Siang itu, matahari hampir tepat berada di atas ubun-ubun kepala. Memancarkan teriknya ke segala penjuru ruang hingga masuk ke celah-celah kecil ranting dedaunan. Sinarnya sedikit galau tertimpa debu-debu yang berterbangan di sekitar halaman sebuah panti asuhan. Burung kecil pun enggan menyanyikan kidung ceria, bahkan tak terlihat sayap-sayap mungilnya. Angin siang mengambil alih kuasa terik matahari.
Gesekan dedaunan yang diterpa semilir angin, menghidupkan aura pepohonan yang sempat letih dan membisu. Seolah ingin menyapa anak-anak panti yang bermain di bawahnya. Siang itu, tak nampak seekor burung pun yang bertengger di atas ranting pohon flamboyan. Apalagi mendengarkan alunan akustiknya.
Di musim kemarau seperti ini, pohon-pohon flamboyan pun sebagian sudah nampak mengering dan seolah serentak menggugurkan daun-daunnya yang biasanya di musim hujan, berdaun sangat lebat. Sudah hampir enam bulan hujan tak pernah singgah membasahi tanah. Hanya semut merah yang sedang berbaris di kulit kayu batang pohon flamboyan. Sesekali seekor lalat terbang gelisah dan tak tentu arah di sekitarnya.
Di sisi lain, di halaman panti, terlihat anak-anak panti yang sedang bermain sepabola. Mereka berlarian dengan canda tawa, saling mengoper bola.
“Mail, oper bolanya kemari, jangan sampai keluar, ayo tendang bolanya!” teriak Budiman kepada Mail.
“Nah begitu, terus.. terus.. ayo tendang!” teriak Ramli memberi semangat.
Terdengar riuh sekali tawa anak-anak yang bermain sepak bola di lapangan belakang panti, mereka saling berkejaran penuh keceriaan, sementara Asti hanya sesekali melihat mereka dari kaca jendela. Sepasang mata sayunya dengan seksama mengamati setiap gerak mereka. Namun senyumnya merekah saat bola tepat bersarang di kaki Budiman.
Sementara itu, Bu Asri, salah satu pengasuh panti, tersenyum senang melihat semangat mereka. Dia berharap duka mereka akan sedikit terobati dengan tawa dan canda. Perempuan paruhbaya itu pun kembali berkeliling panti.
“Hai, anak-anak, Ibu bisa ikutan main nggak..?” kata Bu Asri dengan senyum menghiasi wajahnya.
“Bener nih.. Bu Asri mau ikutan main sepak bola?!” sahut Budiman ragu.
“Iya benar.. boleh nggak..?” lanjut Bu Asri.
“Wah.. senang sekali tapi maaf Bu.. jumlah timnya sudah pas!” ucap Budiman.
“Wah.. nggak bisa ikutan ya.. ya sudah nggak apa-apa, kalian lanjutkan ya mainnya.. (tersenyum) tapi ingat ya.. jangan bertengkar!” kata Bu Asri.
“Iya Bu!” jawab mereka hampir bersamaan. Bu Asri kembali tersenyum melihat keceriaan mereka.
Kemudian Bu Asri duduk di kursi di depan teras belakang sambil terus melihat mereka bermain bola. Ada satu kebahagiaan yang dirasakan Bu Asri mendengar canda tawa lepas mereka.
Dan Bu Asri pun merasa bahagia juga melihat anak-anak di sini semua lebih baik. Kehidupan anak-anak panti asuhan seringkali menimbulkan keprihatinan tersendiri. Sebagian besar dari mereka terpaksa hidup dengan segala keterbatasan untuk dapat bertahan hidup. Namun hal itu bukan jadi penghalang bagi mereka untuk selalu ceria dan bersyukur.
Nampak wajah satu persatu anak yang sedang bermain di halaman itu, semuanya tampak ceria menikmati kegembiraan dalam permainan itu. Namun tunggu dulu, tiba-tiba pandangannya tergerak pada salah satu sudut halaman, ada seorang bocah laki-laki yang duduk seorang diri, tidak ikut bermain dengan yang lainya.