Laut sedang baik hati.
Tak ada ombak yang mengamuk. Tak ada angin yang meraung. Bahkan air laut nyaris setenang kolam ikan milik lurah yang dipagari kawat berduri agar warga tidak ikut memancing.
Justru itulah yang membuat Goen Doel semakin kesal.
Menurutnya, laut yang terlalu tenang lebih menyeramkan daripada badai. Badai masih bisa dilawan. Laut yang diam hanya memberi waktu lebih lama untuk menyesali nasib.
Perahu mereka masih tersangkut di atol raksasa. Haluannya penyok seperti hidung petinju yang kalah angka. Tiang layar patah. Mesin sudah menjadi arang sejak meledak beberapa jam lalu.
Bot Takin dan Piet Takin duduk di ujung geladak dengan wajah lebih kusut daripada layar yang robek.
Goen Doel sendiri duduk di buritan. Jubah panjangnya berkibar pelan tertiup angin laut. Sebelah lengan bajunya kosong. Kaki kayunya bertumpu di papan perahu yang hangus.
Tak ada yang berani membuka suara.
Semua tahu penyebab kecelakaan itu.
Semua juga tahu siapa yang paling malu.
Seekor burung camar mendarat di pucuk tiang layar yang patah.
"Ciiiit... ciiiit..."
Burung itu berkicau panjang.
Seekor gagak hitam yang sedari tadi bertengger di pundak Goen Doel langsung menjawab.
"Kaaak... kaaak..."
Bot melirik Piet.
"Boss ngerti bahasa burung?"
Piet mengangkat bahu.
"Kayaknya burungnya yang ngerti bahasa Boss."
Goen Doel mengangkat telunjuknya.
"Ssst."
Bot dan Piet langsung diam.
Goen Doel memejamkan mata sambil mengangguk-angguk kecil seolah sedang mendengarkan rapat penting.
Burung camar kembali berkicau.
Gagak menjawab lebih panjang.
"Kak... kaak... kaaak..."
Goen Doel mendadak membuka mata lebar-lebar.
"Astaga..."
Bot dan Piet serempak mendekat.
"Ada apa, Boss?"
Goen Doel berdiri perlahan.
"Gue baru dapat wahyu."
Bot mengernyit.
"Dari Tuhan?"
"Dari gagak."
"..."
Bot dan Piet saling pandang.
Mereka memilih tidak berkomentar. Pengalaman mengajarkan, membantah orang yang baru kehilangan tangan dan kaki bukan keputusan yang sehat.
Goen Doel menunjuk gagak di pundaknya.
"Dia bilang kita harus pulang."
"Pulang?"
"Pulang kampung."
Bot menggaruk kepala.
"Buat apa?"
Goen Doel menarik napas dalam.
"Gue pensiun."
Bot dan Piet sampai berdiri bersamaan.
"Hah?!"
"Pensiun jadi bajak laut."