Gedung tinggi bertingkat 20 itu tak pernah tidur. Seperti saat ini, gedung tetap terang benderang meski waktu telah menunjukkan pukul 00.30. Bahkan mungkin bukan mereka—para penghuni yang terjaga hingga larut, tetapi memang mereka memulai hari jauh lebih awal dari kebanyakan manusia lain. Salah seorang penghuni yang memang harus bekerja sejak tengah malam adalah Niskala Lingga atau yang lebih sering dikenal dengan nama Lingga. Pria itu baru saja sampai di lantai 10 di mana ia bekerja.
Saat keluar dari elevator, Lingga langsung disambut kubikel meja yang tak semuanya terisi karena mereka bekerja pada shift yang berbeda. Ada yang lampu mejanya menyala, ada juga yang mejanya telah rapi dan sepi karena pemiliknya berada pada shift lain. Sebenarnya ini masih tahun pertamanya bertugas sebagai pewarta berita pagi yang tayang pada pukul 5.30 hingga pukul 7.00. Maka sudah tentu ia harus datang bekerja sejak dini hari untuk menyusun naskah berita yang akan ia bacakan. Ia masih mengenakan celana kain dengan kaus polo berwarna coklat, lalu dengan sigap segera menghampiri ruang di sebrang meja kerjanya. Ruang itu adalah ruang kostum. Saat masuk ia kontan menyapa para perias dan penata busana. Di sana juga sudah duduk cantik seorang wanita yang tak lain adalah rekan kerjanya yang akan membawakan berita pagi ini.
“Hai, Ga!” sapa wanita itu ramah. “Sudah sarapan?” tanyanya. Ia sedang memegang kotak bekal berisi salad sayur, hendak menawari Lingga makan.
“Hmm … sarapan belum, tapi tadi makan malam agak telat. Jadi, aku masih kenyang.”
“Oke, kalau begitu.”
Mereka pun duduk manis sambil membuka gawai tablet mereka untuk membahas naskah berita. Lingga membuka surel dari tim redaksi inti dan segera membahasnya dengan Fahira—rekan kerjanya. Lingga dengan cepat membaca naskahnya lalu memberikan beberapa masukan dan ide pembagian bacaan. Tak lama seseorang masuk ke ruangan mereka. Ia membawakan dua salinan naskah yang baru saja Lingga dan Fahira edit bersama melalui aplikasi pengolah kata daring. Bersamaan dengan cetakan naskah diberikan, riasan mereka pun sudah selesai. Gegas Lingga dan Fahira keluar dari ruang kostum itu lalu menuju ke lantai atas untuk menemui pimpinan redaksi mereka.
“Pak Malik akan segera pensiun, ya?” tanya Fahira saat mereka keluar lift.
“Kalau berdasarkan umur, iya. Tapi sepertinya, Pak Malik masih akan jadi pimpinan kita untuk sementara waktu.”
Bukan tanpa alasan, Lingga berkata demikian karena ia tahu persis bagaimana semangat juang seniornya itu. Lagi pula usia 60 tahun belum tua baginya. Banyak sekali profesor dan dosen yang baru pensiun di atas usia 65 tahun. Pak Malik sudah seperti profesor dalam bidang jurnalisme. Maka, seharusnya ia masih akan terus menjadi pemimpin redaksi di sini, bukan? Bisa dilihat dari dedikasinya yang bahkan di waktu dini hari seperti ini ia masih menyempatkan diri untuk langsung meninjau naskah yang akan diberitakan. Walau tidak selalu, tetapi dalam sepekan pasti Pak Malik akan datang langsung meninjau.
Lingga mengetuk pintu kaca ruangan pemimpin redaksi. Pada detik yang sama pemilik ruangan mengangguk dan menyilakan mereka masuk. Tidak seperti namanya yang sama dengan malaikat penjaga pintu neraka, Pak Malik adalah sosok yang bersahaja. Terbukti, Lingga yang dikatakan masih sangat amat junior dalam industri ini, selalu dianggap sejawat oleh Pak Malik. Masukan dan saran yang Lingga utarakan tak pernah dianggap remeh. Ia sering memuji Lingga dan teman seangkatannya. Tetapi saat mereka salah dan butuh perbaikan, tentu Pak Malik akan sangat tegas mengoreksinya. Sama seperti saat ini.
“Naskah hari ini yang duluan susun bahan awal, itu tim redaksi?” tanya Pak Malik di balik mejanya.
Lingga dan Fahira mengangguk.
“Tapi bahan yang ini akan sedikit kurang sesuai dengan gaya pembawaan kalian berdua kalau kalian tetap melakukan seperti biasanya,” ujarnya serius. “Apa Lingga tidak keberatan soal pergantian ini?”
