Daster batik dengan atasan lengan pendek dan celana selutut. Rambut cepol tinggi tak beraturan. Sapu ijuk di tangan kanan. Inilah gambaran gadis upik abu yang hendak membersihkan rumah di pagi hari. Tebakan ini tidak sepenuhnya salah karena memang ia hendak membersihkan rumahnya, tetapi bukan sebagai asisten rumah tangga, melainkan sebagai putri dari sang empunya rumah yang sangat asri di tengah desa ini. Dengan tampilannya sekarang, pasti tak akan ada yang menyangka bahwa dia anak orang have di kampung ini. Rumahnya berpekarangan luas, bangunannya kokoh dari batu alam dan batu bata merah lokal yang sengaja diekspos, warnanya dipercantik senada merah bata. Bukan hanya tampilannya yang terkesan asri, rumah berplafon tinggi itu memang sangat sejuk. Cocok dijadikan contoh untuk konsep sebuah vila peruntukan sewa yang menghasilkan cuan berkat estetikanya.
Namun intinya bukan itu! Semenjak lulus, gadis itu harus bekerja keras bersama keluarganya untuk merawat dan membersihkan setiap sudut rumah hingga pekarangan. Untung saja, ia hanya diberikan mandat menyapu rumah setiap hari dan mengepel rumah seminggu dua kali. Kata orang tuanya ini untuk menjaga kekompakan keluarga. Mereka memang memiliki asisten rumah tangga tapi hanya bertugas untuk merawat vila di samping rumahnya untuk menjamu tamu, dan membantu mereka mencuci serta menyetrika pakaian.
Usai menyapu ruang tengah, sang gadis berhenti di depan televisi. Tangan kirinya menyambar sebuah remot pada rak televisi. Tanpa ba-bi-bu ia memencet tombol yang setiap letaknya sudah ia hapal di luar kepala. Sudah kedua tangannya sibuk, kini matanya juga punya agenda tersendiri yaitu terus fokus pada layar televisi yang sudah menyala. Saluran berita nomor satu di Indonesia itu kini terpampang nyata. Suaranya telah memenuhi seluruh rumah. Volume televisi ia pasang pada level yang dapat membangunkan seisi rumah subuh ini. Masih dengan sapu yang setia ia genggam di tangan kanannya, kemudian duduk di kursi kebesaran khusus miliknya di arah jarum jam angka lima dari layar televisi.
“Dik, kecilkan volumenya, dong!” hardik pria bersarung yang baru saja keluar dari kamarnya.
Gadis yang ditegur hanya mendelik sekilas tak berminat meladeni dan melakukan apa yang diminta sang kakak.
“Itu, menyapunya diteruskan dulu. Kok, malah nonton berita?”
Lagi-lagi sang kakak belum menyerah mengganggu adiknya.
“Sudah, Kak! Biarkan saja Quinn menonton. Papa saja tidak berani mengganggunya.”
Seorang ibu yang baru saja memasuki ruang tengah segera menghentikan percikan pertikaian yang sebentar lagi pasti berubah menjadi letupan api emosi kakak beradik itu.
“Leon, ikut Papa saja keluar memanaskan motor dan mobil!”
Leon—sang kakak mencebik ke arah adiknya dan segera mengekori langkah kaki papanya tanpa memprotes. Sementara si gadis dengan sapaan Quinn itu kini tak mendengar gangguan lagi. Wajahnya semringah, tersenyum puas, dan sepenuhnya mengerahkan pendengaran serta penglihatannya pada layar kaca.
Wajah seorang pewarta alias news anchor alias anchor-nim, terpampang nyata di layar kaca sebesar 50 inci. Wajah yang tampan rupawan itu sedang menyampaikan kabar pagi ini dengan sangat lancar dan jelas. Vokalisasinya yang baik membuat Quinn tak banyak berkomentar seperti saat menonton acara berita lain yang terkadang pelafalan kata demi katanya tidak jelas. Quinn hanya menampakkan wajah puas dan kagumnya pada sang anchor-nim, julukan yang Quinn berikan khusus, ala orang Korea katanya.
