Baiti Jannati Rumahku Surgaku

DENI WIJAYA
Chapter #17

CINTA DAN TAKDIR #17

Siang ini tidak beda dengan siang di hari yang lain. Hujan baru saja reda meski masih meninggalkan gerimis yang mengundang, sementara mendung hitam masih terlihat di langit Kuala Lumpur. Namun udara pagi terasa lebih segar, debu yang biasanya berterbangan tersapu tetesan hujan. Langit biru dan angin yang bertiup pelan menambah segar siang ini. Siang yang indah.

Budiman baru saja masuk ke dalam mall di kawasan little india, dia tidak peduli dengan orang-orang yang berjalan di depannya. Meski bukan musim liburan dan akhir tahun tetapi pengunjung siang ini lumayan banyak dengan tujuan yang berbeda mungkin belanja atau mungkin hanya sekedar membuang waktu dengan berkeliling mall. Sedangkan Budiman, tujuannya hanya satu. Berjumpa dengan Intan.

Sesampainya di lantai tiga, pandangannya mengarah ke salah satu sudut café namun tidak terlihat sesosok gadis yang dia cari. Budiman mengarahkan matanya ke jam tangan, 13:26 waktu Kuala Lumpur. Dia memutuskan untuk masuk ke satu café yang berhadapan dengan tempat mereka janjian, jadi Budiman bisa melihat kalau nanti dia akan datang. Secangkir teh tarikh baru saja disajikan di depannya, dia melirik ke pelayannya dan mengucapkan terima kasih. Kemudian dia nampak membolak-balik majalah yang memang tersedia di café itu sambil sesekali melirik ke luar café.

Budiman menghela nafas panjang, dia biarkan jari jemarinya memainkan sendok teh dalam segelas teh tarikh panas. Klintiing... klinting… bunyi nyaring gesekan kepala sendok teh yang terbuat dari logam yang berputar, beradu dengan dinding gelas yang terbuat dari kaca tebal, mulai memecah keheningan hatinya, membuyarkan lamunannya. Iramanya seolah mengiringi hatinya yang sedang galau.

“Sudah 20 menit Intan kok belum datang juga!” gerutu Budiman mulai gelisah.

Budiman tak sadar saat mengucapkan kalimat itu sambil melihat sesekali jam di tangannya. Hingga nada SMS di ponsel milik Budiman berdering menyadarkannya dari lamunan. Pemuda berambut cepak tersebut tertunduk membaca SMS itu, jari jemarinya berhenti memainkan sendok di tangannya hingga kesunyian kembali meruang, membuat jantungnya semakin berdetak kencang tak beraturan. Budiman mencoba untuk menikmati secangkir teh tarikh di hadapannya, menahan untuk tidak melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

“Semoga waktu berjalan dengan cepat!” ucapnya dalam hati.

Budiman kembali menghela nafas, namun alunannya tetap tidak mampu menenangkan detak nadinya yang berdenyut tak beraturan. Budiman memejamkan mata.

“Jangan lihat jam, Budiman, dia pasti datang!” ucap Budiman berulang-ulang dalam hati, meyakinkan dirinya sendiri.

Dia biarkan udara mengibas rambut cepaknya saat hembusannya terdengar di balik keheningan. Namun hanya beberapa detik setelah itu, keheningan kembali terpecahkan.

Waktu berjalan perlahan tapi pasti, teh tarikh dalam gelas masih tersisa setengah dan sama sekali tidak panas lagi. Perlahan Budiman mengangkat gelas dengan niat untuk menghabiskannya sebelum benar-benar dingin. Namun tangannya tertahan ketika matanya secara sekilas melihat wajah seorang gadis yang begitu akrab di matanya, melangkah mendekati sebuah café tepat di seberang posisinya saat ini.

Sama sekali tidak banyak yang berubah pada dirinya. Tetap cantik. Mempesona. Meski dia lebih kelihatan kurus dan kedua kelopak matanya sembab dengan ekspresi wajah yang muram. Tiba-tiba jantungnya berdetak tidak seperti biasa, berpacu lebih cepat seperti ingin segera melompat dan mendekat. Sementara hatinya memiliki keinginan yang lain, menahan kakinya untuk melangkah dan membiarkan matanya untuk memandangnya lebih lama lagi dari tempat duduknya. Memandangnya dengan sepuas hati tanpa harus mengucapkan sepatah kata yang selama ini terbenam dalam hati.

Sejenak gadis itu menoleh ke dalam café, mungkin sedang mencari-cari tanda keberadaan Budiman. Tangannya mengeluarkan handphone dari dalam tas. Jari-jarinya menekan tuts dan kemudian mendekatkan handphonenya ke telinga. Kembali melirik ke dalam café.

Assalamu’alaikum!” sapa Budiman.

Wa’alaikum salam!” balas Intan.

“Aku sudah di depan café, Bang Budiman di mana?” tanya Intan.

“Eh, masih di jalan!” ujar Budiman. Entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulut Rendra begitu saja.

“Intan, kamu tunggu di situ saja dulu, pesan minum atau apalah. Sebentar lagi aku akan sampai!” sambung Budiman.

“Saya tunggu di dalam ya, tapi jangan lama-lama ya,” ucap Intan.