Pergantian yang Pak Malik maksud adalah tugas menghubungi reporter lapangan atau bicara dengan narasumber pada saat siaran nanti. Biasanya bicara dan tanya-jawab dengan reporter lapangan akan dilakukan oleh Lingga. Tetapi karena bahan beritanya berkaitan dengan isu tentang kekerasan pada perempuan, kiranya simpati dan empati akan lebih terasa jika yang melakukan telewicara dengan narasumber adalah Fahira.
“Tidak apa, Pak,” ujar Lingga tak keberatan. “Jika saya yang ditugaskan mewawancara tentu saya akan sangat berhati-hati. Tetapi jika seperti yang Bapak sebut bahwa dengan bertukar akan lebih terasa simpati dan empatinya, saya tidak keberatan dengan pengaturan baru.”
Fahira pun mengutarakan idenya. “Kalau menurut saya, kami berdua bisa melakukannya bersama, Pak.”
Kedua orang di hadapannya lantas menatap Fahira lekat.
“Maksud saya, kalau hanya saya yang mewawancarai dengan durasi yang tadi diberitahu sutradara selama 10 menit, khawatir saya akan emosional. Jadi, saya kira ini bisa menjadi bagian kami berdua, Pak.”
Fahira menatap ragu pada Pak Malik dan Lingga secara bergantian.
“Baiklah, nanti kalian atur lagi teknis pertanyaan yang mana yang bagian siapa,” Pak Malik memutuskan. “Good luck untuk kalian berdua, ya! Semangat!”
Pak Malik pun mengakhiri sesi meninjaunya. Ia juga pamit pulang serta mengingatkan bahwa ia tetap akan memonitor Lingga dan Fahira dari rumah. Sementara Pak Malik tetap di katrol kubus menuju lantai dasar, Lingga dan Fahira keluar lebih dulu di lantai 10.
Tanpa terasa ternyata waktu berlalu begitu cepat. Lingga sudah siap dengan pakaian set jasnya. Ia sudah bersiap di studio. Tak lupa ia membawa pulpen dan air minum yang biasa ia taruh di bawah meja.
“Lima menit lagi kita on air,” ucap sutradara lewat in-ear monitor.
Lingga mengangguk paham. Ia juga terus menghapal naskah dan memastikan remote prompter bekerja dengan baik.
“Siap, rolling and action!” sutradara berseru.
Siaran langsung pagi itu pun dimulai.
***
Sudah beberapa hari ini Quinn merasa hampa di pagi hari. Bukan karena pekerjaan rumahnya berkurang, tetapi hiburan hariannya lah yang tiada. Bisa dibilang, ia seperti robot tanpa jiwa yang kini hanya menyapu dan mengepel tanpa binar mata.
“Kak, Adik kenapa?” tanya Anindita heran.
“Gejala putus cinta itu, Ma,” jawab Leon tak acuh.
Si anak sulung itu terus melanjutkan sarapannya tanpa menoleh pada sang adik yang sedang jadi fokus pikiran ibunya. Anindita yang akrab disapa Dita itu pun hanya menepuk gemas lengan Leon lalu kembali fokus pada hidangannya.
Sebetulnya Leon tahu apa yang menyebabkan sikap aneh adiknya itu. Tapi ia memilih diam dan membiarkan adiknya memutus gejala sakau nonton berita paginya. Ini demi kebaikan Quinn. Ia tak ingin Quinn cinta buta pada seseorang yang bahkan tidak mengenalnya dengan baik. Sudah cukup Leon yang merasakan pahitnya cinta sepihak. Tak perlu adiknya ikut merasakannya. Sebelum Quinn terjerat lebih dalam pada perasaan yang belum tentu bisa ia atasi kelak. Lebih baik diputuskan saat ini juga.
Tak lama sang kepala keluarga juga ikut bergabung di meja makan. Dia juga langsung melihat putri semata wayangnya yang sedang duduk lunglai di sofa depan televisi.
“Adik kenapa, Ma? Enggak nonton berita pagi lagi?” Rian—Papa Quinn bertanya tanpa dosa.
“Uhuk-uhuk!” Leon mendadak tersedak. “Pa ...” geramnya.
Dita hanya menggeleng, mengisyaratkan agar suaminya tidak bertanya lebih jauh lagi.
Sementara tiga orang di meja makan memperhatikannya, yang diperhatikan justru tak peduli sedikit pun. Ia hanya terdiam sambil menatap langit-langit yang rasanya kian menjauh, sama seperti lelaki pujaan hatinya yang perlahan menjauh. Sebenarnya ini adalah kabar baik baginya karena berarti ia mulai melupakan Lingga. Ya, mulai melupakan Lingga. Semoga saja.
Kenyataannya, semakin ia mencoba melupakan Lingga, semakin ia ingin melihat wajah tampan pria itu. Quinn tak pernah menyangka gejala putus cintanya akan sangat menyiksa seperti ini.
