Sementara itu, setelah tragedi tsunami terjadi, Budiman berusaha untuk mencari keberadaan ibunya. Dia tetap berharap ibunya masih bisa selamat, namun jika tidak terselamatkan maka dia ingin sekali menemukan jasad sang ibu. Setelah beberapa hari melakukan pencarian, Budiman masih belum juga menemukan jasad ibunya. Namun Budiman tidak mau menyerah. Dengan langkah kakinya yang gontai dan terseok, entah karena kelelahan ataukah putus asa, dia masih terus mencari dan mencari di antara tumpukan puing-puing yang berserakkan dan mayat-mayat yang bergelimpangan. Meski tangannya sudah gemetar karena kelelahan, hampir tak ada tenaga yang tersisa.
Namun semangat dan rasa cintanya pada ibunya telah mengalahkan rasa letih. Dengan tertatih, dia paksakan kakinya yang mulai nampak memar untuk terus melangkah. Mendadak Budiman menghentikan langkah kakinya. Layangkan matanya pada langit. Dia tidak tahu lagi apakah ini siang atau malam. Waktu telah berhenti sejak peristiwa itu. Tapi dia butuh waktu untuk mengais sisa tenaganya. Lalu apa yang masih menggerakkannya? Tubuh? Tidak. Tubuh kecil itu sudah tidak berfungsi lagi. Namun, kalaupun kaki itu harus dicabut dari tungkai nya, dia masih akan terus berjalan. Semuanya memang telah sirna. Tapi masih ada yang tertinggal.
Karena itu, dia masih mencari. Sepanjang beberapa depa, Budiman kembali menghentikan langkah. Kakinya dilanda nyeri. Seribu semut merah seperti menggigit urat kakinya. Budiman memijit-mijitnya dengan perlahan. Hanya istirahat sejenak. Sebab sesudahnya, dengan rasa sakit yang masih menyisa, dia berjalan kembali.
Mungkin rasa sakit itu sudah hilang. Bersama tumpahan air mata yang membanjir berhari-hari sebelumnya hingga tak menyiksa. Meskipun dia minum seluruh air laut, itu takkan bisa menggantinya. Bocah laki-laki itu pun telah menghapus air mata itu dalam catatan di darahnya. Seperti beku telah membungkus hatinya. Hanya dengan mata dia berjalan. Mata yang gelap.
Berhari-hari yang lalu, dia telah menjelajahi seluruh tempat. Puing-puing yang luruh. Mayat-mayat yang berserakkan. Ada tetangganya, teman melaut, temannya yang sering menunggui kapal ikan datang, penjaga surau kampung. Namun sang ibu tak ada di sana. Karena itu, dia terus mencari dan berharap segera bisa menemukan ibunya.
''Sudahlah, Budiman. Istirahatlah sejenak. Badanmu sudah letih.''
Dia tidak begitu awas, suara siapakah itu. Dia pun tak terlalu peduli dengan suara itu.
''Nanti saja. Aku harus menemukan ibuku dulu. Aku belum lelah. Nanti aku akan istirahat bersama tenggelamnya sang waktu,'' ucap Rendra lirih.
Tidak. Dia telah berbohong pada dirinya sendiri. Lelah? Budiman belum menemukan yang dia cari, maka dia tidak akan istirahat. Lagipula kemana dia akan beristirahat?
“Sudah, istirahatlah bocah kecil.”
Suara itu terdengar lagi di telinganya. Namun Budiman hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak kan ada langkah surut, suara hati kuatkan langkahnya. Mungkin hanya dirinya sendiri yang bisa memahami sikapnya. Batu yang keras itu tak akan mudah dilebur dalam satu pukulan kampak.
''Mereka sudah meninggal. Mengapa engkau masih tak ikhlas juga. Bukankah engkau tahu mereka sudah memenuhi takdirnya. Mereka telah beristirahat dengan tenang. Maka kini istirahatlah.''
Sedetik tubuh Rendra mengeras. Matanya tajam menentang ke atas. Ada yang dicarinya di sana. Tapi tak ada apa-apa. Langit tak biru. Merah memantul dari lensa matanya. Hanya angin yang berkesiur. Selebihnya tak ada.
''Nantilah. Nanti saja. Aku belum ingin istirahat.''
''Siapa yang kamu cari, wahai bocah kecil? Ibumu sudah pergi.
Mengapa engkau masih bengal juga!”
Sekali lagi Budiman tak peduli.
''Kemana engkau akan mencari?'' perempuan yang matanya kelabu memanggilnya serupa angin.
''Tak usah hiraukan aku, Bu!''
*****
Budiman terus berjalan. Kakinya yang menyusut dari waktu ke waktu dan makin kehilangan daya tak mampu kalahkan kehendaknya. Sementara itu mayat-mayat bergelimpangan seperti rongsokan. Bau menyengat yang mengundang kerumunan lalat menggunduk di setiap setiap tempat. Tapi Budiman tetap tidak menghiraukan itu semua. Matanya yang berpijar merah melata, susuri setiap mayat yang bergelimpangan itu. Tangannya mengorek satu demi satu mayat yang terhampar di kakinya.