Sementara itu dalam kamar Intan, dalam hembusan udara malam Kuala Lumpur yang menusuk tulang, terdengar sayup-sayup alunan instrumen pengantar tidur dari sebuah musik box putar yang terbuat dari kuningan dengan hiasan dua orang sejoli yang berputar menari di atasnya, seolah mengikuti irama musik. Merdu. Sungguh hidup. Menyentuh hati bagi sang perindu. Alunan musik yang memecah keheningan malam langit Kuala Lumpur.
Sepasang mata seolah tak ingin lepas dari music box tersebut. Kelihatan sekali dia sangat menikmatinya, benar-benar membawanya ke alam bawah sadarnya, kembali membuka kenangan lama, mengoyak kesedihan dalam rajutan cinta.
Ya, malam itu sepertinya Intan sedang galau. Bukankah semestinya kebahagiaan akan dirasakan oleh seorang gadis yang hendak melaksanakan pesta pernikahan. Namun tidak, justru kesedihan dan kekecewaan yang saat ini dia rasakan. Hanya butiran-butiran bening yang memenuhi kedua kelopak matanya, mewakili suasana hatinya. Intan teringat akan saat-saat terakhir kalinya dia harus berpisah dengan Budiman setahun yang lalu.
Saat di bandara Juanda, Surabaya setahun yang lalu..
Setelah kurang lebih dua jam setengah menunggu di bandara Juanda, Surabaya, seseorang yang sangat dinantikannya tak kunjung datang. Sedangkan jadwal keberangkatan pesawatnya kurang setengah jam lagi. Gelisah bercampur harap menguasai hati dan pikiran Intan. Gelisah, cemas, sedih dan rindu campur aduk seperti gado-gado atau jus aneka buah dengan aneka rasa. Manis, asem, asin ramai rasanya.
“Intan, ayo tak lama lagi flight nya akan tiba!!” kata seorang pemuda berwajah khas Melayu.
Waktunya tiba, pemuda tersebut sudah memanggilnya. Sepertinya, saat itu, dia tak punya alasan lagi untuk menolak dan berkata ‘tidak’, selain mengikuti apa kemauan pemuda itu. Pandangannya tak lepas dari pintu lobi itu, entah untuk yang keberapa kali. Di sana ada seorang penjaga, masih dengan kesibukan yang sama. Sementara itu nampak pemuda itu sedang mengecek semua barang bawaannya.
“Intan, you bawa yang ini!” kata pemuda itu.
Dengan wajah tanpa ekspresi dan tak bersemangat, Intan meraih tas cukup besar seperti yang dimaksud oleh pemuda di sampingnya itu. Karena sejak semula dia memang enggan untuk pergi meninggalkan Indonesia. Sesaat terdengar lagi suara pemuda itu, suara yang berusaha keras untuk dia abaikan.
“Intan, hati-hati ya jangan sampai ada yang tertinggal! Itu, koper kecil itu dibawa sekalian! Isinya surat-surat penting!” ujarnya lagi.
“Ayo!” ucap pemuda itu sudah melangkah lebih dulu.
Untuk kesekian kali lagi, Intan menatap pintu lobi bandara Juanda, berharap di sana ada seorang pemuda yang beradu mulut dengan petugas penjaga karena memaksa masuk seperti di film-film romantis. Tapi matanya tak melihat apa-apa. Karena tak ada yang diharapkan saat ini kecuali seorang pemuda yang telah membuatnya gila akan cinta.
“Intan!” erang pemuda itu lagi.
Pemuda itu sudah meninggalkan gadis cantik berambut sebahu tersebut sekitar 6 meter di belakang dirinya. Tergambar ekspresi kesal pada wajah pemuda itu.
“Intan, ayo! Nanti kita ketinggalan flight!” kata pemuda itu lagi.
Intan menatapnya pasrah. Tak tega juga terus-terusan membuatnya kesal begitu.
“Baik, aku pergi. Selamat ya, karena sekarang saya berada penuh dalam kendalimu!” ujar Intan dalam hati dengan perasaan sedikit kesal.
Intan melangkahkan kaki menuju di mana pemuda itu berdiri, namun belum sempat Intan sampai padanya, dia sudah berjalan lagi. Sepertinya pemuda itu tak tahan lagi menunggu langkahnya. Yang penting dalam penglihatannya, Intan sudah mau berjalan. Langkahnya terasa berat. Seperti ada rantai dengan bola besi yang membelenggu kakinya. Kepalanya tertunduk seolah merasakan dirinya telah kalah, harapannya telah sirna. Membuat ubin-ubin penyusun lantai ruangan ini terlihat jelas oleh matanya yang berkaca-kaca.
Perasaan malasnya semakin muncul, rasanya ingin sekali Intan berbalik arah dan berlari kencang, melempar dua benda di tangannya ini tanpa memperdulikannya dan kabur dari tempat ini. Tapi tidak, Intan tak mungkin melakukannya. Bahkan semua telah berbalik, mungkin sebaiknya memang dia harus pergi. Pergi.
"Hmm.. bukannya tak ingin, tapi harus. Akhh.. entahlah aku sudah tak tahu lagi apa yang harus kulakukan," gerutunya dalam hati.