Baiti Jannati Rumahku Surgaku

DENI WIJAYA
Chapter #11

BUKAN JAMAN SITI NURBAYA #11

“Intan, ayo makan dulu, sudah Umi siapkan makanan kesukaanmu,” panggil Umi Azizah.

Namun setelah cukup lama menunggu, namun tak ada jawaban dari dalam kamar. Kemudian Umi Azizah mengetuk pintu kamar putrinya pelan-pelan. Tak ada jawaban dari dalam.

"Assalamu’alaikum, boleh Umi masuk?" tanya Umi Azizah lembut.

“Intan, kamu di dalamkah?” sambung Umi Azizah lagi.

Hening. Biasanya tak menunggu lama pintu itu langsung dibuka. Tapi kali ini tidak. Umi Azizah semakin khawatir dan dia pun memutuskan membuka pintu kamar. Ketika pintu sudah terbuka, Umi Azizah mengarahkan pandangannya ke tempat tidur. Tak ada siapa pun. Kemudian dia amati ruang kamarnya, Intan tak kunjung ditemukan juga. Kemudian Umi Azizah melanjutkan pencariannya ke taman belakang rumah. Pintu kaca ke arah taman belakang terbuka.

“Intan, rupanya kamu di sini,” ucap Umi Azizah seraya melangkah menghampiri putrinya tersebut.

Umi Azizah mendapati Intan sedang memainkan kakinya di tepi kolam ikan. Nampak sesekali kedua kakinya dikerubuti ikan-ikan kecil. Memandangi bayangannya di air kolam yang beriak karena canda ikan-ikan koi yang saling berkejaran. Riang sekali, sesekali dari mulut mereka mengeluarkan gelembung udara.

“Intan, sayang, kamu baik-baik saja kan?” panggil lembut Umi Azizah, namun Intan hanya diam saja. Sepertinya dia mendengar panggilan Umi Azizah.

“Hmm.. pasti dia sedang melamun,” gumam Umi Azizah.

“Intan, ada apa sayang, kok wajahmu murung?” tanya Umi Azizah.

Umi Azizah melihat wajah murung putrinya, sesekali nampak Intan menghembuskan nafas begitu berat. Benar, Umi Azizah tak pernah mendapatinya seperti ini. Perlahan Umi Azizah mendekati Intan dan duduk di sampingnya, ikut mencelupkan kakinya ke tempat yang sama. Lalu Umi Azizah memasukkan tangannya juga ke dalam air.

Kemudian dia jatuhkan beberapa tetes air tepat di atas bayangan wajah putrinya. Dan bayangan itu pun pecah, membentuk gelombang yang semakin menjauh. Umi Azizah pun tertawa, mencoba menghiburnya. Sejenak Intan menatap mamanya, lalu kembali menatap riak-riak air kolam.

"Intan, lihat ikan-ikan itu, berkejaran kesana-kemari. Tak ada wajah sedih ataupun muram ya..," ucap Umi Azizah sambil tersenyum memandangi ikan-ikan koi yang berenang di kolam.

Masih tak terdengar suara dari bibirnya. Biasanya, putrinya itu akan langsung mengomentarinya. Namun kali ini, segalanya terasa hanya angin yang berbisik tenang. Sepertinya mulutnya sedang terkunci rapat. Hilang semua keceriaan yang biasanya setiap hari dia tunjukkan

Umi Azizah pun jadi terbawa suasana. Intan melihat bayangan mereka berdua pada air di kolam.

"Umi, apa aku ini cantik? Betul begitu Umi?" desah Intan lirih.

Umi Azizah pun tersenyum sambil meraba pipi putrinya itu, "Intan, kamu ini anak Umi yang paling cantik se-Malaysia bahkan sedunia. Lho, memangnya kenapa? Memang ada yang bilang kamu ini jelek ya?" jawab Umi Azizah.

"Nggak ada," ucap Intan dengan mimik serius.

"Benar. Kamu ini cantik, kalau tidak percaya lihat wajahmu di air., cantik kan?” jawab Umi Azizah dengan mimik serius namun tetap tersenyum sambil membelai rambut Intan.

“Apa Intan kelihatan jelek ya jika sedang sedih.. ya Umi?” tanya Intan lagi.

“Ya tentu, karena itu jangan bersedih lagi, ayo dong.. cerita pada Umi.. apa yang membuatmu bersedih?” jawab Umi Azizah.

"Umi, apa salah jika Intan suka pada laki-laki?" tanya Intan tersipu malu. Mendengar itu Umi Azizah hanya tersenyum.

"Ooo.. jadi anak Umi sedang jatuh cinta nih ceritanya.. hehehe..," sahut Umi Azizah dengan senyum masih menghiasi bibirnya.

"Salah apa nggak ya?" ucap Umi Azizah sambil mengerutkan dahinya, mencoba mengundang tawa putrinya itu.

"Intan, tidak ada yang salah dengan cinta. Cinta itu fitrah semua makhluk ciptaan Allah. Cinta itu anugerah. Umi tahu kamu ini sudah beranjak dewasa dan perasaan suka sama lawan jenis adalah naluri semua makhluk, jadi tidak salah jika kamu menyukai laki-laki namun juga harus diingat bahwa cinta mempunyai batasan-batasan tertentu yang sudah diatur dalam syariat Islam. Siapa dia?” lanjut Umi Azizah.

“Budiman,” jawab Intan singkat.

“Tapi Umi, Intan ragu,” ucap Intan.

“Kenapa ragu?” cecar Umi Azizah.

“Apa dia juga menaruh hati sama Intan?” seloroh Intan.

“Aulia, sekarang yang terpenting kembali pada keyakinan hatimu. Jika kamu memang yakin dengan Budiman, kenapa tidak..,” kata Umi Azizah.

“Iya Umi,” sahut Intan.

“Kalau boleh Umi tahu, siapa Budiman itu? Teman sekampus kamu ya?” tanya Umi Azizah.

“Budiman itu buka teman sekampus Intan, Mi..,“ jawab Intan lirih.

“Kalau bukan teman sekampus, lalu siapa dia?” cecar Umi Azizah penasaran

Sejenak Intan hanya diam, sepertinya keraguan sedang menderanya, “Budiman itu adalah sahabat Intan yang juga sama-sama tinggal di panti asuhan Rumahku Surgaku.”

"Budiman..?" pekik Umi Azizah lirih, raut wajahnya sedikit berubah murung.

"Iya, Umi ingat pemuda itu tapi mengapa harus Budiman, kamu tahu sendiri bahwa Abi mu tidak melarangmu berhubungan dengan Budiman," lanjut Umi Azizah.

"Mengapa Intan dilarang berhubungan dengan Budiman, memangnya salah apa Budiman?" protes Intan.

"Dia adalah laki-laki yang baik, Mi..," sambung Intan.

Lihat selengkapnya