan arah... dan aku hampir kehilangan kalian berdua."