Baiti Jannati

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

Menghidupkan Kembali Kata-Kata

Hari-hari yang bergulir setelah kerja bakti massal di lingkungan perumahan membawa transformasi yang begitu nyata dan menyejukkan ke dalam ritme kehidupan keluarga kecil Budi dan Rini. Rumah sederhana yang tadinya sering kali diliputi oleh keheningan kaku akibat kelelahan luar dan tekanan hidup kini bernapas dengan ritme yang jauh lebih lapang. Tidak ada lagi ketegangan tersembunyi di balik dinding-dinding ruang tamunya; yang ada hanyalah aliran energi hangat yang meresap ke setiap sudut ruangan, mengubah suasana rumah menjadi tempat perlindungan yang sejati bagi setiap penghuninya.

Sore itu, matahari bergeser turun ke ufuk barat, memancarkan bias keemasan yang menembus celah-celah jendela kaca rumah. Di dapur, Bu Endah kembali beraksi dengan cekatan. Aroma harum tumisan bumbu dapur, bawang merah, dan cabai hijau yang berpadu dengan gurihnya kuah soto ayam rumahan menguar memenuhi udara, membangkitkan selera siapa pun yang menciumnya. Aroma itu bukan sekadar penanda waktu makan malam telah tiba, melainkan simbol keutuhan yang dirajut kembali dengan penuh kesabaran.

"Endah, kuahnya sepertinya sudah mendidih pas, aromanya harum sekali sampai ke ruang depan," puji Budi yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah setelah mencuci tangan di kamar mandi luar.

Bu Endah menoleh dari kompor, tersenyum lebar dengan kerutan di ujung matanya yang menyiratkan ketulusan. "Iya, Pak Budi. Sengaja saya buat agak hangat karena malam ini udaranya agak dingin sehabis gerimis sore tadi," jawab Bu Endah ramah sambil mematikan kompor kecil di depannya.

Di ruang tengah, Rini sedang merapikan buku-buku sekolah Ana di atas rak kayu, sementara Adi duduk bersila di karpet sambil sibuk merakit mainan robot plastiknya. Suasana itu terasa begitu kontras jika dibandingkan dengan beberapa pekan lalu, di mana setiap orang di rumah ini berjalan dengan langkah hati-hati demi menghindari ledakan emosi. Kini, setiap langkah terasa ringan, dan udara di dalam rumah seakan dipenuhi oleh kelegaan yang menular.

"Ayah sudah pulang!" seru Ana gembira begitu melihat sosok Budi muncul di ambang pintu ruang tengah. Bocah perempuan berusia tujuh tahun itu langsung berlari kecil menghampiri ayahnya, memeluk kaki Budi erat-erat.

Budi berjongkok seketika, menyamakan tingginya dengan sang buah hati, lalu mengecup puncak kepala Ana dengan penuh kasih sayang. "Halo, Putri Ayah. Hari ini di sekolah belajar apa saja? Kelihatan senang sekali wajahnya," sambut Budi dengan suara renyah yang penuh kehangatan.

"Tadi Ana dapat nilai seratus untuk pelajaran menggambar pohon mangga, Yah! Kata Bu Guru, gambar Ana mirip sekali dengan pohon mangga yang ada di kebun belakang rumah kita," cerita Ana berapi-api, matanya berbinar-binar penuh kebanggaan.

"Wah, hebat sekali anak Ayah! Nanti gambarnya harus ditempel di dinding kamar ya, biar jadi semangat belajarnya," puji Budi sambil mencubit hidung mungil putrinya pelan.

Rini yang melihat interaksi suami dan anak mereka dari kejauhan merasakan gelombang kebahagiaan yang membuncah di dalam dadanya. Tidak ada lagi gurat kecemasan di wajah Rini. Ia berjalan mendekati mereka sambil membawa handuk kecil untuk Budi. "Cuci tangan dulu, Mas. Sebentar lagi Ibu siapkan makanan di meja, semuanya sudah siap," ucap Rini lembut, menyerahkan handuk kecil tersebut kepada suaminya.

Budi menerima handuk itu dengan senyuman tulus. Ia menatap istrinya lekat-lekat, menyadari betapa besar perubahan yang terjadi bukan hanya pada lingkungan sekitar mereka, tetapi juga pada cara mereka mengekspresikan perasaan satu sama lain.