“Saya Niskala Lingga beserta kru yang bertugas, pamit undur diri. Terima kasih dan sampai jumpa!”
Jingle penutup berita pagi ini terhenti karena Quinn bergegas mematikan televisinya. Ia segera menaruh pengendali jauh televisi dan kembali meneruskan aktivitasnya—menyapu rumah.
Sudah dua tahun ini Quinn terus mengulang rutinitasnya. Setiap hari ia putar saluran televisi berita nasional. Awalnya bahkan lebih parah. Quinn memutar saluran itu hampir 1x24 jam per tujuh hari, tetapi untungnya sejak enam bulan terakhir, ia hanya memutar saluran berita ini setiap pagi. Kenapa? Tentu saja karena dulu, idola favoritnya masih menjadi reporter lapangan yang bisa kapan saja mejeng di layar kaca. Namun kini, ia sudah menjadi news anchor tetap untuk berita pagi. Jadi tentu saja Quinn sudah cukup menonton saluran itu pada pagi hari saja.
Senandung ringan terdengar hingga dapur dan mengundang mamanya untuk menghampiri Quinn. “Bagaimana beritanya? Bagus?”
“Bagus banget, Ma! Aku puas,” ujar Quinn singkat. Quinn masih terus mengarahkan debu dan kotoran menuju ke arah pintu depan dengan sapunya.
“Yang bagus itu, beritanya atau penampilannya? Mama kok, malah ngeri lihat beritanya tadi,” mamanya menggelengkan kepala.
Quinn tersenyum lebar hingga gusi merah mudanya terlihat jelas oleh lawan bicaranya. “Iya, sih. Profesionalitas dan penampilannya yang bagus maksud Quinn,” koreksinya cepat.
“Awas jangan terlalu larut! Cukup kagumi saja,” peringat Anindita—Mama Quinn.
Mendengar nasihat tulus sang mama membuat Quinn tertegun sejenak. Apa yang dikatakan Mamanya memang tidak salah, cukup kagumi saja. Quinn menganggukkan kepalanya dengan yakin, perasaan yang ia miliki hanya sebatas penggemar dan idolanya. Idola yang sejak lama ingin ia gapai. Namun ia sadar betul, dirinya dan Lingga mana mungkin bisa bersatu.
***
Sejak ia ditegur Anindita untuk tidak terlalu larut dalam perasaan kagumnya, Quinn banyak merenung. Harinya pun ikut mengabu, sama seperti langit yang rasanya agak kelabu terbawa angin yang bertiup menggebu. Meski begitu, ia tetap profesional dan bekerja memeriksa sawah seperti biasanya. Hari ini adalah hari yang sangat penting sebelum memanen padi pekan depan. Akhir-akhir ini angin cukup kencang sehingga mereka harus ekstra memperhatikan sawah mereka, berjaga jika tetiba ada hewan atau serangga yang terbawa angin menjadi bintik hama di sawahnya.
Quinn melajukan sepedanya perlahan sambil menyapa para petani yang bekerja di lahan sawahnya. Mereka membersihkan rumput-rumput liar yang tak diperlukan untuk kelangsungan pertumbuhan padi. Namun ada juga petani yang mencari keong sawah, selain agar tak menjadi hama bagi padi, ini juga menjadi pekerjaan sambilan para petani. Banyak di antara mereka yang menjual keong sawah ke pasar dalam keadaan mentah maupun yang sudah mereka masak. Quinn tak melarang, justru mendorong para petani yang bekerja dengannya untuk memiliki usaha tambahan. Jika saat ini membiarkan mereka mencari keong sawah di lahannya berarti sedikit membantu para petani menghasilkan uang lebih, maka dengan senang hati ia mengizinkan mereka. Dengan catatan, tanpa merusak struktur sawah dan hanya berburu keong di sepanjang pematang.
