BALADA QUINN

NUN
Chapter #4

Bab 4 : Gulai Tunjang

Meja telah penuh dengan hidangan khas Padang yang diantar dengan cepat ke ruangan privat ini. Mata Quinn langsung tertuju pada gulai tunjang yang sangat berkilauan. Ia hendak menyendoknya namun disergah oleh Dita.

“Tamu belum datang, jangan dulu makan, Dik,” Dita menegur tegas.

Quinn memanyunkan bibirnya. Ia sudah kelaparan bukan main setelah banyak menggunakan otaknya untuk berhitung saat berdiskusi tadi dengan Nurmawan. Tapi kini saat makanan sudah merayunya kuat di hadapan, ia justru harus menahan godaannya.

Ke mana saja pria itu? Jam karet final boss, Quinn merutuk dalam hati.

“Sabar, Dik. Ini salah siapa yang mengundang dadakan?” Rian ikut menegur.

Quinn sudah tahu, ia pasti akan dinasihati maksimal selama perjalanan pulang nanti. Maka dari itu, selain untuk meredakan rasa laparnya, ia juga harus makan sebanyak mungkin untuk cadangan energi guna menerima dan memproses nasihat kedua orang tuanya.

Untuk mengisi waktu kosong Quinn pun mempertimbangkan untuk menyatakan rasa penasarannya. Meskipun ia tak yakin kedua orang tuanya akan menceritakan yang sebenarnya untuk menjawab rasa penasaran ini. Quinn memang tidak yakin sepenuhnya, tapi sebagian instingnya menyatakan bahwa ada sesuatu yang ditutupi Rian dan Dita dari dirinya. Tapi tak ada salahnya bertanya, bukan? Mumpung ada kesempatan, sebaiknya dimanfaatkan sebaik mungkin. Kalaupun pada akhirnya tak mendapat jawaban, ia pun tak rugi apa-apa.

“Sebenarnya ...” buka Quinn pelan. “Kak Rayn itu siapa? Katanya keluarganya berhubungan baik dengan keluarga kita. Tapi Quinn tak pernah dengar mereka disebut,” Quinn terheran. “Dia juga bilang temannya Kak Leon, apakah itu benar atau hanya bualannya saja?”

Bertepatan dengan pertanyaan yang ia pikir matang-matang itu menyembur, tetiba langkah kaki penuh percaya diri seseorang yang mendekat ke meja mereka mengalihkan perhatian Rian dan Dita.

“Itu karena Quinn tidak pernah keluar menemui tamu yang datang sejak Kakek dan Nenek Quinn masih ada, hingga sekarang.”

Jawaban yang Quinn inginkan, benar saja tak ia dapatkan. Quinn memutar bola matanya dan langsung dihujam pelototan oleh kedua orang tuanya.

“Dan aku tidak membual, aku memang berteman dengan Leon. Kami sekamar di asrama saat SMA,” jelasnya santai. “Apa kabar, Om dan Tante?” Rayn menyalami keduanya.

“Alhamdulillah, kabar baik,” jawab Dita. “Maaf kami kabari mendadak, Nak Rayn.”

“Gak apa, Tante. Lagi pula ini salah Rayn juga yang lupa bertukar nomor dengan Quinn.”

Quinn menyeringai mendengar ucapan Rayn. Kelihaian Rayn dalam mencuri hati kedua orang tuanya memang patut diacungi jempol. Ia yang sejak lahir mengenal orang tuanya, tak pernah semudah itu mengundang simpati Rian dan Dita.

“Bagaimana kabar orang tuamu?” giliran Rian yang bertanya. “Om sudah lama tidak bertemu sejak mereka pindah.”

Walau dengan tubuh yang enggan beradaptasi dengan atmosfer ruangan, namun Quinn tetap memusatkan telinganya pada obrolan mereka. Tak rela kehilangan sedikit pun informasi yang bisa memenuhi tangki penasarannya.

“Iya, Om. Papa dan Mama memang sedang menikmati kehidupan mereka di Bali. Jadi semua urusan di Jakarta harus saya yang menangani,” ujar Rayn lirih.

Quinn menyeruput jus sirsaknya sembari pura-pura terpaksa mendengarkan kisah Rayn. Padahal aslinya memang kepo maksimal.

“Yang penting papamu sudah sembuh sekarang,” Dita mencoba menghibur.

Rayn tersenyum tulus mendengarnya. Rian yang melihat suasana sudah mulai haru pun mengambil inisiatif untuk memecah fokus agar tak terlalu emosional.

“Ayo, kita makan!” Rian akhirnya menyilakan.

Momen yang Quinn tunggu sejak purbakala pun akhirnya datang. Ia segera menyendok gulai tunjang dan mengambil beragam sayuran hidangan pendamping. Daun singkong dan nangka tentu tidak boleh terlewatkan.

Dita berdeham dan melirik Quinn dengan tajam. Quinn yang menyendok makanannya lebih dulu sebelum Rayn, terpaksa menyerahkan piring yang sudah penuh makanan itu kepada Rayn.

Rasa terima kasih sialan ini! Quinn meloloskan rutukan dalam hati.

“Suka gulai tunjang, Kak?” tanyanya mencoba ramah.

Rayn dengan senang hati mengangguk lalu menerima piring makanannya. Namun anehnya piring itu tidak ia letakkan di hadapannya, melainkan ia simpan tepat di depan Quinn.

“Gak apa, Tante. Biar Quinn duluan. Saya bisa ambil sendiri,” tolak Rayn dengan halus.

Oh, punya hati juga dia!

“Terima kasih, Kak! Ayo, makan! Gulai tunjang di sini yang terbaik,” bisik Quinn.

Rian dan Dita hanya menggeleng kepalanya. Putri bungsu mereka ini memang terkadang sulit ditebak.

Rayn menyendok gulai tunjang sesuai saran Quinn. Ia juga memperhatikan cara Quinn memakannya yaitu membalut tunjang, sedikit nasi, dan Nangka yang sudah ia potong kecil dengan daun singkong rebus kemudian diberi sedikit kuah gulainya, terakhir ia mencelupkannya ke sambal hijau. Sesuap besar bungkusan tunjang itu Quinn lahap dengan sangat nikmat. Rayn pun tergoda untuk mengikuti cara makan Quinn, dan benar saja gulai tunjang ini memang sangat enak, pekat bumbu tapi tidak berlebihan serta lembut dan mudah dikunyah.

Quinn juga tak melewatkan pemandangan Rayn yang sangat menikmati makanannya. Melihat Rayn menikmati hidangan persis seperti caranya, membuat Quinn tersenyum simpul. Ternyata menyenangkan saat ada orang yang satu selera dengannya.

Bisa diajak kulineran, nih. Namun batinnya itu langsung ditepis Quinn dengan gelengan kuat. Ia heran kenapa pikirannya bisa melompat jauh ke arah sana. Segera ia enyahkan semua bayangan dan kata-kata barusan.

“Enak banget kan, Kak, gulai tunjangnya?” Quinn bertanya usai menandaskan piringnya.

Ia tetap sangat senang cara makannya dinikmati juga oleh orang lain.

Lihat selengkapnya