Kicauan burung camar bersahut-sahutan di atas laut yang tenang. Ombak kecil bergulung malas, menyisir pasir pantai seolah tak pernah mengenal badai.
Dari Pelabuhan Marisini, sebuah boat patroli melaju membelah air menuju sebuah atol raksasa di kejauhan. Di sanalah sebuah perahu tampak terdampar dengan haluan penyok menghantam batu karang. Perahu itu masih mengapung, tetapi layarnya patah dan mesinnya sudah lama mati setelah sebuah ledakan yang terlalu memalukan untuk diceritakan.
Di atas geladak, dua orang laki-laki berdiri sambil mengibarkan bendera putih. Mereka adalah Bot Takin dan Piet Takin, dua anak buah yang wajahnya begitu mirip hingga orang kampung sering mengira mereka kembar. Padahal mereka sendiri lebih suka membiarkan orang salah paham daripada repot menjelaskan.
Di belakang mereka duduk seorang lelaki berjubah tebal bergaya bangsawan Spanyol. Wajahnya masih sangar, kumisnya masih gagah, tetapi nasibnya tidak lagi demikian. Tangan kiri dan kaki kanannya telah buntung, dibalut perban yang mulai kusam karena air laut.
Dialah Goen Doel.
Ia menopang dagunya dengan satu-satunya tangan yang tersisa, lalu menatap kedua anak buahnya dengan sorot mata yang lebih tajam daripada mata kail.
"Ingat!" bentaknya. "Nggak ada satu pun dari kalian yang boleh buka mulut soal kecelakaan itu!"
Bot dan Piet langsung merapat. Keduanya mengangguk patuh, meski sesekali melirik boat patroli yang semakin mendekat.
Goen Doel mengembuskan napas panjang.