Malam semakin larut, jam menunjukkan pukul 24.00 WIB artinya satu detik kemudian menjadi saksi bergantinya hari. Suasana di sepanjang jalan utama depan panti asuhan Rumahku Surgaku nampak begitu senyap dan sepi, hanya bayangan batang pepohonan flamboyan dengan ranting yang diterpa cahaya rembulan mirip sebuah cakar jemari tangan sang malaikat maut. Menambah kesan angker.
Tak nampak seorang pun yang melintas, sepertinya mereka masih menyisakan rasa takut untuk keluar rumah meski hanya sekedar untuk duduk-duduk di bale depan rumah mereka. Temaram beberapa lampu jalan sedikit berguna untuk memberi kesan bahwa masih ada kehidupan yang sedang berlangsung. Sementara semburat cahaya bulan sepertinya tak mau kalah dengan lampu jalan dengan tiang besinya yang kokoh.
Di kejauhan nampak tiang-tiang listrik yang mematung di kaki malam menantang. Sesekali terdengar suara burung hantu yang bercengkrama dengan sang penguasa kegelapan. Binatang malam bungkam, ikut menikmati keindahan suara sang burung perindu itu. Budiman masih belum mengantuk. Kepalanya masih dipenuhi cerita yang terucap dari bibir Intan tadi siang. Bayangan wajah Intan yang tersenyum bahagia masih terus bermain-main dalam kepalanya.
“Hmm.. jika benar apa yang dikatakan Intan sore tadi, berarti aku akan segera berpisah dengannya.. lalu aku harus senang atau sedih. Ya Allah, apa aku harus merasakan kehilangan orang-orang yang kusayangi untuk kesekian kalinya. Setelah kehadirannya cukup mengobati kesedihanku, kini Engkau kembali hendak menjauhkannya dariku..," gumam Budiman sambil mengerutkan dahinya.
Budiman kembali teringat ucapan Intan..
Saat itu, Budiman sedang duduk berteduh dari sengatan panas matahari di ayunan yang tergantung di batang pohon flamboyan, tiba-tiba seseorang berteriak memanggilnya, membuyarkan lamunannya. Ternyata Intan. Wajahnya terlihat gembira. Sejurus kemudian Intan menarik tangan Budiman, membawanya ke ruang kerja Bu Asri.
Dia menunjuk orang yang ada di dalam ruangan itu, “Bang Budiman, lihat itu, ada orang yang mau mengadopsi!”
“Semoga saja mereka mau adopsi kita ya..,” lanjut Intan.
Budiman hanya bisa mengangguk pelan dan tersenyum. Hal itu biasa dilakukan gadis kecil itu setiap kali dia melihat orang yang datang untuk mencari anak adopsi.
*****
Hingga menjelang sore, mendadak Intan masuk ke kamar sambil tersenyum. Budiman sudah mengerti, jika dia tersenyum seperti itu artinya sedang gembira.
“Bang Budiman,” panggil Intan.
“Bang, mereka mau mengadopsi Intan!“ ucap Intan dengan wajah yang ceria.
“Mereka siapa?“ tanya Budiman penasaran.
“Itu lho Bang.. mereka yang tadi siang kesini. Ah, mimpi apa ya aku semalam? Akhirnya impianku jadi kenyataan, Bang. Aku senang sekali. Mereka bilang mereka akan menjemputku lusa. Aku harus siap-siap nih,” lanjut Intan riang.
“Oh ya? Siapa nama mereka?“ tanya Budiman kembali.
“Pak Sulaiman, beliau adalah seorang dokter di Malaysia,“ jawab Intan bersemangat.
“Wah, jauh banget ya... tapi syukurlah. Aku ikut gembira. Berarti kamu punya orang tua asuh yang kaya. Tapi kamu jangan pernah melupakan Bang Budiman ya..,” ucap Budiman seraya memeluk Intan.