Malam itu, Budiman masih belum ngantuk, udara kamar yang cukup membuatnya berkeringat sepertinya memaksanya untuk menikmati udara malam di luar. Duduk di bawah pohon flamboyan yang besar sambil sesekali mengalihkan pandangannya menembus gelapnya langit malam. Terlihat ada beberapa bintang yang sengaja menampakkan diri dengan mengerlingkan cahayanya. Ingin rasanya dia raih bintang-bintang itu. Semilir angin bertiup menerpa daun dan ranting pepohonan. Binatang malam pun ramai bersahutan. Suasana sedikit mencekam, saat terdengar riuh suara burung celepuk yang bertengger di salah satu dahan pohon flamboyan. Samar dan tersembunyi diselimuti malam, hanya tatapan sepasang matanya yang tajam mengintai setiap orang yang lewat di bawah sayapnya.
Hingga sepasang bola matanya tertuju pada sang rembulan yang dengan angkuhnya bertengger di singgasananya. Lama sekali. Tiba-tiba Budiman merasa seperti melihat sebuah sosok wajah di tengah bias cahaya rembulan, tersenyum dan menyapanya dengan lembut.
"Ibu!" pekiknya.
Tanpa dia sadari air matanya pun jatuh membasahi pipinya. Terlintas pesan yang sering terucap dari bibir ibu, "Budiman, jika suatu saat ibu sudah tiada, hanya satu pesan ibu, teruslah sekolah, bagaimanapun keadaanmu saat ini, jangan pernah menyerah untuk menjadi apa yang kamu inginkan. Kejar cita-citamu setinggi bintang di langit.. man jadda wa jadda. Buat ibu bangga terhadapmu.”
Kini, ibunya sudah tiada. Dia pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Dua tahun lalu, tsunami telah merenggut jiwanya. Yang terasa hanyalah kesepian. Hari demi hari dia lewati bersama anak-anak yang senasib dengan dirinya di panti asuhan. Hampir separuh anak-anak penghuni panti asuhan adalah anak-anak korban bencana tsunami Aceh seperti dirinya. Pastinya mereka sangat sedih atas kepergian orangtua dan keluarga yang dicintainya. Kini yang tertinggal adalah rasa rindu atas kehadiran mereka yang kian membuncah.
Budiman teringat saat suatu malam...
Di kitaran hari yang menjelang di ufuk barat. Riak langkah berarak pergi mengitari hari bergantikan sang malam dengan senyum tersembunyi di balik awan di ufuk barat yang memerah akan berganti. Langkah-langkah yang bergayut bergegas mengitari hari tak kenal lelah, ditemani temaram lampu minyak di balik tirai jendela yang angkuh menyibakkan warna-warna gemerlap, di sudut hari yang lelah berdiri dalam sepi. Di atas bale-bale bambu sederhana, seperti biasa mereka menghabiskan waktu untuk bercengkrama sehabis menunaikan sholat Maghrib berjamaah.
Sesaat kemudian mereka berdua, menyantap nasi ikan penyet dengan sambal. Mereka mensyukuri apapun makanan yang dapat mereka makan hari ini karena itu merupakan rezeki dari Allah.
"Bukankah hidup ini cuma kebahagiaan yang dicari. Kebahagiaan dunia dan akhirat itulah tujuan kita. Walaupun ditakdirkan hidup pas-pasan, namun jika kita senantiasa bersyukur, insyaallah kebahagiaan akan datang menghampiri". Kata-kata almarhum bapaknya juga itu selalu diingatnya.
“Bu, aku kangen sama ayah. Andai saja ayah masih hidup, tentulah lengkaplah kebahagiaan kita, ya Bu. Budiman bangga pada ayah. Ayah adalah seorang tentara dan pelaut yang gagah berani!” ucap bocah berumur tujuh tahun tersebut.
“Bu, mengapa aku dilahirkan dengan fisik yang berbeda dengan mereka?” lanjutnya.
“Untuk jadi orang hebat kan tidak harus sama dengan mereka, justru perbedaan itulah yang bisa semakin menambah keberagaman bangsa kita. Iya kan?” jawab Bu Salamah, sang ibu yang sangat dicintai Budiman.
“Tapi, Bu. Banyak yang mengejek Budiman, mereka sering menyebutku bule, apa karena aku mempunyai rambut pirang dan mata biru. Aku malu Bu!” kata Budiman.
“Budiman, jangan kamu hiraukan ucapan mereka ya..,” sahut Bu Salamah.
”Lalu apakah benar kita ini keturunan bangsa asing?" tanya Budiman lirih.
“Sudahlah, sebenarnya kita ini juga sama dengan mereka, kita sama-sama sebagai bangsa Indonesia, betul begitu kan, jadi kenapa kamu harus malu?” jawab Bu Salamah dengan lembut.
“Iya Bu,” jawab Budiman.
“Lebih baik kita bersabar dan bersyukur tentang apa yang sudah Allah berikan pada kita. Kebahagiaan itu sederhana. Sangat sederhana. Tinggal kamu sendiri yang akan merasakannya. Jalani saja hidup ini apa adanya. Tidak ada halangan bagi siapapun untuk berprestasi. Dan yang perlu kamu ingat, hanya semangat pantang menyerah yang akan membuatmu keluar sebagai pemenang!” kata Bu Salamah penuh kelembutan.