“Enggak, paling sepuluh menit lagi,” balas Budiman.

Sesaat kemudian, Intan benar-benar masuk ke dalam cafe dan duduk di pojok. Sementara itu Rendra Budiman masih terus memperhatikannya, dia sedang berbicara dengan pelayan café. Mungkin memesan minuman. Sekitar beberapa menit kemudian Budiman berdiri, membayar minumannya dan melangkah pelan keluar menuju café di depan. Rasanya seperti mau kencan pertama. Di depan pintu Budiman berdiri sejenak menatap ke meja di pojok café, nampak Intan sedang sibuk membaca menu yang ada di depannya.

“Maaf, jika kamu menunggu lama!” lanjut Budiman.

Wajah cantik Intan terangkat mencari asal suara yang barusaja dia dengar. Matanya menatap ke wajah pemuda yang ada di hadapannya. Dia merasakan jantungnya kembali berdetak tidak beraturan. Mata itu. Mata yang sampai saat ini masih tetap menjadi mata yang terindah yang pernah ia lihat.

“Nggak kok, aku juga barusan sampai!” jawabnya lirih.

Tanpa dipersilahkan, Budiman duduk di depannya. Sudah lama dia berharap bisa bertemu dengannya, justru terkadang merasa kalau keinginan untuk bertemu lagi hanya menjadi keinginan yang tak akan terwujud. Tapi hari ini, siang ini keinginan itu telah terpenuhi, dia ada di depan mata, hanya berdua. Kemudian mereka disibukkan dengan membolak-balik daftar Bahkan, sepertinya mereka sama-sama sedang mencari bahan untuk memulai pembicaraan.

Gadis itu pun tersenyum melihat Budiman memperhatikannya dengan penuh makna.

“Kenapa Bang? Saya masih cantik mempesona ya?” tanya gadis itu membuyarkan lamunannya.

Budiman hanya tersenyum mendengar ucapannya.

Untuk beberapa saat, senyuman manisnya itu membuat pikiran Budiman melayang menelusuri setiap kenangan yang dia lewati bersamanya. Hingga akhirnya, lamunannya terhenti pada sebuah momen yang membuatnya ingat akan tujuannya semula.

Sesaat tiba-tiba mereka sama-sama terdiam, membiarkan desauan angin mengisi keheningan yang tak terkendali saat itu. Gadis itu menatapnya penuh, membuat Budiman melemah ketika tersadar bahwa bola mata itu tertuju kepadanya. pemuda itu pun tertunduk, membuatnya tersenyum hingga akhirnya dia bersedia memecah kebungkaman

“Kapan tiba di Kuala Lumpur?” tanya Intan mencoba memulai pembicaraan.

“Dua hari yang lalu,” jawab Budiman dengan mimik wajah datar tanpa melepaskan pandangan dari menu.

“Tugas negara?“ tanya Intan.

“Bukan,“ jawab Budiman singkat.

“Lalu?“ cecar Budiman.

“Aku ingin menemuimu,“ ucap Budiman.

“Aku mendengar bahwa besok lusa kamu akan melangsungkan pesta pernikahan,“ lanjut Budiman.

“Darimana Bang Budiman tahu akan hal ini? Pasti dari Balqis ya? “ tanya Intan dengan senyum kecilnya.

“Iya, benar!” jawab Budiman.

“Intan,” panggil .

Sejenak Intan menatapnya perlahan saat suara itu berdengung di telinganya.

“Ada apa Bang?” balas Intan.

Dia kembali terdiam, menatapnya penuh makna.

“Aku senang sekali telah mengenalmu bahkan sempat hadir dalam hatiku. Jujur, kamu adalah sosok perempuan yang yang sangat berarti dalam hidupku. Meskipun berat, tapi aku harus rela demi kebahagiaanmu..,” kata Budiman.

Semula Intan tenggelam dalam tatapan penuh makna itu. Namun semua begitu biasa ketika kalimat itu dia katakan dengan suara yang melemah.

“Maksudnya apa? Saya kurang paham apa yang kamu katakan!" ucap Intan.

Budiman terlihat seperti memendam beban perasaan yang berat, mendengar pertanyaan Intan tentang hal itu dengan memasang wajah penuh tanda tanya. Sesaat dia berpaling dari tatapannya. Kini, yang dia tahu, hatinya bergejolak tak menentu saat itu.

“Intan, dalam hatiku tersimpan suatu harapan dan impian. Namun keluh rasanya bagiku untuk menerima kenyataan ini!” kata Budiman.

Sejenak dia terdiam setelah mengatakan itu, menundukkan kepala namun kembali berkata, “Intan, aku masih sangat mengharapkan kita bisa kembali bersama. Apa kamu tidak merindukan panti asuhan Rumahku Surgaku?”

Sejenak Intan terdiam mendengar kalimat yang membuat jantungnya tak lagi berdegup menggebu. Intan berusaha untuk menguasai emosi jiwanya. Tak terbayangkan sebelumnya dalam benaknya Aisyah bahwa hari ini bahwa pemuda yang telah lama hadir dalam hatinya itu akan menemuinya dan kembali mengutarakan kalimat itu.

Lihat selengkapnya