Cuaca yang cukup berangin tak menyurutkan niat Quinn untuk mengitari seluruh lahan sawah keluarganya yang mencapai ribuan are. Ya, awalnya lahan mereka hanya seluas 100 are atau 1 hektare. Tetapi berkat ketekunan ia dan keluarga, kini mereka memiliki puluhan hektare sawah, termasuk yang Quinn beli sendiri dengan tabungannya. Bisa dikatakan, cita-cita Quinn memang menjadi juragan sawah sudah terwujud. Apalagi sekarang ia dipercaya orang tua dan kakaknya untuk mengelola lahan mereka mulai dari masa penanaman, panen, hingga ke tahap pemasaran dan penjualan. Dan tentunya Quinn sangat menikmati pekerjaannya.
Quinn sampai di sebuah gubuk kecil di pinggiran sawahnya. Segera ia turun dari sepeda lalu memarkirkan sepedanya. Jaketnya ia rapatkan dengan amat rapi, takut angin yang berembus merasuk menembus tubuhnya. Nanti masuk angin jadinya. Jika iya, sangat berabe. Nanti panen, siapa yang memandori.
“Non Quinn, sarapan sini!” tawar salah seorang petani di gazebo.
“Terima kasih, Bu. Tadi sudah sarapan,” Quinn tersenyum simpul.
Lalu ia mengobrol dengan para petani. Bertanya dengan sangat detail soal kondisi padi sekarang. Dulu, Quinn kira mengelola sawah cukup mudah karena sudah ada alat-alat yang canggih macam alat bajak sawah, pesawat nirawak penebar pupuk, dan alat pemanen padi automatis. Nyatanya setelah ia terjun langsung, banyak sekali hal yang harus dilakukan tanpa alat. Dari mulai penyemaian padi, menanam padi, menyemprot pupuk terpilah, menyemprot antihama organik, membersihkan sawah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Hal terpenting adalah semua itu butuh berkomunikasi dengan alam. Menyelaraskan masa tanam dengan cuaca, mengharmonisasi doa dengan tembang saat menanam, memuliakan semua makhluk hidup yang ada di ekosistem sawah, di tengah tuntutan menyemprot antihama dan target panen. Sungguh, semua itu tidak mudah.
Sejak lulus dan memutuskan mengurus lahan sawah keluarga, Quinn pun paham betul seberapa besar jasa para petani untuk banyak manusia. Saat semakin paham, semakin kesal pula saat ia melihat banyak orang yang menyisakan bahkan membuang nasi dari piring mereka dengan sia-sia. Namun setidaknya itu jarang ditemuinya di desa. Setidaknya, nasi sisa kemarin bisa diubah menjadi rengginang atau minimalnya menjadi pakan ayam atau bebek di pekarangan masyarakat desa.
Sembari mendengarkan cerita humor para petani, Quinn memandangi padi yang kian hari kian merunduk, menunjukkan betapa subur tanaman padinya. Sontak ia teringat dengan pepatah seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Katanya jadi manusia itu harus seperti padi, semakin tinggi ilmu semakin rendah hati. Tapi terkadang Quinn bertanya-tanya, apakah mereka tahu bahwa semakin tinggi padi, meski semakin merunduk, tetap tajam juga daunnya. Tak jarang daunnya melukai meski hanya sedikit tersentuh. Stop! Quinn berhenti berpikir hingga di situ. Ada hal lain yang saat ini lebih penting yaitu notifikasi cerita terbaru dari akun media sosial idolanya.
lingganiska membuat cerita baru.
Gegas Quinn membuka status pria itu. Semangat ‘45 jelas terlihat membara. Hingga tak lama, bara semangatnya padam oleh tiupan kecil rasa cemburu. Lingga menandai sebuah akun yang juga tak asing bagi Quinn, yaitu akun milik Sisilia Saviera. Perempuan yang telah menjadi tambatan hati Lingga sejak mereka di bangku kuliah tingkat akhir.