❖ ❖ ❖

Meja makan kayu berukuran sedang di sudut ruangan kini telah tertata rapi. Piring-piring keramik putih bersih tersusun berdampingan dengan mangkuk besar berisi soto ayam yang masih mengepulkan uap panas. Gelas-gelas kaca bening berisi air teh manis hangat berjajar rapi di tepi meja, siap menyambut kehadiran seluruh anggota keluarga.

Namun, yang membuat meja makan malam ini berbeda dari malam-malam sebelumnya bukanlah ragam hidangannya yang lezat, melainkan sebuah tradisi baru yang sengaja diciptakan oleh Budi dan Rini. Tradisi ini lahir dari perenungan panjang mereka setelah badai emosi mereda, sebuah tekad untuk merombak filosofi lama yang keliru.

Dulu, Budi dan Rini adalah penganut setia prinsip "menyimpan di dada" dalam arti yang salah—mereka terbiasa memendam segala rasa lelah, cinta, kekesalan, dan rasa syukur rapat-rapat di dalam hati, menganggap bahwa perasaan yang tulus tidak perlu diucapkan dengan kata-kata karena toh orang lain bisa merasakannya sendiri. Namun, pengalaman pahit beberapa waktu lalu menyadarkan mereka bahwa anggapan itu adalah sebuah kekeliruan besar. Cinta dan rasa syukur memang harus disimpan di dalam dada sebagai jangkar jiwa, tetapi di dunia nyata, perasaan itu harus diwujudkan, dirayakan, dan diucapkan dengan lantang agar orang-orang terkasih tahu bahwa mereka dihargai.

"Ayo semuanya, silakan duduk. Makanan sudah siap di meja," seru Rini sambil menarik kursi utamanya di dekat sisi kiri meja makan.

Ana dan Adi berlari kecil menuju kursi masing-masing, tidak sabar ingin segera menikmati makan malam. Sementara itu, Parmin dan Bu Endah yang biasanya duduk di kursi terpisah dekat dapur kini dipersilakan bergabung langsung di meja makan utama, sebuah bentuk penghormatan dan kesetaraan yang selalu dijaga di rumah tersebut.

"Mari, Pak Parmin, Bu Endah, silakan duduk di sini," ujar Budi sambil menunjuk kursi kosong di sebelah kanannya.

Parmin tersenyum sopan, menarik kursi kayu dengan perlahan lalu duduk dengan tenang. "Terima kasih, Pak Budi, Bu Rini," ucap Parmin dengan nada suara rendah yang penuh kewibawaan.

Bu Endah menyusul duduk di samping Parmin, merapikan selendang kecil yang melingkar di pundaknya. "Aduh, jadi tidak enak duduk di meja utama terus, Pak," ucap Bu Endah merendah.

"Tidak apa-apa, Bu. Rumah ini adalah rumah kita bersama, dan meja makan ini adalah tempat di mana kita semua setara sebagai satu keluarga besar," balas Budi dengan senyuman hangat yang langsung mencairkan sisa-sisa kecanggungan di antara mereka.

Sebelum doa makan malam dipanjatkan dan sendok-sendok beradu dengan piring, Budi mengangkat tangan kanannya sedikit, memberikan tanda agar seluruh anggota keluarga menahan diri sejenak. Suasana ruang makan yang tadinya riuh oleh suara gesekan kursi seketika mendadak hening dan khidmat.

"Sebelum kita mulai makan malam bersama malam ini, mari kita lakukan ritual kecil kita seperti biasa," kata Budi dengan suara bariton yang menenangkan, memandang satu per satu wajah orang-orang yang duduk di sekeliling meja tersebut dengan tatapan penuh cinta.

Ritual kecil itu adalah sebuah kebiasaan baru yang mereka sepakati bersama: sebelum menyantap hidangan, setiap orang diberikan kesempatan untuk menyampaikan satu hal kecil yang paling mereka syukuri hari itu. Sebuah cara sederhana namun revolusioner untuk membiasakan lidah mereka mengucapkan kata-kata positif dan penghargaan secara terbuka.

❖ ❖ ❖

Suasana di sekitar meja makan terasa begitu intim dan menenangkan. Lampu gantung kuning di atas meja memancarkan pendar lembut yang menyinari wajah-wajah penuh senyum di sekitarnya. Budi memandang berkeliling, memberikan giliran pertama kepada anggota keluarga yang paling muda untuk berbicara.

"Baik, siapa yang mau mulai duluan malam ini?" tanya Budi lembut sambil menatap kedua anaknya.

Lihat selengkapnya