Aku bahkan belum berpacaran dengannya. Tapi rasa sakitnya sudah separah ini.
Quinn tak habis pikir, bagaimana bisa orang lain dengan mudahnya berganti pasangan, saat dirinya justru sulit melupakan orang yang bahkan tidak pernah berkomunikasi dengannya? Jujur saja, si culun dunia percintaan ini hanya bisa mengikuti saran dokter cinta amatiran alias kakaknya untuk bisa beranjak dan membuka lembaran baru.
Sebelum tenggelam lebih jauh pada pemikirannya yang mulai mempertimbangkan terapi hipnotis untuk melupakan Lingga, Rian mendekat dan membuyarkan lamunannya.
“Dik …” panggil Rian lembut.
“Iya, Pa?” tanyanya tanpa menoleh.
“Papa ada pekerjaan baru buat Adik,” ujar Rian menarik perhatian Quinn.
Quinn segera duduk tegak, bersemangat, dan menghadap Rian sepenuhnya. “Pekerjaan baru apa, Pa?”
Sepertinya hilal hari-hari baik mulai terlihat. Jiwa profesionalnya terpanggil dengan mudah. Hanya satu jawaban pengalihan yang kini tersedia, menyibukkan diri meraup pundi uang untuk ditabung demi masa depan. Quinn yakin bisa melakukannya.
“Minggu depan Papa ada rapat sama klien dari pabrik cabai, tapi minggu depan juga Papa diundang untuk ikut lelang tender beras di Jakarta.”
Keluarga Quinn memang bergerak di bidang pertanian, dan pertanian itu bukan hanya soal sawah tetapi juga bercocok tanam sayuran lainnya. Namun memanh komoditas terbesar yang mereka produksi adalah cabai karena paling mudah dipasarkan dan dapat diawetkan.
“Quinn mau!” seru Quinn cepat. “Tapi ada satu masalah, Pa.”
“Soal panen padi?” Rian menebaknya. “Tenang aja, ada Paman Zayid yang nanti urus. Kau tak perlu khawatir. Lagi pula kita hanya sehari di sana. Panen tetap bisa kau monitor langsung.”
Selain cabai, keluarga Quinn juga memiliki kebun pala yang sangat luas yang bisa menghasilkan pala berton-ton setiap tahunnya. Komoditas pala inilah yang dikelola oleh pamannya—adik dari Rian yang bernama Zayid. Mereka dua bersaudara lah yang mewarisi usaha pertanian dari kakek dan nenek Quinn dari pihak ayah. Selain pala, Zayid juga tentu memiliki lahan sawahnya sendiri yang tak kalah luas dengan sawah atas nama Rian. Tentu Zayid juga akan memanen padinya di periode yang sama dengan masa panen lahan Quinn. Maka, memonitor panen padi sangat bisa dibantu oleh pamannya.
“Ada masalah lain?” tanya Rian lagi.
Quinn menggeleng cepat sembari tersenyum simpul. Ia senang memiliki kegiatan baru yang bisa memecah rutinitasnya. Setidaknya ini akan menambah daftar hal yang harus ia pikirkan dan lakukan sehingga porsi Lingga akan semakin berkurang di dalam benaknya.
***
Quinn sudah bersiap sejak pukul empat subuh. Ia sengaja bersiap lebih pagi agar nanti tidak terlambat sampai di tempat pertemuan meskipun macet melanda. Rian yang juga harus mengantar Quinn terlebih dulu sudah pasti membutuhkan waktu yang lebih leluasa. Maka satu-satunya cara adalah dengan berangkat lebih pagi.
Saat Quinn hendak membawa sepatunya ke teras, Quinn dikejutkan oleh sesosok pria yang tetiba mengadangnya tanpa bersuara.
“KAKAK!” Quinn spontan memekik. “Sedang apa berdiri di situ? Jantungku hampir copot!”
“Jangan terlalu berlebihan, deh!” Leon mendengus. “Kau yang tidak memperhatikan.” Leon hanya mengibaskan lengannya tak acuh.
“Kenapa kau bangun sepagi ini?” Quinn masih kesal.
“Kenapa kau tidak pergi menggunakan kereta cepat, Quinnirene Tunggadewi?” gemas Leon.
Quinn mengangkat sebelah alisnya.
“Papa sudah pesan,” Rian datang memecah perdebatan.
Quinn melotot tidak percaya. Bisa-bisanya papanya tidak memberitahunya soal ini. Pantas saja Rian sangat santai sementara dirinya bersicepat sudah mirip kelinci yang ciling-cingcat, berlari ke sana, berlari kemari, tanpa diberitahu siapa pun bahwa ia akan pergi menggunakan kereta cepat.