Kegalauan masih menyelimuti hati dan pikiran Intan, bagaimana tidak, waktu perpisahan dengan Budiman dan anak-anak panti semakin dekat. Ini sebuah dilema bagi dirinya. Apakah dia harus ikut merasa bahagia ataukah sedih karena harus berpisah dengan keluarga yang menyayanginya di panti.
Entah untuk yang ke berapa kalinya Intan membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang. Nyanyian jangkrik terdengar makin lantang, seiring dengan terhentinya suara riuh manusia yang rutin terdengar di pagi hari. Dari balik jendela, cahaya bulan telah memberi warna perak pada pepohonan di luar sana. Sesekali dia melempar pandangan pada jam dinding yang menggantung di seberang ranjangnya. Pukul 02.00 WIB. Hingga saat ini kedua matanya enggan terpejam, walau perihnya mata sudah terasa.
Hingga waktu perpisahan itu pun tiba. Tiga hari kemudian sebuah mobil sedan mewah warna biru datang ke panti. Sementara Budiman hanya melihatnya dari balik jendela. Sebenarnya Budiman tidak rela, tapi mau tidak mau dia harus merelakan kepergian Intan. Dari balik jendela, Budiman melihat Intan menangis, sepasang matanya menatapnya yang berdiri di balik kaca jendela sambil melambaikan tangan.
“Aku tidak boleh menangis. Menangis artinya lemah. Jangan menangis, jangan menangis, Budiman.. jangan menangis,” ucap Budiman dalam hati menguatkan perasaannya.
Sekuat apapun Budiman menahan air matanya agar tidak turun tapi tanpa sadar air mata itu pun akhirnya mengalir juga.
Intan pergi bersama orangtua baru, ke rumah baru, keluarga baru di Malaysia. Mungkin rumah barunya itu sangat bagus, mewah seperti istana dan banyak pelayan yang akan melayaninya sehingga mungkin dia akan melupakannya. Tapi tidak, dia berusaha untuk menepis prasangka buruk itu. Tidak. Intan tidak mungkin melupakannya.
Hari demi hari Budiman terus menunggu kabar dari Intan. Budiman terus menanti di bawah pohon flamboyan tempat biasa mereka bermain dulu. Budiman membayangkan betapa bahagianya Intan di sana. Tiba-tiba Bu Asri menyadarkannya dari lamunannya.
“Budiman, ada telepon dari Intan,” kata Bu Asri.
Tanpa banyak kata, Budiman segera berlari ke ruangan Bu Asri dan mengambil telepon.
“Halo. Assalamu'alaikum," ucap Budiman menjawab telepon itu.
“Waalaikumsalam, Bang Budiman, ini Intan. Bagaimana kabarnya, Bang?” balas Intan.
“Alhamdulillah baik. Kamu sendiri bagaimana? Ceritakan tentang rumah baru kamu,” tukas Budiman dengan nada gembira.
“Bang, aku senang sekali di sini. Rumahnya seperti istana. Pembantunya juga ada banyak. Makanannya enak-enak, tapi aku masih lebih suka masakan Indonesia, Intan rindu sama kamu, Bang. Kapan ya kita bisa ketemu lagi?” tanya Intan.
“Makanya kamu sering-sering berkunjung ke panti, nanti kusiapkan ayam goreng kesukaanmu,” jawab Budiman.
“Ah, Bang Budiman ini bisa saja. Iya Bang, jika ada waktu, insyaallah Intan pasti akan sering ke sana. Intan kan masih ingin main di ayunan yang kita buat di pohon flamboyan depan panti lagi,” ucap Intan merajuk manja.
Budiman pun menjawab, “Iya, aku akan selalu menunggu kedatanganmu Intan.”
*****