Baiti Jannati

Amrullah Ibrahim
Chapter #26

Kehangatan kembali

Pagi hari di rumah kecil itu datang dengan nuansa yang sama sekali berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi sisa-sisa embun kepedihan yang menggantung di udara, pun tidak ada lagi bayang-bayang keheningan dingin yang mencekam seperti malam-malam kelam yang lalu. Mentari pagi menyembul dari balik cakrawala timur, memancarkan pendar cahaya keemasan yang menembus kaca jendela ruang keluarga dengan lembut, menyapa setiap sudut ruangan yang kini terasa begitu hidup dan bernyawa.

Budi terbangun lebih awal dari biasanya. Ia membuka matanya perlahan, mendapati diri dan istrinya masih terlelap dalam posisi berpelukan yang erat. Semalam, setelah badai air mata dan pengakuan jujur merontokkan segala ego, tidur mereka terasa begitu lelap, seolah beban berton-ton yang selama ini menghimpit dada telah terangkat bersih tanpa sisa. Rini masih berbaring damai di sampingnya, dengan kepala bersandar nyaman di dada bidang Budi, sementara jemari tangan mereka saling bertautan erat di atas seprai putih.

Melihat wajah istrinya yang tenang dalam tidur, Budi merasakan gelombang rasa syukur yang begitu masif menghantam relung hatinya. Ia menyadari betapa nyarisnya ia kehilangan harta paling berharga di dunia ini—kehangatan keluarga yang selama ini dianggapnya remeh karena kesibukan dunia luar. Dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Rini, Budi mengecup puncak kepala istrinya sekilas, lalu bangkit perlahan dari pembaringan.

Langkah kakinya ringan menapaki lantai kayu menuju ke arah dapur. Suasana rumah terasa begitu syahdu. Tidak ada lagi jarak tak kasat mata; setiap inci ruang di dalam rumah itu kini memancarkan aura pemulihan. Budi mulai menyiapkan ritual pagi mereka dengan hati yang lapang: merebus air untuk secangkir kopi hitam hangat dan teh manis kesukaan Rini. Bau harum kopi yang menguar di udara pagi berpadu sempurna dengan aroma kesegaran alam dari luar jendela.

Tak lama berselang, suara langkah kaki kecil terdengar berlari riang dari arah koridor kamar anak-anak. Adi, si bungsu yang aktif, muncul dengan masih mengenakan piyama bergambar pahlawan super kesukaannya, mengucek mata kecilnya sambil tersenyum lebar.

"Pagi, Ayah!" sapa Adi riang, langsung berlari memeluk kaki Budi.

Budi berlutut, menyambut pelukan sang anak dengan senyuman paling tulus yang pernah ia tunjukkan dalam beberapa bulan terakhir. "Pagi juga jagoan Ayah. Bangun pagi-pagi mau ikut Ayah bikin sarapan?"

Pemandangan sederhana itu menjadi penanda awal bahwa rumah mereka benar-benar telah kembali. Kehangatan yang sempat padam kini menyala terang, bukan lagi dengan nyala yang rapuh, melainkan dengan api yang jauh lebih kokoh karena telah diuji oleh tempaan badai ujian hidup.

❖ ❖ ❖

Sesaat kemudian, Rini menyusul ke area dapur dengan langkah ringan. Wajahnya tampak segar, memancarkan aura ketenangan yang sudah lama tidak terlihat. Tidak ada lagi garis-garis kelelahan kronis atau tatapan kosong seperti malam-malam keputusasaan sebelumnya. Yang ada hanyalah senyuman hangat yang langsung merekah begitu manik matanya beradu pandang dengan Budi yang sedang menuangkan air panas ke dalam cangkir.

"Pagi, Mas," sapa Rini lembut, berjalan mendekat dan tanpa ragu melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya dari belakang, menyandarkan kepalanya sejenak di punggung Budi.

Budi menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia meletakkan teko di atas meja, lalu berbalik untuk membalas pelukan istrinya dengan erat. "Pagi, Ibu Rini. Tidurnya nyenyak semalam?" tanya Budi sambil tersenyum hangat, menatap manik mata istrinya yang berbinar jernih.

"Sangat nyenyak, jauh lebih nyenyak dari malam-malam kemarin," jawab Rini tulus. Ia mendongak, membiarkan jemari Budi merapikan beberapa helai rambutnya yang sedikit berantakan. "Rasanya seperti terlahir kembali. Beban di dada rasanya sudah hilang bersih."

"Aku juga, Rin," aku Budi jujur. "Maafkan aku kalau kemarin-kemarin sempat membuat rumah ini terasa dingin buat kamu dan anak-anak. Aku berjanji, ujian kemarin adalah pelajaran terbesar dalam hidupku untuk tidak pernah lagi membawa beban luar ke dalam rumah suci kita ini."

"Kita menjalaninya sama-sama, Mas. Rumah ini milik kita berdua, jadi suka dan duka harus kita pikul berdua," balas Rini sambil meremas lembut lengan Budi.

Suasana dapur yang hangat itu mendadak diinterupsi oleh suara protes kecil dari arah meja makan. Adi melambaikan tangannya ke udara dengan ekspresi pura-pura ngambek. "Eh, Ayah sama Ibu malah asyik pelukan! Adi mau susu hangat sama roti panggang nih, keburu masuk angin perut Adi!"

Budi dan Rini kontan tertawa renyah mendengar protes polos sang buah hati. Tawa itu mengalir begitu natural, renyah, dan memenuhi seluruh ruangan dengan energi positif yang menyegarkan. Tidak ada lagi kecanggungan, tidak ada lagi rasa sungkan yang dibuat-buat. Semuanya melebur dalam kebersamaan keluarga yang utuh.

"Siap, komandan kecil!" seru Budi sambil mencolek hidung Adi pelan, sebelum akhirnya bersama-sama dengan Rini menyiapkan sarapan pagi di meja makan.

Momen sarapan pagi itu berlangsung penuh warna. Canda tawa berhamburan di sela-sela suapan makanan sederhana. Mereka saling melempar senyum, saling mengambilkan lauk, dan mendengarkan cerita celoteh Adi tentang mimpi semalam dengan penuh antusias. Jembatan komunikasi yang sempat runtuh kini telah dibangun kembali dengan fondasi yang jauh lebih kuat, kokoh, dan tahan uji.

❖ ❖ ❖

Menjelang siang hari, setelah urusan rumah tangga selesai dan anak-anak sibuk bermain di ruang keluarga, Budi dan Rini duduk berdua di teras belakang rumah. Di hadapan mereka, hamparan rumput hijau kecil dan beberapa pot tanaman bunga hias milik Rini tampak segar tersiram matahari pagi.

Udara siang berembus sepoi-sepoi, membawa kesejukan yang menenangkan jiwa. Budi menyesap sisa kopi hangatnya, lalu menoleh ke arah Rini yang sedang duduk di kursi rotan di sampingnya, menikmati buku catatan kecil di pangkuannya.

"Rin, ingatkah kamu waktu kita bertengkar hebat beberapa minggu lalu sampai rumah ini terasa seperti tempat asing?" tanya Budi memulai percakapan serius namun dengan nada suara yang tenang dan penuh perenungan.

Lihat selengkapnya