BALADA QUINN

NUN
Chapter #3

Bab 3 : Sang Manajer

Hari tak lagi berangin, namun awan hitam masih tergantung di langit, seolah enggan menurunkan rintiknya ke bumi menyebabkan udara lembab dan hangat terjebak di sekitar desa. Dengan hawa ngelekeb ini, Quinn bersama para petani masih giat di sawah, memanen padi. Meski tubuh dan raganya giat beraktivitas memonitor dan sesekali membantu langsung mengemas padi yang sudah luruh dari pohonnya ke dalam karung, tetapi isi pikirannya mengawang terbang entah ke mana.

“Non Quinn sakit?” tanya seorang petani. Mereka cemas melihat kondisi Quinn yang seperti ini sejak pagi. Mereka mengira Quinn lelah karena kemarin ia sudah bepergian jauh ke Jakarta.

“Enggak kok, Bu. Aku cuma sedikit cape,” ujarnya merasa tak enak.

“Istirahat saja kalau begitu. Jangan ikut panas-panasan di sini, Non. Tunggu saja di gazebo,” saran petani yang lain.

Para petani khawatir akan kondisi Quinn akan diperparah oleh cuaca saat ini.

“Bu Sri, tolong ajak Non Quinn ke gazebo saja.”

Sri yang dipanggil pun segera menoleh dan melihat Quinn yang terdiam lesu. Sri adalah salah satu petani yang sudah sangat lama mengikuti keluarganya sehingga lebih dekat dengan Quinn. Karena itulah petani yang lain meminta Sri untuk membawa Quinn istirahat.

“Ayo, Non!” Sri memapah Quinn perlahan.

“Enggak apa-apa, Bu. Quinn baik-baik saja.”

Meski sempat mengelak, namun ia akhirnya menerima uluran tangan Sri. Quinn duduk di gazebo lalu diberikan segelas air di cangkir kaleng oleh Sri.

“Non sedang cape, lebih baik pulang lebih dulu. Di sini gak apa, biar kami yang bereskan. Lagi pula ini tinggal sebentar lagi. Yang belum dipilah akan kami ikat seperti biasa.”

“Tapi sedekah bumi harus ditunda lagi dong, Bu,” Quinn menghela napas.

Di desa Quinn tinggal terdapat sebuah tradisi sedekah bumi yang biasa dilakukan saat panen. Biasanya tradisi ini dilakukan di hari pertama petani panen sambil bernyanyi dan memuji nama Tuhan Yang Maha Esa. Namun kemarin, Quinn tidak ada di sini sehingga tradisinya harus diundur. Meski sebetulnya bisa saja Quinn tidak perlu hadir, tetapi Quinn memiliki kebiasaan untuk selalu hadir saat sedekah bumi. Ia merasa keselarasan dengan alam terutama tanah yang sudah bersedia bersama-sama menanam padi dengan manusia, harus dijaga dengan baik. Bukan untuk berlaku sirik, tetapi menjalin hubungan dengan sesama makhluk Tuhan di alam semesta ini, baginya adalah sebuah keharusan. Saat alam bekerja sama dan mau memberi manusia tempat untuk bercocok tanam, maka manusia juga harus menghargainya dengan memuji nama Tuhan sambil berdoa di atas tanah yang menghasilkan banyak bahan pangan ini.

“Biar sama Papa saja, Quinn,” suara Rian menenangkannya. “Papa sama Mama di sini, Quinn pulang dulu saja. Bagian bawah sudah selesai dipanen, jadi Papa sama Mama bisa di sini.”

Quinn pun menuruti ucapan papanya.

“Mama tadi sudah pesan nasi padang. Nanti diantar ke rumah. Biar nanti Quinn siapkan saja air untuk para petani di meja teras yang sudah disiapkan,” titah Anindita.

“Oke, Ma.”

Sementara Quinn pulang para petani lanjut menyelesaikan mengikat padi yang belum sempat digebuk dan dipilah. Satu ikatan padi ini juga biasa disebut sapocong. Biasanya mereka memang membuat ikatan-ikatan ini untuk selamatan dan sedekah bumi. Namun kali ini, mereka memang sengaja membuat lebih banyak ikatan karena panen padi di musim ini sangat melimpah.

Usai dengan panen, padi-padi itu pun akan dibawa ke gudang padi milik Quinn yang berlokasi tak jauh dari rumahnya. Gudang padi itu disebut masyarakat sekitar Leuit Ratu. Leuit yang berarti tempat menyimpan padi dalam bahasa Sunda, didirikan seperti rumah panggung dengan atap jerami segitiga sama kaki, namun dengan pintu kecil yang hanya muat untuk satu orang yang bertugas merapikan padi yang sudah diikat rapi di dalam bangunan itu. Sementara nama Ratu disematkan sebagai tanda bahwa itu adalah lumbung padi milik Quinn.

***

Hari ini Quinn terlihat lebih bernyawa, Pipinya menemukan kembali ronanya. Matanya menemukan kembali sinarnya, bak orang yang 180 derajat berbeda dengan kemarin. Usai berdoa bersama, kini tiba saatnya untuk inventarisasi jumlah padi.

Quinn cukup bersemangat. Terbukti ia sudah sigap berdiri di depan Leuit Ratunya dengan PC tablet di tangan. Hari ini Quinn harus menghitung jumlah ikatan padi yang hendak dimasukan ke lumbungnya. Ia harus melakukan perhitungan dan perbandingan antara panen yang lalu dengan panen kali ini. Ini adalah keempat kalinya Quinn menjadi “manajer tani.” Sejak ia lulus kuliah dua tahun lalu ia sudah mulai membantu papa dan mamanya melakukan manajemen pertanian.

Sejak saat itu, Quinn dipercaya penuh untuk mengambil alih posisi manajer operasional lapangan di sawah. Sementara Rian dan Anindita lebih banyak fokus di kebun cabai.

Saat ini di usianya yang menginjak 25 tahun, Quinn sudah berhasil melakukan pengaturan lahan sawahnya hingga empat kali panen dengan rasio gagal panen yang sangat rendah. Dari mulai penyemaian hingga panen dan penjualan, Quinn turun tangan langsung. Ia juga menjadi pioneer “beras tani” di desanya. Di tahap penjualan beras, ia biasa memberikan diskon hingga 50% dari harga pasar untuk para petani yang bekerja di lahannya serta masyarakat lain yang satu desa dengannya. Pada musim panen seperti ini ia juga selalu memberikan diskon khusus untuk para pembeli yang memiliki KTP di kecamatan tempatnya tinggal.

Sejak ia kecil ia sering memperhatikan bahwa para petani yang bekerja keras dengan sistem upah harian maupun sistem gaji, banyak yang dirugikan. Mereka bekerja keras untuk menanam padi, tapi mereka juga harus kembali membeli beras untuk makan sehari-hari dengan harga yang mahal.

Ada juga sistem tani bagi hasil atau di desa Quinn disebut dengan sistem paro. Bagi hasil ini disepakati oleh pemilik lahan sawah dan penggarap sawah pada saat awal masa tanam. Mereka akan membagi dua hasil panen sawahnya, 50:50 untuk pemilik dan penggarap sawah. Sistem ini memang bisa menjamin petani memiliki ketahanan pangan dalam bentuk beras. Hanya saja lemahnya sistem ini membuat petani harus banting tulang mencari uang dari pekerjaan yang lain untuk hidup sehari-hari.

Lihat selengkapnya