Baiti Jannati Rumahku Surgaku

DENI WIJAYA
Chapter #7

KESEDIHAN YANG MEMBUNCAH #7

“Intan, tolong ambilkan minyak kayu putih di kamar ibu ya, di atas meja kayu!” pinta Bu Asri pada Intan.

“Baik, Bu!” sahut Intan melangkah mengambil sebotol minyak kayu putih dari dalam kotak P3K yang berada di kamar Bu Asri.

Sementara itu Bu Asri masih sibuk mengompres kening Budiman dengan kain handuk basah karena demam. Beberapa saat kemudian, Pratiwi sudah kembali sambil membawa sebotol minyak kayu putih seperti yang diminta Bu Asri.

“Terimakasih, Intan!” ucap Bu Asri.

Kemudian Bu Asri mengoleskan minyak kayu putih itu di leher, dada, perut, kedua telapa kainya dan di dekat kedua lubang hidup Budiman.

“Bu, kasihan Bang Budiman ya.. pasti dia sangat sedih,” seloroh Intan sambil memandangi dengan seksama pemuda yang masih terbaring lemah tak sadarkan diri di bale bambu itu.

“Iya, mungkin Budiman masih kaget dan belum bisa menerima kenyataan mengetahui kamu mau di adopsi oleh Pak Sulaiman,” kata Bu Asri dengan lembut.

“Lalu Intan harus bagaimana, apakah saya harus membatalkannya, Bu?” tanya Intan bimbang.

Bu Asri hanya diam, tarikan nafas yang dalam menandakan kegalauan yang tertahan. Kedua bola mata sayunya manatap wajah cantik Intan yang nampak cemas.

“Intan, ibu hanya berharap yang terbaik untuk kalian. Kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan bagi ibu juga. Kalian sudah seperti anak kandung ibu semua," ucap Bu Asri.

"Intan, ikutilah hati nuranimu, jika kamu sudah yakin, berangkatlah. Ibu yakin, Budiman akan baik-baik saja. Budiman pasti akan mengerti dan merelakan kepergianmu. Dia anak yang baik," lanjut Bu Asri.

Intan hanya diam membisu, namun anggukan kepalanya yang berat mengisyaratkan ada beban perasaan yang berat sembari pandangannya tak hendak lepas dari wajah pucat Budiman.

Mungkin dari sekian banyak anak-anak panti pastilah berharap mereka punya orangtua adopsi. Mereka berfikir bahwasannya sangat beruntung bagi mereka yang sudah diadopsi, bisa bersekolah dengan layak dan cita-cita mereka bisa tercapai. Setiap hari banyak berpasang-pasang mata sayu menatap orang-orang yang datang ke panti dan berharap salah satu dari mereka akan menjadi orang tua asuhnya kelak. Itulah satu hal yang menjadi impian mereka.

"Mungkin lusa Pak Sulaiman akan menjemputmu. Intan, kamu harus yakin ya, insyaallah semua akan baik-baik saja. Jangan lupa berdoa ya..," ucap Bu Asri lembut sambil tangannya menepuk lemput pundak gadis kecil itu. Intan merebahkan kepalanya dalam pelukan Bu Asri. Intan menangis sesenggukan. Dia merasakan kehangatan dan kasih sayang seorang ibu yang selama ini sudah tidak bisa dia rasakan lagi.

"Terimakasih, selama ini Bu Asri selalu sabar dan menyayangi kami semua di sini. Dan di panti asuhan ini saya merasa menemukan kembali kehangatan keluarga yang penuh cinta kasih setelah rumah dan keluargaku hilang bersama ombak tsunami," ucap Intan dengan nada berat, seolah ada sesa yang memenuhi rongga dadanya.

"Intan, kita di sini semua adalah saudara, kita di sini adalah keluarga. Kalian semua adalah anak-anak ibu yang sudah seharusnya ibu sayangi. Di sini kita semua saling berbagi dan saling mencintai," balas Bu Asri lembut seraya membalas pelukan gadis kecil berambut hitam sebahu itu yang sudah beranjak remaja.

Suasana yang mengharu biru tersebut harus pecah karena terdengar suara igauan Budiman yang memanggil-manggil nama ibunya. Bu Asri bergegas kembali mengoleskan minyak kayu putih di dada Budiman. Sementara jemari tangan lembut Intan memijat telapak kaki Budiman.

"Kasihan Bang Budiman, sepertinya dia belum bisa melupakan ibunya. Pasti dia sangat mencintai ibunya," ucap lirih Intan. Tak terasa butiran-butiran bening memenuhi kelopak matanya. Tatapan nanar menambah aura kesedihan di wajah cantiknya.

Bu Asri hanya menghela nafas panjang. Ditatapnya wajah Intan lekat-lekat dengan pandangan kasih.

"Bu, andai saja saat tragedi tsunami Aceh empat tahun yang lalu, Bu Asri melihat langsung peristiwa itu, mungkin ibu nggak akan sanggup untuk menyaksikannya, di mana kengerian dan teriakan ketakutan serta tangis histeris yang menyayat hati terdengar menggema di segala penjuru Aceh. Mereka harus berjuang untuk lepas dari kematian..," jelas Intan mengawali ceritanya.

Intan berusaha mengingat kembali kengerian peristiwa tsunami yang memporak-porandakan wilayah Aceh empat tahun yang lalu..

Ketika jarum jam menunjukkan angka pukul 08.20 an, tiba-tiba terjadi gempa berkekuatan sembilan skala Richter yang membuat kepanikan luar biasa, masyarakat yang tadinya banyak disibukkan dengan aktivitasnya, tiba-tiba panik berhamburan, berteriak histeris dan berusaha menyelamatkan diri dari dahsyatnya goncangan gempa bumi yang mengayun-ayun kota ke kiri kanan, atas bawah, sampai-sampai tidak ada yang sanggup berdiri akibat kuatnya goncangan.

Gempa besar yang terjadi telah memaksa mereka berhamburan lari ke luar rumah, berkerumun di pinggir jalan, di halaman dan tempat lapang agar tidak tertimpa bangunan yang roboh. Gempa besar telah meruntuhkan bangunan-bangunan bertingkat, masjid, rumah-rumah, toko dan meretakkan sebagiannya.

Lihat selengkapnya